Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #13

Bab 13: Bukan Surat Cinta

Aku menghela napas berat saat melihat foto-foto yang diunggah oleh Clarice di akun sosial medianya. Hari ini, dia, kedua kakak kembarku, serta si kembar Prameswara dan Pramadana sedang berada di Malang untuk turnamen. Mereka tampak bahagia dan tersenyum cerah. ‘Andai aku normal, pasti aku punya banyak temen,’ monologku dalam hati. Sejujurnya, aku iri dengan Clarice yang selalu dikelilingi oleh banyak orang sedangkan aku berkawan dengan sepi.

Seseorang mengguncang-guncangkanku secara mendadak. Aku menatap si pelaku yang kini tersenyum sangat lebar. “Candice, nanti main yuk! Mau ya? Ya? Ya?”

Aku meletakkan ponselku ke dalam saku rok seragamku seraya menatap Raline dengan heran. Lalu, kubalas isyaratnya, “Boleh sih, nanti aku bilang ke Mamaku. Tapi bentar deh, kok kamu ada di sini?”

“Emang kenapa? Clarice kan enggak ada! Aku sebenarnya mau duduk sama kamu dari awal, tapi enggak bisa karena Clarice. Jadi mumpung dia enggak ada, aku duduk di sini deh!” Raline selalu tersenyum lebar saat bersamaku. Binar matanya pun tampak cerah dan bersemangat. Bersamanya selalu membuatku merasa hidup dan bahagia. Dia membuatku mengerti bahwa masih ada orang yang tulus padaku tanpa pamrih. Percakapan kami terhenti karena Bu Jessica dan guru fisika kami memasuki kelas.

***

“Halo Candice, kamu kok sendirian? Raline mana?” Bu Jessica menghampiriku yang duduk sendirian di gazebo taman. Jam istirahat sudah dimulai sejak tadi dan kini aku sedang duduk sendirian di gazebo sambil menunggu Raline yang sedang di toilet.

“Raline lagi di toilet. Bu Jessica kenapa bisa ada di sini sekarang? Biasanya Bu Jessica tidak pernah ada di taman belakang saat istirahat.”

“Saya mau ngecek kamu, karena saya tahu bahwa kamu sendirian hari ini. Jadi, gimana sekolahmu? Teman-teman baik sama kamu?”

“Teman-teman yang mana? Saya hanya punya Raline saja dan dia baik sama saya untuk sementara.”

“Untuk sementara?” Kernyit bingung terpatri jelas di wajah Bu Jessica. Aku tahu kenapa beliau bisa menatapku dengan ekspresi itu. Beliau tidak tahu bahwa kini hanya ada Raline di sisiku. Keluargaku tidak pernah menerimaku sepenuhnya, begitupula Pramadana dan Prameswara. Sedangkan orang-orang di kelasku menganggapku tidak ada.

“Ibu pikir kehidupan saya bahagia ya? Orang-orang menerima saya dengan tangan terbuka? Kalau Ibu lupa, Ibu harusnya ingat bahwa saya pernah marah pada orang tua saya di depan Ibu. Selama ini, tidak ada orang yang benar-benar menyayangi dan tulus pada saya. Mereka terpaksa menerima saya karena sudah terlanjur beririsan dengan saya.”

“Tapi kakak-kakakmu selalu bersamamu, begitu juga dengan Prameswara dan Pramadana.”

Kalau aku bisa bersuara, mungkin saja aku sudah tertawa sumbang melihat isyarat itu. Namun, yang bisa kulakukan hanyalah tersenyum kecut. “Secara fisik memang iya, tapi mereka sering menganggap saya tidak ada. Jadi buat apa menganggap mereka ada?”

“Maksudnya?”

Aku tak tahu apakah Bu Jessica benar-benar tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu. Jadi dengan terpaksa, aku harus menjawab pertanyaannya itu. “Mereka tidak pernah mengajak saya dalam topik apapun yang mereka bicarakan. Kenapa saya tahu? Karena saya punya mata untuk melihat dengan jelas bahwa mereka selalu berbicara dengan suara tanpa melibatkan saya. Dan hal itu selalu terjadi. Saya tahu bahwa saya terlalu memaksa orang-orang untuk menerima saya, tapi saya juga manusia.”

Aku lalu meninggalkan Bu Jessica bertepatan dengan kedatangan Raline. Kami lalu meninggalkan Bu Jessica di sana. Lebih tepatnya, aku memaksa Raline untuk meninggalkan beliau. “Ada apa? Kamu diapain sama beliau?” tanya Raline dalam bahasa isyarat. Namun, aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaannya.

***

Lihat selengkapnya