Asap tipis mengepul dari cangkir kopiku. Di seberang meja, butiran embun menempel di sisi gelas es kopi milik Kak Warna.
Kami melanjutkan obrolan di sebuah kafe kecil di sebelah gedung kantornya. Tempat itu bernama Entre Nous, sebuah kafe bergaya Prancis dengan interior yang elegan.
Aku tidak tahu apa arti namanya. Cara membacanya saja aku tidak yakin.
Namun, sepertinya Kak Warna sudah cukup sering datang ke sini. Pelayan yang menyambut kami mengenalnya dan bahkan tahu kopi yang biasa dia pesan.
“Jadi, mulai besok kita tetanggaan, dong?” tanya Kak Warna dengan antusias setelah aku menceritakan kepindahanku ke Jakarta dan pekerjaanku di kantor pusat.
“Aduh, iya lagi.” Aku menghela napas pura-pura berat. “Bosan, deh, ketemu Kak War setiap hari.”
“Wah, kurang ajar, ya, sama yang lebih tua.”
Kak Warna mengangkat kepalan tangannya, berpura-pura hendak memberiku bogem mentah.
Aku langsung mengangkat kedua tangan.
“Hahaha... iya, iya. Ampun, Kanjeng Ratu.”
“Mana pacarmu? Nggak ikut pindah ke Jakarta?” tanya Kak Warna, membalas godaanku.
“Nggak ada, Kak. Aku nggak punya pacar.” Aku menyandarkan tubuh ke kursi dengan gaya sok percaya diri. “Sudah aku putusin semuanya.”
“Preeet.” Kak Warna memutar matanya. “Ada juga kamu yang diputusin.”
Kami langsung tertawa bersama.
Tanpa terasa, langit di luar sudah mulai gelap. Setelah menghabiskan minuman, kami pun memutuskan untuk pulang.
Kak Warna menawarkan tumpangan dengan mobilnya, tetapi terpaksa kutolak. Aku datang menggunakan motor Bapak.
Bapak bisa mengamuk kalau motornya kutinggalkan sembarangan.
Seharusnya tadi aku naik ojek saja.
Aduh, menyesal juga jadinya.
Aku bergegas pulang dengan mengendarai motor Bapak. Sepanjang perjalanan, aku masih berandai-andai bagaimana jadinya kalau tadi aku tidak membawa motor.
Sesampainya di rumah, kulihat motor Kak Dino sudah terparkir di depan.
Wah, ini saatnya memberinya kejutan.
“Assalamualaikum,” ucapku sambil masuk ke rumah.
Kak Dino sedang duduk bersandar di sofa ruang tengah. Sebatang rokok terselip di antara jarinya, sementara tatapannya kosong mengarah ke televisi.
Entah apa yang sedang ditontonnya. Sepertinya pikirannya berada di tempat lain.
“Assalamualaikum,” ulangku lebih keras agar dia mendengar.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu dari dalam kamar.
Tidak lama kemudian, Ibu keluar dengan wajah kesal.
“Apa, sih, teriak-teriak begitu, Galang?”
Mendengar suara Ibu mengomel, barulah Kak Dino tersadar dari lamunannya. Dia menoleh ke arahku dengan gerakan pelan.
“Eh, Galang. Kamu pulang?” tanyanya datar, seolah kepulanganku bukan sesuatu yang mengejutkan.
Aku menatapnya tidak percaya.
Reaksi macam apa itu?
Mengecewakan sekali.
“Iya, deh. Aku mau beres-beres kamar dulu,” jawabku, masih sedikit kesal dengan reaksinya.
Aku masuk ke kamar, lalu mulai mengeluarkan barang-barang dari tas dan koper.
Belum lama aku membereskan barang, terdengar suara salam dari depan rumah.
“Assalamualaikum.”
Suara perempuan.
Pasti Kak Yuki baru pulang.
Wah, saatnya mengagetkan nenek sihir satu ini.
Aku menyembulkan setengah badan dari balik dinding kamar seperti penampakan hantu. Kak Yuki paling takut dengan hantu. Karena dia belum tahu aku sudah pulang, pasti dia akan mengira baru saja melihat sesuatu yang aneh.
Kak Yuki memasuki ruang tengah, lalu menoleh ke arah kamarku.
Tatapannya langsung bertemu denganku yang hanya memperlihatkan separuh wajah.
“Apa lu lihat-lihat, jelek?” katanya santai.
Aku langsung keluar dari balik dinding.
Reaksi macam apa itu?
Kenapa dia tidak kaget?
Aku berjalan mendekatinya dengan wajah kecewa.
“Kok Kak Yuki nggak kaget?”
Kak Yuki malah tertawa puas melihat rencanaku gagal.
“Dikasih tahu Kak Warna,” jawabnya di sela-sela tawa. “Mau bikin kejutan, tapi malah keluyuran dan ketemu Kak Warna. Ya, pasti dia langsung chat aku.”
Sial.
Aku lupa mengajak Kak Warna bekerja sama.
Namun, kalau Kak Yuki sudah diberi tahu, kenapa Kak Dino terlihat seperti tidak tahu aku sudah pulang?
Apa dia hanya berpura-pura?
Ah, biarkan saja. Mungkin pikirannya memang sedang berada di tempat lain.
Yang jelas, aku harus segera mencari cara untuk membalas nenek sihir yang sekarang masih tertawa di depanku.
Malam itu, aku melanjutkan membereskan kamar sebelum akhirnya tertidur karena kelelahan.