Aku baru saja kembali dari kantin sendirian saat manik mataku tak sengaja melihat mading yang baru saja diisi dengan poster baru oleh guru. Warna poster itu terkesan gelap dan bertema surealis. Warna yang digunakan dominan hijau neon dengan gambar-gambar yang unik. Kakiku sontak melangkah ke depan mading. ‘Lomba melukis bersama Aurora Gallery telah dibuka! Hadiah total berupa uang sebesar 500 juta dan kesempatan untuk mengadakan pameran bersama galeri terkenal di depan mata,’ bacaku dalam hati. Mataku lalu menyusuri syarat perlombaan secara teliti.
Sebuah tangan tiba-tiba merangkul bahuku. Rangkulan itu halus, lembut, membuatku merasa aman dan terkesan familiar. Aku sontak menoleh dan mendapati Raline tengah tersenyum manis padaku. Senyum lebar tak bisa kukontrol saat melihatnya. Kemudian, aku memeluknya dengan riang. Raline membalas pelukanku dengan riang. Ada gelombang suara berwarna hijau muda mengelilingi Raline.
“Kapan kamu sampai? Kok kamu enggak kasih tahu aku?” isyaratku sesudah melepaskan pelukan kami. Aku sangat senang karena akhirnya bisa bertemu sahabat sekaligus rivalku ini. Kami sudah mengenal sejak kecil, mungkin sejak aku mulai ikut lomba mewarnai. Dan perkenalan itu akhirnya berlanjut hingga sekarang. Di atas kanvas, kami berkompetisi. Namun di luar kanvas, kami bersahabat baik.
Raline tertawa seraya berisyarat dengan pelan, “Aku baru aja sampai. Harusnya tadi pagi udah di sini. Tapi ban mobil Papa bocor di jalan, jadinya kami telat dateng.” Tidak seperti Pramadana dan Prameswara yang mahir berbahasa isyarat, bahasa isyarat Raline masih patah-patah. Namun aku merasa dihargai karena dia mau belajar bahasa isyarat. Dan lagi, hanya aku saja anomali yang ada di hidup Raline karena semua orang di sekelilingnya normal.
“Kamu bakalan menetap di sini?” aku penasaran dengan rencananya ke depan. Bukan apa-apa, aku hanya sedang mempersiapkan diri agar tidak terlalu bergantung padanya jika suatu saat dia akan pergi lagi. Keluarga Raline bukan keluarga yang tinggal menetap di satu kota. Mereka sering berpindah-pindah tergantung pada pekerjaan Mama Raline.
Raline menepuk-nepuk gemas kedua pipiku kemudian berisyarat, “Aku enggak tahu akan berapa lama kami di sini. Mama baru aja dipindah tugas ke sini. Aku juga enggak tahu sampai kapan akan dimutasi lagi karena Mama baru aja naik jabatan.”
Manik mata Raline tiba-tiba beralih fokus dengan cepat. Entah apa yang terjadi, kini warna merah tua mengelilingi Raline. Dia menunjuk-nunjuk seseorang yang baru saja melintas di koridor di samping kami. Ekspresi wajahnya menunjukkan dia sangat marah. Sedangkan orang yang dia tunjuk adalah Nabila. Ekspresi wajah Nabila tampak sedih namun warna suaranya berwarna hitam.
Aku diam saja mengamati pertengkaran yang tiba-tiba itu. Sedangkan Clarice dan Pramadana yang baru saja tiba di koridor berusaha melerai mereka. Awalnya, aku ke kantin bersama Pramadana. Lalu, Clarice bergabung. Clarice dan Pramadana tampak berbicara akrab tadi, sehingga hal itu membuatku kesal kemudian pergi meninggalkan mereka.
Pertengkaran itu berakhir karena Raline menampar wajah Nabila sangat keras sehingga Nabila tersungkur. Aku lalu mengajak Raline pergi dari sana menuju kelasku karena dari atribut seragam Raline, dia ada di kelas yang sama denganku. Selain itu, aku membawa Raline pergi agar keributan tidak semakin besar.
***
“Raline emang sekasar itu ya? Aku enggak tahu kenapa dia sampai kasar sama Nabila, tapi tindakannya enggak bisa dibenerin. Apalagi, dia kelihatan benci banget sama Nabila. Aku tahu sih Nabila nyebelin, tapi enggak perlu sampai dimaki apalagi ditampar di depan umum.” Clarice mengajakku mengobrol saat aku tengah duduk santai di ruang keluarga sambil bermain dengan Ajmal.
Aku refleks memutar bola mataku seraya menunjukkan ekspresi malas pada Clarice. “Cla, kamu barusan bilang bahwa kamu enggak tahu apa alasan dia sampai kasar sama Nabila, kan? Itu tandanya kamu juga enggak tahu siapa yang bener dan salah dalam peristiwa tadi, sehingga kamu enggak punya hak menghakimi orang lain.”
“Aku enggak menghakimi dia, Can. Aku hanya enggak suka ada orang yang kasar berada di sekelilingmu. Dia aja bisa nampar Nabila saat mereka pertama kali ketemu dan di depan banyak orang. Gimana kalau dia nampar kamu saat aku enggak ada di sampingmu?”
Aku menatap Clarice dengan tatapan mengejek terang-terangan dan dia tampak kaget dengan hal itu. “Ternyata kamu sama aja kayak orang-orang ya, sama-sama suka ngehakimin orang lain hanya berdasarkan apa yang kamu lihat. Clarice, pikir pakai logika ya? Mana ada ceritanya orang semarah itu sampai nampar orang jika enggak ada duduk permasalahannya. Kamu hanya tahu dari sisi Nabila, kan? Inget ya Cla, apa yang diomongin orang terdekatmu itu enggak selamanya mengandung kejujuran.”
“Candice, tapi Nabila enggak pernah jahatin orang. Dia …”