Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #14

Bab 14: Surat-Surat Yang Masih Berlanjut

Surat-surat itu selalu datang setiap hari dan diselipkan ke tasku. Amplop dari surat-surat itu berwarna-warni dan tampak lucu, sehingga mirip surat cinta serta memiliki aroma vanila mint yang khas. Namun isi surat itu adalah hujatan yang terasa sangat menyakitkan bagiku.

“Kamu yakin orang tua dan saudara-saudaramu enggak perlu tahu soal ini?” Raline menatapku dengan cemas. Kami sedang berada di belakang kelas berdua. “Isinya udah keterlaluan, Candice. Ini udah masuk kriminal.”

Aku menghela napas berat. Kubaca sekali lagi isi surat yang ada di genggaman tanganku. ‘Kenapa kamu harus baik-baik saja, Candice? Gara-gara kamu, Clarice mengalami cedera pada pundak kanannya dan hal itu membuatnya gagal mengikuti turnamen nasional! Harusnya kamu yang terluka! Aku enggak akan melepaskanmu, Candice!’ bacaku dalam hati.

Manik mata Raline tampak sangat khawatir. Sebenarnya aku juga merasa cemas, tapi sampai detik ini tidak ada yang tahu soal ini. Karena jika mereka sudah tahu, mereka tidak akan melepaskan orang ini kan? Lalu, bagaimana jika mereka sebenarnya tahu namun memilih membiarkan? Toh keluargaku sudah sering melakukan hal itu.

“Aku enggak mau, Raline. Karena aku enggak percaya dengan keluargaku. Mereka masih berhubungan dengan orang-orang yang benci aku. Alasannya karena bisnis sehingga bikin keluargaku enggak bisa mutus hubungan begitu aja sama orang-orang itu.”

“Tapi ini bahaya, Candice. Orang ini tahu celahmu dan enggak menutup kemungkinan bahwa dia berniat celakain kamu. Dia bahkan tahu hal-hal privat yang terjadi di hidupmu.”

“Itu berarti orang ini deket dengan keluargaku, Raline. Hal itu bikin aku makin terjepit. Aku merasa bahwa keluargaku enggak sayang sama aku. Mereka terpaksa nerima aku.”

Raline menatapku dengan sorot kaget sekaligus tak percaya. “Kenapa kamu bisa mikir gitu?”

“Ada banyak orang di sekitar keluargaku yang terang-terangan benci aku. Dan kamu tahu? Keluargaku tahu itu tapi mereka membiarkannya dan masih tetep akrab sama mereka.”

“Lalu, gimana dengan Pramadana? Prameswara?”

Aku menghela napas berat. Kutatap Raline dengan lelah. “Mereka sama aja, Raline. Mereka udah ninggalin aku. Jadi, aku enggak boleh bergantung sama siapa-siapa karena semua orang pada akhirnya ninggalin aku.”

“Bel udah bunyi. Ayo masuk! Kita bicarain soal ini lagi nanti.”

Kami kemudian berlalu menuju kelas. Siapapun penulis surat ini, aku tahu bahwa dia ada sangat dekat dengan kami. Karena dia tahu penyebab asli cedera bahu Clarice. Clarice mengalami cedera bahu karena menolongku yang terpeleset di tangga rumah akibat sakit kepala hebat. Dia berusaha menangkapku dan menyebabkan bahunya cedera.

***

Pramadana menghadang langkahku yang berjalan tergesa-gesa di koridor kelas. Aku menatapnya dengan tatapan tidak suka. Namun, dia justru menatapku dengan senyum lebar. “Kamu mau main sama aku enggak?” isyaratnya.

Aku menatapnya datar. ‘Kenapa dia dateng lagi ke aku? Bukannya dia akhir-akhir ini deket sama Clarice? Ke mana-mana bareng pula,’ batinku kesal. Aku mengisyaratkan jawabanku, “Enggak mau. Aku capek, mau pulang aja.”

“Kenapa enggak mau? Kamu akhir-akhir ini menghindar dari aku. Aku ada salah apa, Candice? Kasih tahu aku dimana salahku biar aku bisa perbaiki apa salahku. Kamu juga enggak mau angkat teleponku selama aku turnamen kemarin dan kamu makin jauh sama aku setelah aku pulang.”

Aku menatapnya jengah seraya berisyarat, “Bukannya kamu ya yang ninggalin aku? Aku tahu kok temenan sama aku itu banyak capeknya. Dan aku enggak ngelarang kamu buat ninggalin aku.”

Lihat selengkapnya