Aku menatap kedua kakak laki-lakiku yang tengah sibuk mengemas lukisan-lukisanku ke dalam peti kayu. Ayah dibantu oleh Mama sedang sibuk menempelkan alamat penerima lukisan-lukisan ini. Hari ini, kami bekerja sama mengemas pesanan-pesanan lukisanku ke para pembeli. Aku menjual lukisan-lukisan ini melalui sosial media, selain itu aku juga menitipkan lukisan-lukisan ini ke galeri seni agar dijual.
Clarice masuk ke ruang lukis sambil membawa tabletnya, dia berbicara entah apa. Ayah memberi instruksi pada kedua kakak laki-lakiku, kemudian mereka membawa turun satu per satu peti-peti kayu berisi lukisanku. Mama menghampiriku, lalu berisyarat, “Ayo keluar. Orang-orang dari jasa ekspedisi udah datang.”
“Iya.” Aku kemudian keluar bersama Mama. Mataku sesekali menangkap kesibukan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarku. Kemudian, Mama mengajakku untuk duduk di ruang keluarga. Mama sedang memencet-mencet remot televisi. Sedangkan aku hanya menatap Mama tanpa minat. Belum lama film yang dipilih Mama ditayangkan, aku sudah tertidur pulas.
***
Aku mengekori Clarice menuju kamarnya setelah makan malam. Entah kenapa, malam ini aku ingin berada di dekatnya. Clarice tersenyum kecil ketika melihatku ikut masuk ke dalam kamarnya. “Sini duduk sama aku,” isyarat Clarice sambil duduk di kasurnya.
Aku ikut naik ke kasurnya, kemudian menatap Clarice dengan penasaran. Ada satu pertanyaan yang sejak lama menggantung di benakku namun aku tidak berani menanyakannya. Aku takut jawaban yang diberikan oleh Clarice akan menyakitiku. “Cla, boleh aku nanya sesuatu?”
“Tentu boleh! Kamu mau nanya apa?”
“Apa kamu enggak malu punya saudari sepertiku? Aku nyusahin, enggak bisa denger dan ngomong, sakit-sakitan, dan berbagai macam hal buruk lainnya.”
Ekspresi Clarice terlihat sedih saat melihat isyaratku. Dia mengusap lembut kedua pipiku, kemudian berisyarat, “Kamu adalah segalanya buatku. Memang ada saat-saat aku ngerasa capek banget sama kamu. Tapi aku juga tahu bahwa jadi kamu itu enggak mudah. Aku sering membayangkan rasanya jadi kamu, dan itu buat aku sadar bahwa yang paling sakit dan capek di rumah ini adalah kamu.”
“Emang kenapa kamu capek sama aku? Karena aku sering sakit ya?”
Clarice menggeleng sambil tersenyum kecil. “Bukan. Yang bikin aku capek sama kamu adalah pikiran negatifmu. Kamu selalu rendah diri, memandang dirimu adalah orang yang layak dibenci. Aku tahu kamu menerima banyak kebencian dari orang-orang yang enggak bertanggung jawab. Dan hal itu yang bikin kamu jadi punya pandangan negatif pada semua orang, menyamaratakan orang-orang dengan orang yang benci sama kamu. Menganggap semua orang jahat.”
“Emang ada orang yang baik sama aku?” Isyarat Clarice barusan membuatku sangsi. Apa benar yang dia isyaratkan itu? Karena selama ini, semua orang yang kutemui adalah orang-orang yang jahat padaku.
Clarice mengangguk. “Ada banyak, Candice. Bahkan di sekitarmu jauh lebih banyak orang baik daripada jahat. Kalau boleh aku kasih saran, kamu bisa sesekali membuka diri pada orang-orang di sekitarmu.”