Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #8

Bab 8: Yang Tidak Tampak

Hari Minggu bagi sebagian orang merupakan saat yang tepat untuk bersantai, namun tidak bagiku. Hari Minggu justru menjadi pertunjukan langsung soal kekuranganku di depan wajahku. Aku paham bahwa orang-orang, bahkan keluargaku, tidak pernah benar-benar mencintaiku. Dan saat ini, hal itu tengah berlangsung dan memvalidasi pemikiranku.

Kami baru saja selesai berolahraga bersama di gelanggang olahraga Lembu Peteng saat serombongan orang menyapa orang tuaku. Mereka lalu menyapa ketiga saudaraku dan melewatkanku yang berdiri tepat di depan wajah mereka. Mereka hanya mengobrol dengan tiga saudaraku dan orang tuaku. Respon orang tuaku pun sangat mengecewakan. Mereka membiarkan orang-orang itu begitu saja, tanpa ada gestur pembelaan untukku.

‘Orang-orang munafik,’ batinku. Kejengkelan itu semakin menjadi saat aku menyadari bahwa warna suara mereka adalah hitam bercampur hijau tua. Entah apa yang mereka bicarakan hingga warna suara mereka menunjukkan percakapan yang sarat kebohongan dan celaan.

Kami akhirnya berpisah dengan orang-orang munafik itu. Aku berpura-pura tidak melihat ketika Ayah berusaha mengajakku mengobrol dengan isyarat. ‘Untuk apa aku menanggapi isyarat itu? Kalian pikir aku bodoh dan bakalan tetap percaya sama kalian? Percaya pada orang yang bahkan enggak melakukan pembelaan buatku saat aku dihina terang-terangan?’ batinku jengkel.

Aku tersentak saat Ayah secara tiba-tiba membalikkan badanku paksa agar menghadapnya. Ayah tersenyum kecil saat aku menatap matanya, kemudian berisyarat, “Kamu mau sarapan apa?”

‘Sarapan kemarahan,’ batinku. Namun aku tidak mengisyaratkan suara batinku. “Aku mau soto daging.” Ayah mengangguk-angguk setuju. Kami lalu pergi sarapan soto daging.

***

Kami tiba di rumah makan yang menjual soto daging dan beragam menu lainnya. Tempatnya berada di kompleks pertokoan dan kuliner di sekitar Stasiun Tulungagung. Aku bisa melihat ada banyak gelombang suara di sana. Mulai dari putih, merah muda, hijau muda, dan lainnya. Saat kami sedang makan, sesuatu menubruk punggungku dari belakang secara tiba-tiba. Aku refleks menoleh, begitu juga keluargaku.

Ada seorang anak perempuan berusia 5 tahun menatapku dengan takut. Dia tidak sendiri karena ada seorang wanita duduk di sampingnya. Wanita itu mengucapkan sesuatu entah apa namun disertai dengan penyesalan yang tulus dari hati karena berwarna ungu muda.

Aku menatap Kak Cedric yang duduk di sampingku. Kak Cedric berisyarat, “Dia adalah ibu anak ini, dia minta maaf karena anaknya enggak sengaja menubruk kamu saat mau duduk.”

“Bisa tolong bilangin ke ibu itu bahwa aku enggak apa-apa dan maaf karena enggak bisa mendengar apa yang beliau ucapkan?”

Kak Cedric mengangguk menyanggupi permintaanku. Kemudian, dia berbicara pada si ibu. Ibu itu lalu menatapku dengan senyum dan sebuah kejadian tak terduga membuatku tercengang. “Terima kasih banyak karena sudah memaafkan anak saya. Saya minta maaf karena anak saya sudah melakukan kesalahan.”

“Anda bisa berbahasa isyarat?”

Ibu itu mengangguk. “Saya bisa karena anak pertama saya seorang tuli karena dia mengalami demam tinggi saat bayi dan berakibat kejang. Sehingga hal itu merenggut kemampuannya mendengar.”

Lihat selengkapnya