“Kamu yakin?” Aku menatap Kak Chandler dengan jengah. Dia sudah menanyakan ini ratusan kali sejak semalam. Aku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter tiga hari yang lalu, dan kini aku memutuskan untuk masuk sekolah.
Kak Cedric menimpali dengan isyarat, “Masuknya setengah hari aja ya? Nanti jam 11 pulang. Gimana? Guru pasti ngebolehin kok.”
Aku menatap ketiga saudaraku yang juga sedang menatapku. Kami berempat masih di dalam mobil walaupun sudah sampai sekolah. “Aku mau sekolah sampai waktunya pulang! Lagian, aku udah sembuh kok! Aku udah ketinggalan pelajaran terlalu jauh dan tenggat waktu pengumpulan lukisan tinggal sebentar lagi,” isyaratku.
“Kan ada aku! Aku udah bikinin salinan materi sekolah loh! Kamu juga enggak perlu khawatir soal nilai, karena aku pasti bantuin kamu.” Clarice ikut ambil pendapat. “Sekolah dan melukis itu penting, tapi kesehatanmu jauh lebih penting.”
‘Enggak bakalan selesai nih urusannya!’ batinku jengah. Aku tidak membalas isyarat mereka dan memutuskan untuk keluar dari mobil. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, namun warna suara mereka berwarna kuning bercampur ungu. Kakiku lalu melangkah memasuki sekolah.
***
‘Rupanya, aku tetap ditinggalkan ya?’ batinku seraya menatap kepergian Clarice dan Pramadana yang kini tampak berbicara akrab dengan senyum. Pramadana kini lebih dekat dengan Clarice dan aku tak suka itu. Walaupun warna suara keduanya berwarna putih, namun gerak-gerik mereka menunjukkan kedekatan.
Aku terkejut saat seseorang mencolek lenganku. Aku menatap Raline yang kini sedang menatapku. “Kenapa?”
“Kamu mau istirahat di kelas apa makan di taman? Bawa bekal enggak?”
“Bawa. Makan di taman gimana?”
Raline mengangguk. Kami kemudian berjalan menuju taman sambil membawa tas bekal masing-masing. Di tengah perjalanan, kami tak sengaja melintasi rombongan para murid anggota ekstrakurikuler karate yang tengah berlatih. Oh benar juga, besok mereka akan berangkat ke Malang untuk pertandingan. Saat sedang berjalan, Pramadana melambaikan tangannya padaku dengan senyum riang. Aku pun balas tersenyum kecil.
***
Aku menatap horor pada Raline dan Nabila yang sedang bertengkar di lorong kelas. Sekolah sudah usai sejak 20 menit yang lalu, namun aku harus ke toilet dan Raline dengan senang hati menemaniku. Sialnya, kami bertemu Nabila saat akan pulang dan entah kenapa, Nabila tiba-tiba tampak marah sambil menggerakkan mulutnya yang aku yakini sedang memaki kami ditambah lagi warna suaranya berwarna merah pekat.
‘Aduh! Ini gimana?!’ Aku berusaha melerai mereka, namun aku kalah tenaga. Ditambah lagi, aku sendirian. Clarice dan si kembar tidak mengikuti pelajaran setelah istirahat karena harus berlatih. Aku menarik tangan Raline, namun dia menyentakkan tanganku dan kini malah saling jambak dengan Nabila. Aku lalu mengambil ponselku dan melakukan panggilan video pada Kak Chandler.
Namun belum sempat panggilan video itu diangkat, ketiga saudaraku sudah muncul lebih dulu di lorong. Kak Chandler dan Kak Cedric lalu memisahkan Raline dan Nabila sedangkan Clarice menarikku ke belakang punggungnya. Raline dan Nabila masih dalam kondisi marah karena suara mereka merah pekat. Clarice menghubungi seseorang menggunakan ponselnya sambil memastikan aku tetap aman di belakangnya.
Bu Ratna datang bersama Pramadana. Bu Ratna lalu berbicara dengan keduanya, kemudian Bu Ratna membawa mereka. Ketiga saudaraku dan Pramadana kini menatapku khawatir. “Apa yang terjadi? Kamu enggak apa-apa kan?” isyarat Kak Cedric sambil memeriksaku.