Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #3

Bab 3: Dunia Yang Tidak Kusukai

“Candice, kami udah berhasil dapat sekolah untuk kamu,” isyarat Mama kemudian menyerahkan sebuah map padaku. Aku menerima map itu dengan penuh rasa ingin tahu. Kira-kira sekolah mana yang mau menerima anak berkebutuhan khusus sepertiku? Apakah aku akan bersekolah di sekolah luar biasa? Karena sekolah inklusi di kota ini sangat sedikit. Anak-anak berkebutuhan khusus dengan skala tertentu sepertiku memang bisa bersekolah di sekolah biasa dengan bantuan guru pendamping khusus.

‘Oh ternyata sekolah ini,’ batinku kala membaca isi map. Kemudian, aku menatap Mama dengan penuh tanya karena merasa ada sesuatu yang ganjil. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah terbaik di provinsi ini dan merupakan sekolah favorit di kota ini. Sekolah ini juga merupakan sekolah kedua kakak kembarku. Sekolah ini dikelola oleh yayasan sehingga memiliki jaringan sekolah dari TK hingga SMA. Sayangnya, mereka hanya memiliki satu SMA saja, tidak seperti jenjang TK hingga SMP yang memiliki 3 sekolah. Aku sudah bersekolah di yayasan ini sejak TK namun tidak pernah mau satu sekolah dengan saudara-saudaraku.

“Kenapa, Sayang?” isyarat Mama dengan tatapan cemas padaku.

Aku meletakkan map ke meja ruang tamu, kemudian berisyarat, “Ini sekolahnya Kak Chandler dan Kak Cedric juga kan? Kak Karina juga lulus dari sekolah ini 5 tahun yang lalu.”

“Iya, benar. Kamu enggak akan sendirian kok nanti di sana. Ada Clarice, Pramadana, dan Prameswara yang juga bersekolah di sana. Mama menghubungi beberapa sekolah di sini dan hanya sekolah itu saja yang memiliki sumber daya untuk penyandang disabilitas tuli.”

Isyarat Mama membuatku terhenyak. Satu rumah dengan Clarice sudah seperti neraka untukku, apalagi satu sekolah dengannya. Orang-orang pasti akan membanding-bandingkan kami dan mengucilkanku seperti yang selama ini aku terima. Aku lantas berisyarat pada Mama dengan tatapan marah, “Aku enggak mau sekolah di sini! Lebih baik aku sekolah di SLB aja!”

“Enggak gitu juga, Sayang! Sekolah ini kan sekolah yang bagus bahkan di provinsi ini. Jadi, tempat ini cocok untukmu. Selain itu, mereka juga punya fasilitas studio lukis. Sekolah ini bisa menunjang perkembangan bakat melukismu.”

Aku menggeleng dengan marah. “Enggak! Aku enggak mau!” Karena aku tahu Mama pasti menolak permintaanku, aku pun meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarku seraya membanting pintu. Keluargaku tidak pernah tahu bahwa orang-orang terdekat mereka banyak yang membenciku. Mereka hanya tahu bahwa saudara jauh Eyang membenciku dan orang itu tidak pernah muncul lagi di hadapanku. Namun keluargaku tidak tahu bahwa orang-orang yang mereka percaya ternyata membenciku, termasuk teman-teman dekat ketiga saudaraku.

***

Kak Chandler menghadang langkahku saat aku akan keluar dari pintu utama yang ada di ruang tamu. Sore ini, aku akan pergi ke Taman Kusuma Wicitra untuk menggambar sekaligus menyegarkan pikiran. Aku butuh distraksi agar tidak terjebak dalam kondisi marah yang berkepanjangan. Sebenarnya, aku ingin sekali pergi ke pantai, namun aku tidak bisa melakukannya karena tempatnya sangat jauh dan medannya sulit. Sehingga aku tidak bisa ke pantai hanya dengan menggunakan transportasi daring. “Minggir!” isyaratku dengan ekspresi jengkel karena Kak Chandler menghalangi pintu keluar.

“Mau ke mana? Kok enggak pamit?” Kak Chandler berisyarat sambil tetap berdiri menghalangi jalanku.

“Memang kenapa sih? Aku lagi enggak ada energi buat ladenin tingkah nyebelinmu itu! Minggir! Ojek pesenanku udah nunggu.” Setelah berisyarat demikian, aku lalu mendorong kasar Kak Chandler kemudian naik ke ojek daring yang sudah kupesan. Semoga saja kedua kakakku yang menyebalkan itu tidak tahu ke mana aku pergi dan tidak menyusulku ke sana.

***

Taman Kusuma Wicitra atau yang juga dikenal dengan sebutan Alun-Alun itu tampak ramai sore ini. Ada beraneka ragam warna gelombang suara di sini beserta beragam aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang. Ada sekumpulan anak-anak yang tengah bermain, sekelompok remaja yang tengah bermain skateboard serta beragam aktivitas lainnya. Aku berkeliling di tempat itu untuk mencari tempat yang nyaman, kemudian aku menemukannya. Sebuah bangku panjang yang kosong di depan bundaran kolam ikan yang berada di tengah-tengah Alun-Alun. Kemudian, aku duduk di sana lalu mulai menggambar.

Ada sebuah gelombang suara berwarna merah muda serta keberadaan seseorang yang tiba-tiba terasa di sampingku saat aku sedang menggambar. Gelombang suara merah muda menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta, sontak saja hal itu membuatku menoleh. Namun, aku justru melihat Pramadana sedang duduk di sampingku.

“Gambarmu selalu bagus ya,” isyarat Pramadana tersenyum kecil. “Kamu di sini sama siapa? Aku enggak melihat saudara-saudaramu di sini.”

Lihat selengkapnya