Hari ini ada acara di sekolahku, yaitu bazar. Bazar sekolah diadakan sebagai peringatan ulang tahun yayasan sehingga semua sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Sinar Mentari hari ini mengadakan bazar di sekolah masing-masing. Selain bazar, ada juga acara permainan kekompakan antar kelas serta berbagai macam acara lainnya. Kali ini, aku menyendiri di gazebo yang ada di taman depan seraya menggambar sketsa. Aku tak tahu ke mana teman-teman dan saudara-saudaraku pergi, tapi untuk kali ini aku benar-benar menikmati kesendirian ini.
‘Hai, ketemu lagi!’
Aku mendongak saat sebuah kertas catatan kecil secara tiba-tiba menutupi pandanganku dari buku sketsa. Rama tersenyum di depanku bersama Hailee yang mengenakan seragam osis. Aku menatap keduanya dengan bingung. Kemudian mengeluarkan ponselku dan mengetikkan sesuatu di aplikasi catatan. ‘Kamu diundang lagi ya jadi bintang tamu?’
Rama mengangguk riang setelah membaca tulisan di layar ponselku. Dia lalu mengeluarkan ponselnya kemudian mengetik di aplikasi catatan. ‘Iya! Aku langsung mengiyakan tawaran dari yayasan karena aku inget sama kamu! Aku harap kita bisa ketemu lagi! Aku tadi tanya ke Hailee kamu ada di mana, dia lalu tanyain ke kembaranmu. Jadi kami nyusul ke sini.’
‘Kalian bersaudara ya? Kalian mirip.’ Aku baru menyadari bahwa Hailee dan Rama mirip, terutama dari cara mereka tersenyum. Senyuman mereka mengingatkanku pada wajah anak kelinci yang lucu dan polos.
Hailee mengangguk, kemudian dia mengetik sesuatu di ponselnya. Lalu dia menunjukkan ponselnya padaku. ‘Iya, ibu kami kembar. Makanya, kami agak mirip. Sketsamu bagus banget.’
Aku tersenyum kecil saat Hailee memuji sketsaku. ‘Makasih. Omong-omong kenapa kalian ada di sini?’ Aku membalas tulisan Hailee dengan tulisan melalui aplikasi catatan di ponselku yang kutunjukkan padanya.
‘Aku pengin banget ketemu kamu lagi! Oh ya, kamu mau ikut pameran lukisan lagi ya? Aku udah baca posternya di sosmed.’ Rama yang kali ini menjawab tulisanku melalui tulisannya di ponsel.
‘Iya. Dateng aja kalau kalian enggak sibuk. Pamerannya terbuka untuk umum kok.’ Aku memberikan jawabanku melalui ponsel.
Rama dan Hailee mengangguk-angguk riang. Namun, sebuah warna suara berwarna merah tiba-tiba muncul bersamaan dengan Rama dan Hailee yang menoleh ke sumber warna. Aku melihat seorang pria paruh baya menghampiri gazebo kami. Dia menatap Rama dengan wajah datar tapi aku tahu dia marah karena suaranya berwarna merah. Dia menatapku sambil berbicara yang aku tak tahu apa isi pesannya, yang pasti dia marah. Kemudian, dia membawa pergi Rama.
Penasaran, aku mencolek lengan Hailee yang masih berada di gazebo bersamaku. Aku lalu mengetik pada aplikasi pesan di ponselku kemudian mengirimkannya pada Hailee. ‘Dia siapa? Wajahnya kelihatan galak.’
‘Dia manajernya Rama. Dia sering marahin Rama akhir-akhir ini karena kontraknya Rama mau habis dan Rama enggak memperpanjang kontrak sama manajemen dia yang sekarang. Jadi mereka sering bertengkar.’ Hailee membalas melalui ponselnya. Kami kini saling melihat ponsel masing-masing dan berkomunikasi menggunakan ponsel.
‘Oh gitu. Terus kenapa kamu masih di sini?’