Seharusnya, aku sudah terbiasa dengan kesepian dan keheningan. Nyatanya, aku tetap saja merasa tidak nyaman dengan itu semua. Aku menghela napas panjang saat melihat unggahan Clarice pada akun media sosialnya yang secara tak sengaja lewat di berandaku. Unggahan itu merupakan unggahan hari ini. Dia sedang berfoto bersama orang-orang mengenakan jaket olahraga di pendapa. Aku tahu dia akan berangkat mewakili daerah di ajang nasional minggu depan. Di foto itu, ada Clarice, kedua kakak laki-laki kami, Prameswara, dan juga Pramadana. Mereka tersenyum sangat lebar dan hal itu membuatku sakit hati.
‘Pada akhirnya, aku enggak penting ya buat kalian? Selama aku sakit, kalian bahkan enggak datang ke sini walaupun kalian bertanya tentang kabarku melalui ponsel,’ monologku dalam hati. Aku lalu membuka akun Pramadana dan melihat ada banyak unggahan baru beberapa hari ini. Satu yang kusadari adalah bahwa dia pada akhirnya juga meninggalkanku, karena foto-foto itu berisi tentang aktivitasnya dengan rekan timnya dan selalu ada Clarice di sana.
Aku mengalihkan pandanganku saat beberapa warna suara muncul bersamaan dan tiba-tiba. Asalnya dari luar kamar rawatku. Warna suara itu pertanda kesedihan yang dalam. Ungu tua yang pekat. Aku menatap Mama yang kini berjalan ke pintu ruang rawatku. Entah siapa yang ada di balik pintu itu, namun sepertinya itu adalah suara seseorang yang Mama kenal. Lalu, ada Raline masuk ke ruang rawatku bersama dengan Ayahku.
Raline tersenyum lembut saat menatapku. Kedua tangannya membawa kantung plastik yang tampak penuh entah oleh apa. Raline menyerahkan kantung itu pada Mama, dia lalu duduk di kursi di sebelah kasurku. “Gimana kondisi kamu hari ini?” tanyanya dalam bahasa isyarat.
“Aku udah jauh lebih baik, tapi masih belum boleh pulang. Kamu kok udah ada di sini?”
“Iya, kan udah jam pulang sekolah. Jadi aku ke sini. Maaf ya aku enggak bisa nemenin kamu terus-terusan.”
Entah apa yang terjadi padanya, tapi Raline tampak sangat sedih walaupun dia terus tersenyum. Ada sebuah perasaan lega yang menyenangkan saat aku berinteraksi dengan Raline. Sejak aku dirawat, Raline selalu datang menjenguk tanpa absen sekalipun. Kehadirannya membuatku merasa diterima dan aman di dekatnya. Berbeda dengan si kembar itu.
“Makasih karena udah mau ke sini. Maaf merepotkan kamu.”
“Enggak dong! Oh ya Candice, boleh aku tanya sesuatu? Tapi kalau enggak mau juga enggak masalah.”
Aku mengernyit melihat isyaratnya. Rasa penasaran seketika mengusikku. “Ada apa?”
“Kamu dan Nabila kenal akrab ya?”
“Enggak, kami enggak pernah satu sekolah. Dia temannya Clarice dan aku pernah ketemu dia waktu diajak Clarice pergi main. Awalnya, dia biasa saja sama aku. Aku enggak pernah berinteraksi akrab sebelumnya, karena dia cenderung menghindari aku. Aku juga menutup diri dari dia. Tapi tiba-tiba dia benci aku.”
“Kamu inget enggak kapan dia mulai nunjukin rasa enggak suka itu ke kamu?”
Aku mengingat-ngingat kembali kapan hal itu dimulai. Kemudian, aku teringat pada momen yang sudah lama sekali dan nyaris kulupakan. Permulaan kebenciannya adalah ketika aku tampil di publik bersama Henry Setiawan dan Raline Setiawan. “Seingatku setelah aku muncul di media bersama keluargamu dalam pameran lukis. Mungkin saat SD? Dia mulai kelihatan enggak suka sama aku dan selalu sinis sama aku. Padahal interaksi kami hanya sekilas lalu.”
“Apa dia pernah bilang sesuatu sama kamu soal keluarga Setiawan?”
“Seingatku enggak. Tapi dia kelihatan banget enggak suka aku ada di dekat kalian. Lalu, aku ingat dia mulai begitu saat aku muncul bersama kalian dirilis resmi keluargamu. Kenapa, Line? Kamu ada hubungan apa sama dia?”
Aku kaget saat warna suara berwarna ungu tua bercampur kuning tiba-tiba muncul dalam jumlah lumayan banyak. Aku lalu menatap ke sumber warna dan melihat Clarice, kedua kakakku, serta Prameswara dan kembarannya masuk ke kamarku. Ekspresi Clarice dan Prameswara kentara sekali terkejut. Clarice lalu berbicara pada Raline. Aku tak bisa mendengar pembicaraan mereka, namun warna suara keduanya merah pekat.
Suasana tiba-tiba berubah tegang karena Raline tampak jengkel pada Clarice sedangkan Clarice pun demikian. Clarice bahkan menunjuk-nunjuk Raline. Ada apa ini? Sayangnya, orang-orang mengabaikanku dan kini sedang sibuk dengan Clarice dan Raline yang sedang bertengkar. Kak Chandler lalu membawa Clarice keluar dari ruang rawatku diikuti oleh Kak Cedric. Sedangkan Raline keluar bersama Ayah dan Mama. Kini, tersisa aku dan Prameswara serta Pramadana. Keributan ini membuat pertanyaanku pada Raline tak terjawab sekaligus menimbulkan pertanyaan baru.
“Ada apa? Mereka kenapa? Kapan kalian datang?”
Pramadana tersenyum kecil, dia lalu duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Raline. Sedangkan Prameswara tengah membuka kulkas, kemudian mengupas apel dan pir yang dia ambil dari dalam kulkas. “Kami datang dari tadi. Tapi kami ada di kantin rumah sakit dulu buat makan. Oh ya, gimana kondisimu? Apa yang kamu rasain?”