Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #6

Bab 6: Semua Tampak Menyebalkan

Warna-warna dari lampu-lampu mesin game membuatku senang. Namun senang yang kurasakan kali ini berbeda. Rasa senang kali ini lebih meletup-letup dan membuatku bersemangat. Pramadana menyodorkan kartu padaku, kartu ini berguna untuk memainkan mesin permainan ini. Aku mengerti maksudnya. Aku menunjuk mesin bola basket dan dia mengangguk setuju. Sejujurnya, aku sudah sering ke tempat permainan semacam ini. Namun kali ini rasanya berbeda.

“Senang?” isyarat Pramadana dengan senyum lebar. “Ada lagi enggak tempat yang mau kamu tuju habis ini? Mumpung besok Hari Minggu dan aku enggak ada latihan.”

“Aku seneng banget! Makasih banyak ya!” Sejujurnya, aku ingin menjawab bahwa aku ingin ke pantai. Tapi aku tahu hal itu akan merepotkan dia. “Aku enggak tahu mau ngapain lagi habis ini. Kamu ada rencana apa?”

“Mau nonton film aja enggak?”

“Boleh.”

“Kita makan dulu tapi ya? Sekalian beli camilan buat nonton nanti.”

Aku mengangguk mengikuti ide Pramadana. Kami berjalan beriringan dan mengisyaratkan hal-hal lucu yang terjadi di sekitar kami. Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu, rasa penasaran membuatku tak dapat menahan diri sehingga aku menanyakan hal ini padanya. “Kamu deket ya sama Clarice?”

Pramadana menggeleng cepat seraya menjawab dengan isyarat, “Enggak kok. Kami hanya temenan biasa. Yang deket sama Clarice itu Nabila. Eh tapi enggak tahu juga deh Clarice nganggep Nabila temen atau enggak. Aku dan Prameswara enggak sedeket itu sama Clarice. Kenapa?”

“Enggak apa-apa, hanya penasaran. Soalnya, orang-orang selalu suka sama Clarice. Clarice yang baik dan pengertian serta sempurna.” Hatiku sakit saat mengisyaratkan hal itu karena fakta itu menamparku telak. Semua orang yang ada di sekitar kami menyukai Clarice, tapi tidak semua orang menyukai aku. Bahkan kerabat kami sendiri.

Pramadana tersenyum lembut, dia menarikku untuk duduk di bangku yang ada pada lantai khusus pusat jajanan yang ada di pusat perbelanjaan ini. “Kamu juga sempurna, Candice. Kamu sempurna dengan caramu dan itu membuat kamu kelihatan menarik. Kamu baik dan kamu juga peka. Kamu juga cantik, apalagi saat kamu melukis. Menurutku, kamu enggak kalah menarik dari Clarice.”

“Tapi Clarice bisa mendengar, Pram.” Aku menatap matanya dengan gusar. Ada banyak perasaan berkecamuk saat nama Clarice muncul dalam percakapan kami. “Semua orang bilang bahwa Clarice menarik dan seharusnya dia terlahir sendiri. Sedangkan aku bagi semua orang adalah aib.”

“Aku enggak pernah menganggap kamu aib, Candice. Prameswara juga enggak. Kamu tahu? Kamu juga bisa mendengar loh, kamu enggak tuli.” Pramadana tersenyum lembut. Dia lalu menunjuk dadanya, kemudian berisyarat, “Kamu mendengar menggunakan hatimu. Mendengar itu bukan hanya perkara mendengar suara, Candice. Percuma kita bisa mendengar suara, tapi kita enggak bisa mendengar jeritan tolong dari sekeliling kita. Dan kamu bisa mendengar jeritan itu, Candice.”

Rasa heran kini menyergapku. Bagaimana caranya aku mendengar jeritan itu? Aku bahkan enggak bisa mendengar suaraku sendiri! “Gimana caranya? Aku bahkan enggak bisa denger suaraku sendiri!”

Lihat selengkapnya