Pagi ini kepalaku terasa sangat sakit. Sejujurnya, sudah 2 minggu ini aku tidak tidur dengan baik. Aku tidur malam pada pukul 23.00, bahkan lebih, dan selalu bangun pada pukul 04.30. Sedangkan pada siang hari, aku tidak tidur. Tanggal pengumpulan lukisan semakin dekat dan lukisanku masih jauh dari kata selesai sehingga aku harus mengorbankan jam tidurku.
Rasa sakit ini semakin menjadi-jadi menjelang siang. Mataku berkunang-kunang, perutku mual, serta suhu badanku meningkat. Aku menatap Clarice dengan pandangan mata yang berkunang-kunang. Dia menatapku balik dengan cemas. Aku akan berisyarat untuk memberitahunya tentang keadaanku, namun semuanya tiba-tiba berubah menjadi sangat gelap.
***
Sakit adalah hal yang pertama kali kurasakan saat aku mendapatkan kembali kesadaranku. Seluruh bagian tubuhku terasa sangat sakit dan juga sangat lemas. Ada sesuatu yang berbeda pada ruangan ini. Temboknya berwarna putih dengan kertas dinding bermotif bunga berwarna coklat muda. Kemudian, kasur tempatku berbaring tampak berbeda dan lebih kecil. Rasa sakit menusuk tangan kiriku saat aku bergerak. Kuangkat tangan kiriku dan menemukan selang infus terpasang di sana.
‘Rumah sakit? Oh aku juga udah ganti baju,’ batinku saat menyadari bahwa kini aku mengenakan piyama bermotif panda berwarna hijau milikku. Aku lalu menatap sekeliling dan melihat Mama tengah duduk membelakangiku di kursi yang berada di samping kasurku. Mama sedang menelepon seseorang karena aku bisa melihat warna ungu di sekelilingnya. Aku lalu menyenggolkan kaki kiriku ke Mama.
Mama menoleh padaku kemudian tersenyum. Ada binar lega di matanya. Mama lalu mematikan teleponnya, kemudian berisyarat padaku setelah meletakkan ponselnya ke meja di samping kasur, “Apa yang kamu rasakan sekarang? Kamu mau makan apa?”
“Kenapa aku bisa ada di sini? Tadi kan aku sekolah. Badanku juga sakit semua.”
“Kamu tadi siang pingsan, jadi kakak-kakakmu memutuskan buat bawa kamu ke rumah sakit karena kamu enggak sadar-sadar. Dokter bilang kamu harus dirawat selama beberapa hari.” Mama membelai kepalaku lembut, kemudian kembali berisyarat, “Makan ya? Supaya cepet pulih.”
Aku mengangguk patuh. Disaat seperti ini, aku tidak bisa bertindak semauku. Aku pasti akan semakin merepotkan mereka untuk beberapa hari ke depan. Dan tentu saja aku harus tahu diri. Aku memaksakan diri untuk mengunyah jatah makan dari rumah sakit yang disuapkan oleh Mama.
Pintu ruang rawatku terbuka karena ketiga saudaraku memasuki ruang rawat. Mereka membawa banyak koper serta dua tas besar entah apa isinya. Kak Cedric berjalan mendekatiku sedangkan dua saudaraku yang lain sedang membongkar isi koper. “Apa yang kamu rasain sekarang?” isyarat Kak Cedric, kemudian dia menempelkan punggung tangannya ke dahiku.
“Badanku sakit semua. Kepalaku juga sakit. Oh ya, kok kalian udah pulang?” Aku menatap ketiga saudaraku dengan penasaran. Kenapa mereka ada di sini? Ini sudah jam berapa?
Kak Cedric tersenyum kecil seraya berisyarat, “Ini udah jam 8 malem, sekolah udah pulang dari tadi. Kamu enggak sadar selama berjam-jam, jadi kami membawamu ke rumah sakit. Oh ya, Ayah sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Mungkin 2 jam lagi sampe.”
“Ayah dari Semarang ya? Seingatku, Ayah ada urusan kerjaan di Semarang 4 hari.”
“Iya, tapi Ayah delegasikan tugas itu ke asistennya. Jadi, Ayah bisa nemenin kamu di sini. Kita juga akan tidur di sini kok.”
Aku menatap ke pojok ruangan. Kamar ini berisi satu tempat tidur pasien, satu set sofa, serta lemari kecil di samping tempat tidur pasien. Ada juga meja beroda di samping lemari, televisi yang digantung di tembok yang berhadapan dengan kasur pasien, serta kulkas di samping sofa. Ruangan ini cukup luas untuk kutempati. Pojok ruangan yang semula kosong kini diisi dengan 5 kasur lipat yang kini sudah dipasangi sprei, satu bantal bersarung di masing-masing kasur, dan satu selimut di masing-masing kasur.