Tuhan menciptakan dunia ini dengan memiliki banyak warna dan aku bersyukur bahwa aku terpilih menjadi salah satu orang yang bisa melihat warna itu. Karena tidak semua orang mampu melihat warna-warni dunia. Kemampuanku melihat warna dalam setiap gelombang suara yang dikeluarkan oleh manusia membuatku bisa dengan mudah mengetahui perasaan asli mereka.
Aku kini tengah melukisi kanvas yang semula putih. Rencananya, aku akan melukis taman bunga yang berisi penuh mawar. Bagiku, mawar adalah perlambang kecantikan yang mematikan dan aku menyukainya. Sebut saja aku anomali karena menyukai hal itu. Melukis adalah salah satu rute pelarian sempurnaku dari keriuhan gelombang warna yang mendekapku seumur hidup. Warna dari cat lukis mampu menjadi penghiburan untukku.
Di tengah-tengah melukis, serbuan warna gelombang suara tiba-tiba menerpa mataku. Warna-warna ini sebenarnya biasa saja untukku karena aku sudah melihat hal ini sejak dilahirkan. Namun tetap saja, warna-warna ini mampu membuat duniaku jungkir balik. Kemampuanku ini terkadang membuatku kesulitan.
Aku meletakkan kuasku, kemudian berjalan ke arah pintu balkon ruang lukis. Warna-warna itu memancing rasa penasaranku. Ada sekumpulan remaja yang tengah bercengkerama di taman belakang rumahku. Kelihatannya mereka teman-teman saudaraku. Manik mataku tak sengaja menangkap sebuah gelombang suara berwarna hitam. Gelombang suara ini berasal dari sosok gadis berambut sebahu. Entah apa yang terjadi namun dari suaranya dia mengucapkan kebohongan. Padahal, raut wajahnya tampak tersenyum.
‘Manusia aneh. Aku baru tahu bahwa ada pembohong yang dapat tersenyum selebar itu namun isi hatinya berkata lain,’ batinku. Aku memutuskan untuk mengamati mereka lebih lama lagi karena tertarik dengan warna hitam itu. Namun, rasa tertarik itu kini berganti dengan rasa iri. ‘Kenapa aku enggak bisa seperti saudara-saudaraku yang punya banyak teman? Aku juga ingin punya banyak teman. Tapi sialnya, aku juga tahu bahwa berinteraksi denganku sangat merepotkan sehingga orang-orang menghindariku.’ Lalu, aku melangkah meninggalkan balkon agar tidak semakin merasa iri.
***
Aku menatap Kak Cedric yang tengah tersenyum lebar di depanku sambil menyembunyikan dua tangannya di balik punggung dengan heran. “Kamu kenapa?” tanyaku menggunakan bahasa isyarat. Aku menggunakan dua jenis bahasa isyarat. Yang sekarang kugunakan untuk berkomunikasi dengan kakakku adalah BISINDO. Sedangkan yang biasa kugunakan saat belajar di sekolah menggunakan SIBI. Biasanya aku menggunakan SIBI saat dalam kondisi formal, dan menggunakan BISINDO saat dalam situasi sehari-hari.
Kak Cedric menyodorkan paket terbungkus plastik gelembung dengan wajah sumringah padaku. Paket itu merupakan kotak berukuran sedang. Dia meletakkan paket tersebut di pangkuanku, kemudian duduk di sampingku. Dia menangkup wajahku agar menatapnya. Aku mengangguk mengerti. Dia lalu berisyarat, “Coba tebak apa isi hadiah itu? Kalau bener, hadiahnya buatmu.”
Aku mengernyit sejenak, kemudian menimang-nimang paket ini sebentar seraya mengguncang kotak itu. Bobot paket itu lumayan berat dan terkesan padat. Kemudian, aku membuka paket tersebut. Senyum senang tak bisa kubendung kala melihat isinya. Isinya adalah cat akrilik kemasan kecil dalam jumlah banyak. Aku meletakkan kotak itu ke meja di depanku, kemudian berisyarat, “Kakak tahu dari mana kalau aku pengin cat ini?”
Kak Cedric tersenyum lebar seraya berisyarat, “Karena aku enggak sengaja lihat HPmu. Jadi waktu kamu ketiduran di sini semalem, HP kamu nyala karena notif dari akun belanjamu. Ya udah, terus aku lihat-lihat deh isi keranjangmu. Ternyata ada cat akrilik yang mau kamu beli.”
“Iya, tapi belum jadi karena aku enggak punya saldo semalem. Terus ini udah diisiin sama Clarice,” isyaratku. Kemudian aku terdiam saat menyadari bahwa Clarice telah mengisi saldo dompet digitalku semalam. Kapan aku meminta padanya soal ini? Aku tidak pernah mengatakan padanya bahwa saldoku sudah habis.
Kak Cedric mengangguk-angguk mengerti. Dia lalu menepuk-nepuk lembut pipiku, kemudian berisyarat, “Kalau kamu butuh apa-apa bilang aja ke kami. Kalau aku enggak ada di rumah, kamu bisa minta sama Chandler maupun Clarice.” Kak Cedric kemudian berlalu keluar dari ruang keluarga. Aku lalu bergegas menuju kamar Clarice setelah meletakkan cat-cat ini di ruang lukisku.