Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #9

Bab 9: Topeng Seribu Wajah

Hari ini, sekolah mengadakan festival yang akan berlangsung selama seminggu ke depan. Hal ini membuatku sangat tidak nyaman. Ada banyak orang di sekelilingku, namun hanya aku yang tersisih di sini. Raline dan Prameswara tampak sangat senang, mereka terus saja mengajakku menjelajahi berbagai kios jajanan. Clarice pergi bersama temannya yang lain entah kemana, begitupula dengan Pramadana.

‘Bosen banget! Mau pulangggg,’ aku mengeluh dalam hati. Sedari tadi, ada banyak warna hijau muda dan putih di sekelilingku. Sesuatu muncul memecah kebosananku dengan tiba-tiba. Ada gelombang berwarna ungu yang sangat pekat tiba-tiba muncul dan hal ini menarik perhatianku. Aku refleks mengikuti asal gelombang. Gelombang ini berasal dari ruang osis. Sayangnya, aku tidak bisa masuk ke sana untuk memastikan si pemilik suara yang sedang bersedih ini.

Seseorang mengguncang bahuku tiba-tiba, hingga membuatku menoleh menatap si pelaku. Raline menatapku penasaran seraya berisyarat, “Kenapa kamu lihatin ruang osis? Ada sesuatu yang menarik perhatianmu?”

“Di ruang osis itu ada siapa aja?” Aku tahu isyaratku ini terlihat bodoh, namun aku sungguh penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana. Siapapun si pemilik gelombang itu, aku merasa bersimpati padanya karena kesedihan yang dia rasakan saat ini. Semoga saja kesedihan itu bisa segera sirna.

Raline mengerutkan keningnya seraya berisyarat, “Harusnya Clarice dan Pramadana ada di dalem situ. Oh ya, sama beberapa bintang tamu yang akan manggung sebentar lagi. Nah, mereka keluar.” Raline lalu membalikkan badanku ke arah panggung yang berada di depan ruang osis.

‘Eh wajahnya tersenyum ya?’ Aku akhirnya melihat sendiri si pemilik gelombang berwarna ungu itu. Wajahnya tersenyum kendati suaranya berwarna ungu. Aku menatap Raline seraya berisyarat, “Laki-laki yang pakai baju biru itu siapa?”

“Dia Ramandhana Putra. Salah satu penyanyi remaja yang terkenal. Dia udah sering konser ke luar negeri dan banyak fansnya. Dia beberapa kali mengisi acara pameran lukisan dimana lukisan kita juga dipasang di sana. Kita terakhir melihat dia di Surabaya.” Kemudian, ekspresi Raline berubah jenaka. “Kenapa? Kamu tertarik sama dia? Kalau iya, kita ke belakang panggung buat minta foto bareng. Aku bisa menggunakan nama belakangku supaya mereka kasih akses ke kita.”

“Aku kasih tahu Pramadana dulu ya? Kalian tunggu di sini.” Prameswara buru-buru mengambil tindakan, padahal aku belum memberitahu keinginanku.

“Kita cari tempat duduk yuk sambil menunggu mereka selesai tampil.” Raline lalu mengajakku mencari tempat duduk yang teduh. Kami kemudian duduk di bangku taman yang ada di bawah pohon besar. Lalu, aku mengambil buku sketsa dari dalam tasku yang sedari tadi kubawa, kemudian mulai menggambar orang-orang yang ada di atas panggung.

‘Aku enggak tahu lagu apa yang dia nyanyikan, tapi warna suaranya masih tak berubah,’ batinku. Prameswara datang tak lama kemudian sambil tertawa. Warna suaranya berwarna hijau sangat muda. Rasa senang itu mungkin berasal dari keberhasilannya membujuk Pramadana.

“Mereka setuju untuk berfoto bersama setelah ini. Awalnya mereka menolak, tapi aku inget bahwa Callista Amarilis Setijadi adalah pemilik EO besar. Jadi aku bilang saja pada mereka bahwa anak bungsunya Callista Amarilis Setijadi ingin berfoto bersama Ramandhana,” jelas Prameswara dengan bahasa isyarat.

Aku takjub mendengar cara yang dipakai oleh Prameswara. Teman-temanku ini benar-benar ahli memanfaatkan koneksi dan latar belakang mereka. “Sekalian saja kamu bilang bahwa aku adalah anaknya Raven Chandra Wirawan. Biar mereka semakin membuka aksesnya.”

“Oh bener juga! Siapa yang enggak tahu pertanian RCW ya? Yang menguasai 90% pasar buah-buahan di Indonesia.” Prameswara menatap ke panggung sebentar, kemudian kembali menatapku. “Ayo kita ke belakang panggung sekarang. Rama udah hampir selesai.” Kami bertiga lalu berjalan menuju belakang panggung.

***

Aku baru menyadari bahwa selebriti itu cukup hebat berakting. Aku memang tidak bisa mendengar suara Rama, namun raut wajahnya tampak sangat ramah walaupun suaranya berwarna ungu. Dia menatapku dengan senyum seraya mengetikkan sesuatu di ponselnya. Kemudian dia menunjukkan ponsel itu padaku. ‘Aku tahu kamu siapa. Kamu pemenang International Youth Painter 2024 di Taiwan,’ tulisnya.

Aku mengernyit saat membaca tulisan itu. Kemudian, aku mengeluarkan ponselku dan menulis di aplikasi catatan. ‘Kamu tahu aku?’

Dia mengangguk ketika kutunjukkan ponselku padanya. ‘Aku punya beberapa lukisanmu, Candice. Aku bahkan berkunjung ke pameranmu. Pameranmu tahun lalu ada di Surabaya kan? Bersama Blue Galleria milik Henry Setiawan.’ Rama menuliskan kalimat itu di ponselnya yang dia tunjukkan padaku.

‘Kamu penyanyi, Rama. Kenapa kamu membeli lukisanku?’ Kalimat-kalimatnya membuatku penasaran. Aku tak tahu apakah dia benar-benar jujur padaku bahwa dia memang tahu aku, atau dia baru saja mencari tahu melalui internet. Karena cukup mudah untuk mencari tahu informasi tentangku di internet. Sekilas, aku melihat senyum penuh luka darinya. Namun, senyum itu hilang dengan cepat saat dia tengah mengetik di ponselnya.

‘Warna-warna yang kamu pakai entah kenapa bisa bikin aku ikut ngerasain emosi di lukisanmu. Aku ngerasa nyaman melihat lukisanmu, Candice. Seolah-olah perasaanku tersampaikan melalui lukisanmu. Padahal kita belum pernah bicara dalam jarak dekat.’ Rama kemudian tersenyum kecil padaku, lalu beralih menatap seseorang di sampingnya sembari bicara. Prameswara menerjemahkan kalimat manajer Rama yang menyatakan bahwa waktu kami tinggal sedikit karena Rama harus menghadiri jadwal berikutnya.

Aku mengerti. Kami kemudian berfoto bersama. Aku lalu memberikan sketsa yang kugambar tadi padanya. Dia tersenyum lembut menatapku. Kemudian aku meminta Raline untuk menerjemahkan isyaratku. Raline mengangguk dengan senyum lebar. “Kalau kamu setuju, aku bisa mengirimkan salah satu lukisanku padamu. Kamu bisa menghubungiku melalui media sosialku.”

Lihat selengkapnya