Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #4

Bab 4: Dunia Baru

Ini adalah hari pertama buatku masuk sekolah. Berbeda dengan Clarice yang mengikuti masa orientasi bersama anak-anak lainnya, aku tidak bisa mengikuti masa orientasi bersama anak-anak lainnya karena aku harus mengikuti orientasi khusus yang disesuaikan dengan kebutuhanku. Aku berkenalan dengan guru pendampingku yang mahir bahasa isyarat. Selain itu, aku juga berkenalan dengan teman-teman yang juga penyandang tuli sepertiku.

Setiap murid berkebutuhan khusus di sekolah ini mendapatkan satu guru pendamping untuk semua kelas. Untukku, guru pendamping bertugas menerjemahkan penjelasan guru utama ke dalam bahasa isyarat. Kendati aku bisa membaca, namun dalam proses pembelajaran tentu saja ada penjelasan tambahan dari guru utama menggunakan suara dan tanpa tulisan.

Aku masuk bersama dengan Bu Jessica – guru pendampingku - ke dalam kelas. Pandanganku menyusuri setiap sudut kelas. Ada beberapa wajah baru dan juga wajah lama. Ada Clarice, Pramadana, Prameswara, dan juga Nabila. Nama terakhir adalah orang yang paling membuatku tak nyaman. Nabila adalah sahabat Clarice, namun aku tahu bahwa dia membenciku karena dia selalu menatapku penuh kebencian saat kami bertemu. Seperti yang sedang dia lakukan saat ini. Entah apa masalahnya padaku, padahal aku tidak pernah mengusiknya.

Bu Jessica lalu membimbingku ke bangku paling depan yang ada di depan meja guru. Bangku para siswa di sini merupakan bangku yang mirip dengan bangku yang ada di perkuliahan. Kursi dan mejanya jadi satu. Di samping kiriku ada Clarice, di belakangku ada Pramadana dan Prameswara. Sementara sisi kananku adalah tembok. Di meja guru terdapat dua kursi dan satu meja besar. Bu Jessica lalu duduk di salah satunya. Tak lama kemudian, guru utama datang. Pelajaran pertama kami akhirnya dimulai.

***

“Candice, Candice, Candice!” Prameswara berisyarat di depanku sambil tersenyum lebar. Kami sudah memasuki jam istirahat. Aku menatap Prameswara dengan senyum kecil. Prameswara masih tersenyum seraya berisyarat, “Kamu bawa bekal, kan? Ayo makan bareng! Aku udah nemuin tempat yang bagus untuk makan siang!”

“Oh ya? Oke!” Aku lalu mengambil tas bekalku dari keranjang barang yang ada di bawah kursiku. Kemudian membawa tas itu. Prameswara mengamit lenganku. Kami lalu berjalan beriringan. Prameswara membimbingku ke taman yang ada di belakang sekolah. Taman ini memiliki banyak gazebo dan tidak terlalu ramai. Kami lalu menempati gazebo yang berada di samping kolam ikan. Tak lama kemudian, Pramadana berjalan beriringan bersama Clarice. Mereka tampak mengobrol, sesekali mereka tertawa. Warna suara keduanya putih bersih. Walau demikian, aku merasa tidak suka saat Pramadana mengobrol dengan Clarice padahal aku tahu bahwa perasaan mereka netral saat mengobrol.

Saat tiba di gazebo yang kududuki bersama Prameswara, Pramadana tampak berbicara pada adiknya. Sedangkan Clarice sibuk membongkar kantung plastik yang dia bawa. Clarice menyerahkan sebotol minuman yogurt rasa stroberi padaku, lalu berisyarat, “Nanti kamu pulang duluan ya? Aku enggak bisa karena harus latihan karate.”

“Di sekolah?” isyaratku. Kemudian, aku membuka kotak bekalku.

Clarice menggeleng seraya berisyarat, “Enggak. Aku latihan di dojo. Aku pulang sama Kak Chandler dan Kak Cedric, sedangkan kamu dijemput Mama.”

Aku mengangguk saja, kemudian menikmati makan siangku. Pramadana, Prameswara, dan Clarice tengah mengobrol. Gelombang suara mereka berwarna putih. Aku sedikit penasaran dengan obrolan mereka, namun aku sadar diri bahwa aku tidak bisa selalu terlibat dalam pembicaraan orang di sekelilingku. Menjadi tuli dari lahir membuatku mengerti, bahwa ketika orang mulai mengobrol dengan suara adalah pertanda bagiku bahwa aku tak diinginkan untuk bergabung dalam obrolan itu. Jadi, aku memilih untuk menatap sekelilingku sambil menghabiskan makan siangku.

Manik mataku secara tak sengaja berkontak dengan Nabila yang berada beberapa meter dari gazebo kami. Dia juga duduk di gazebo bersama beberapa orang entah siapa. Nabila menatapku dengan tatapan tajam penuh rasa tidak suka, begitupun dengan warna gelombang dari orang-orang yang duduk bersama dia. Warna hitam pekat dan hijau tua. Kebohongan bercampur hinaan. Warna itu membuatku langsung memutus kontak mata dengannya. Apapun yang mereka bicarakan, orang-orang itu bukanlah orang-orang baik.

Pramadana menepuk kakiku tiba-tiba sehingga membuatku mengalihkan pandangan dari Nabila, kemudian dia berisyarat saat aku menatapnya, “Kenapa? Ada sesuatu yang mengganggumu?”

Lihat selengkapnya