Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #5

Bab 5: Selalu Ada Bayang-Bayang

Clarice ibarat cahaya matahari yang hangat, tenang, dan menyenangkan. Namun dibalik cahaya, pasti selalu tersimpan bayang-bayang gelap yang keberadaannya patut untuk disingkirkan. Dan bayang-bayang itu adalah aku. Dulu, aku menjadi bayang-bayangnya hanya saat di rumah. Namun kini, aku tak hanya menjadi bayang-bayangnya di rumah tetapi juga di mana-mana.

Aku menatap tidak suka pada Clarice dan Pramadana yang tengah berbincang berdua sembari tertawa walaupun warna suara mereka adalah putih, namun aku tak pernah melihat Pramadana tampak sesantai itu. Kini, tinggal menunggu waktu hingga Pramadana benar-benar meninggalkanku lalu disusul oleh Prameswara.

Remasan menyakitkan di pundak kananku membuatku menoleh ke kanan seraya menepis tangan orang tersebut. Aku menatap nyalang pada Nabila yang justru menatapku penuh ejekan. Dia berbicara, tetapi aku tak bisa mendengar suaranya. Yang pasti, aku tahu bahwa dia sedang mencelaku. Warna suara hijau tua pekat ditambah lagi dengan raut wajah menyebalkan yang dia tunjukkan padaku. Dia lalu tertawa kecil dan masih dengan warna suara hijau tua pekat, kemudian mengambil ponselnya. Dia mengutak-atik ponsel itu, lalu menunjukkan isi ponsel padaku. ‘Kamu bukan pusat dunia, Candice. Semua orang pasti akan ninggalin kamu,’ tulisnya.

Aku lalu mengambil ponselku dari saku. Emosi mulai bergemuruh dalam dadaku. Tanganku mengetik cepat pada aplikasi catatan. Lalu, aku menunjukkannya pada Nabila. ‘Aku memang bukan pusat dunia, tapi aku bukan pengacau kayak kamu. Aku enggak pernah gangguin hidup orang lain kayak kamu. Kenapa? Hidupmu enggak bahagia ya? Makanya kamu iri sama aku?’ tulisku.

Nabila menatapku tajam. Dia lalu membalas melalui tulisan di ponselnya, ‘Yakin kamu bukan pengacau? Padahal, udah berkali-kali kamu ngacauin hidup Clarice dan dua kakakmu. Kamu lemah dan nyusahin.’

Aku menyeringai kecil, kemudian membalas melalui tulisan di ponselku, ‘Clarice dan kakak-kakakku enggak pernah merasa direpotkan, tapi kenapa kamu yang repot? Hidup mereka juga baik-baik aja tuh. Semua orang bisa lihat mereka baik-baik aja. Kamu kenapa sih, Nabila? Keluargamu enggak cemara ya?’

Wajah Nabila merah padam sesaat setelah membaca tulisanku. Dia akan membalasku namun urung dia lakukan karena aku merasa seseorang muncul di belakangku dari hawa yang kurasakan. Aku menoleh dan melihat Pramadana serta Clarice ada di belakangku. Secara bergantian, aku menatap ketiganya yang sedang berbicara. Warna suara Nabila menunjukkan warna hitam sedangkan suara Clarice berwarna merah sedikit putih, sementara Pramadana berwarna hijau tua. Kira-kira apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa Nabila berbohong? Apa yang dicurigai oleh Clarice? Dan apa yang dicela oleh Pramadana?

Setelah Nabila pergi dari koridor kelas, aku menarik tangan Clarice agar menatapku. “Apa yang kalian bicarakan? Kenapa dia bisa tersenyum gitu? Kelihatan kayak joker,” isyaratku.

“Kami bertanya apa yang sedang dia lakukan padamu. Dia bilang kalian mengobrol biasa, tapi aku tahu obrolan kalian bukan obrolan biasa. Enggak ada orang yang mengobrol biasa dengan ekspresi seperti itu. Apa yang dia tulis ke kamu, Candice?” Clarice menatapku khawatir. Clarice lalu membalik badanku agar menghadap Pramadana.

Pramadana berisyarat, “Beritahu kami jika dia menyakiti kamu. Kamu jangan takut untuk mengatakan semuanya. Oke? Kamu aman bersama kami, Candice. Atau kalau kamu enggak nyaman bicara sama aku, kamu bisa kasih tahu Prameswara.”

“Aku enggak tahu dia bicara apa tadi, soalnya dia banyak bicara daripada nulis. Tapi kalimat yang dia tulis tadi mungkin ada benernya,” isyaratku. Aku kemudian masuk ke dalam kelas meninggalkan keduanya. Selama ini, belum pernah aku melihat bagaimana Clarice akan bereaksi terhadapku jika aku mengadukan perlakuan buruk Nabila padaku. Ketakutanku adalah jika Clarice lebih memilih membela gadis itu dibandingkan aku. Semua hal bisa saja terjadi kan?

***

Aku mengayun-ayunkan kakiku seraya duduk di bangku taman di halaman sekolah. Mama belum datang, sedangkan Clarice sekarang sedang berlatih karate bersama teman-teman ekstrakurikuler karate di lapangan sekolah yang tak jauh dari tempatku duduk. Dadaku terasa sesak saat aku melihat senyum dan tawa lepas Pramadana serta Prameswara bersama Clarice.

‘Apa sih yang aku harapkan? Mengharapkan mereka akan terus di sisiku dan direpotin sama aku? Aku tahu bahwa aku menyusahkan dan egois, tapi apa aku enggak boleh punya teman tanpa harus menjadi bayang-bayang dari Clarice?’ batinku sedih.

Warna suara hijau muda mengelilingi Clarice walaupun warna suara Pramadana dan Prameswara tetap putih saat berbicara dengannya, namun warna hijau muda dari orang-orang lain di sekeliling Clarice saat berbicara dengannya membuatku iri. Aku kemudian menunduk agar tak melihat pemandangan itu dan beralih menatap sepatuku yang berwarna merah muda.

Kira-kira bagaimana ya suara-suara di sekitarku? Apakah ramai oleh suara tawa? Lalu, bagaimana ya suara tawa itu terdengar? Aku melihat banyak wajah tersenyum dan warna suara hijau muda di tempat Clarice berkumpul. Aku ingin mendengar suara-suara itu walaupun mustahil.

Aku mendongak saat melihat sepasang kaki tanpa sepatu tiba-tiba muncul di depanku. Itu adalah kaki Pramadana. Dia menatapku dengan senyum kecil seraya berisyarat, “Mamamu belum dateng ya? “

“Iya. Katanya tadi suruh tunggu bentar. Kamu ngapain di sini? Kenapa enggak kumpul sama temen-temenmu?”

Lihat selengkapnya