Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #2

Bab 2: Teman Terbaik itu Bernama Ajmal

Dalam duniaku yang sepi ini, ada sesuatu yang membuatku bertahan menghadapi kesunyian ini. Sesuatu ini tidak menuntutku untuk bisa bicara agar dia mau mendengarkan. Sesuatu ini tidak menuntutku untuk selalu sama dengan orang lain dan sesuatu ini mampu memberikan kasih sayang yang tulus tanpa pamrih.

Dan sesuatu ini bernama Ajmal. Ajmal adalah kucingku yang diperkirakan baru berusia 7 bulan. Aku menemukannya di sekolahku dalam kondisi kurus tak terawat dan aku akhirnya membawa Ajmal pulang. Kucing domestik berwarna serupa jeruk yang awalnya nyaris mati, kini berhasil tumbuh dengan baik.

‘Makan yang banyak ya,’ batinku sambil membelai lembut punggungnya. Kemudian, aku meninggalkannya yang sedang makan di lantai dapur menuju ruang lukis. Ada banyak waktu yang bisa kumanfaatkan sebelum tahun ajaran baru dimulai.

***

Rasanya ada yang aneh saat aku keluar dari ruang lukis. Ini sudah masuk jam makan siang dan Ajmal tidak datang ke dapur. Kucing itu memiliki kebiasaan selalu datang tepat waktu di jam makannya. Dan kini, dia tidak datang. Aku lalu mengambil lonceng kecil yang berada di samping mangkuk makannya, kemudian membunyikannya. Namun dia masih saja tidak datang.

‘Ada yang aneh. Ajmal biasanya selalu dateng dengan gembira ke sumber suara lonceng ini. Ke mana dia ya?’ batinku mulai was-was. Aku berjalan ke sana ke mari menyusuri rumah seraya membunyikan lonceng. Namun kucing lucu itu tak kunjung muncul. Rasa was-was kini berubah menjadi khawatir. Aku lalu bergegas keluar rumah untuk mencarinya. Bahkan, aku lupa membawa ponselku yang ada di kamar.

Aku menyusuri jalanan kompleks tempat tinggalku, sialnya tidak ada tanda-tanda keberadaan kucing itu. Rasa frustasi, takut, dan sedih menjalari perasaanku. Bagaimana jika dia akhirnya mati? Bagaimana jika dia diculik orang lalu disiksa? Bagaimana jika dia disembelih orang kemudian dimakan? Pemikiran-pemikiran buruk semakin menjadi-jadi sehingga membuatku semakin panik.

Bagi orang lain, Ajmal mungkin hanya seekor kucing yang kehadirannya bisa dengan mudah digantikan oleh kucing lain. Namun tidak bagiku. Dia adalah satu-satunya temanku yang benar-benar tulus. Aku merasa aman di dekatnya dan dia tak pernah menyakitiku. Langkahku kini semakin cepat seraya membunyikan lonceng sembari berharap dia akan muncul.

Tiba-tiba, seseorang menepuk bahuku dari belakang saat aku sedang berjalan mencari Ajmal. Aku menoleh dan melihat Prameswara berdiri di belakangku dengan napas terengah-engah. ‘Sejak kapan dia mengikutiku?’ batinku. Aku menatapnya penuh tanya seraya memasukkan tali lonceng ke pergelangan tanganku, kemudian berisyarat, “Ada apa?”

“Ayo pulang! Kucingmu udah ketemu. Kak Chandler nemuin Ajmal di kolong tempat tidur kamarnya,” balas Prameswara dalam bahasa isyarat. Prameswara adalah temanku sehingga dia bisa bahasa isyarat.

Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Masak? Serius kamu?”

“Iya. Ini buktinya.” Prameswara lalu menunjukkan foto Ajmal yang sedang tidur nyenyak di kolong tempat tidur Kak Chandler. Dilihat dari jam pesan itu terkirim menunjukkan pukul 12.30. Dia lalu memasukkan ponselnya ke saku baju. “Jadi sekarang pulang ya? Ayo!” lanjut Prameswara dalam bahasa isyarat. Aku mengangguk pasrah dengan perasaan lega. Kemudian, kami pulang bersama.

***

“Lain kali kalau denger suara lonceng itu langsung dateng! Dan jangan tidur di tempat yang aneh-aneh! Aku udah beliin kamu tenda yang bagus dan bersih, tapi kamu malah tidur di tempat kotor!” Aku memarahi Ajmal dengan bahasa isyarat. Sedangkan si kucing gendut ini malah menatapku seraya berguling-guling manja di lantai.

Seseorang menepuk bahu kiriku. Ayah menatapku dengan senyum seraya berisyarat, “Jangan dimarahin terus. Kasian Ajmal nanti stres. Kamu sekarang makan dulu ya? Kan kamu belum makan siang, ini juga udah sore.”

“Ayah udah makan?”

“Udah. Mama udah siapin makananmu di meja. Sana ke ruang makan.”

Aku mengangguk pelan. Kemudian, berjalan menuju ruang makan dan meninggalkan Ajmal bersama Ayah di ruang tamu. Ajmal benar-benar membuatku khawatir bercampur jengkel. Oh dan satu lagi, dia berhasil membuatku berjalan kaki agak jauh dari rumah hari ini.

***

“Cla, gimana rasanya bisa mendengar?” Aku bertanya pada Clarice yang menghampiriku di ruang keluarga. Dia baru saja mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk saat aku bertanya dalam bahasa isyarat padanya. Di sampingku, Ajmal sedang tertidur pulas.

Clarice lalu membebat kepalanya dengan handuk. “Maksudnya?”

Lihat selengkapnya