Rasa takut, gelisah, dan marah menyelimutiku sehingga membuat tubuhku gemetar. Surat itu hari ini datang lagi dalam bentuk yang jauh lebih menyakitkan untukku. Surat itu ditancapkan dengan pisau di atas mejaku. Selain itu, ada boneka berbentuk bayi dengan telinga teriris di samping surat. Irisan telinga boneka itu diletakkan di atas tubuh si boneka. Aku merasakan perutku mual dan kepalaku sakit sekali saat melihat benda-benda itu, terlebih lagi banyaknya warna suara berwarna merah pekat di sekelilingku. Tanganku berusaha meraih sesuatu yang dapat kujadikan tumpuan karena kepalaku sangat sakit. Dan ketika tanganku berhasil meraih lengan Clarice seketika itu juga duniaku menjadi gelap. Hal terakhir yang kuingat adalah Clarice yang panik dan Pramadana yang berusaha menangkapku.
***
Bau menyengat menusuk hidungku sehingga membuat kesadaranku kembali pelan-pelan. Aku membuka mataku perlahan dan melihat Clarice serta kedua kakakku sedang menatapku dengan penuh kekhawatiran. Awalnya, mereka terlihat buram namun lama kelamaan tampak jelas.
“Ada yang sakit? Kita ke rumah sakit ya?” isyarat Kak Cedric yang diangguki oleh Clarice dan Kak Chandler. Aku menggeleng keras. Saat berusaha duduk dibantu oleh Kak Chandler, aku melihat ada Bu Jessica tengah berbicara serius dengan seseorang yang aku tak tahu siapa. Namun dari warna suara mereka, aku bisa melihat bahwa Bu Jessica sangat marah. Orang itu sepertinya merasakan pandanganku padanya, dia lalu menyenggol lengan Bu Jessica.
Bu Jessica sontak menoleh padaku dan langsung berlari menghampiriku. “Candice, gimana kondisimu?”
“Saya tidak tahu.” Sungguh, aku benar-benar tidak bisa mendeskripsikan perasaanku sekarang karena ada banyak rasa yang kurasakan. Aku lalu menatap ke sekelilingku. Rupanya, ada teman-temanku juga di sana yang menatapku dengan iba. Pandangan itu menusukku tanpa ampun dan menggoreskan luka yang sangat perih. Walaupun aku tidak salah, aku tetap merasa dihakimi dan pandangan itu menyesakkanku.
‘Aku enggak tahan lagi! Aku harus keluar dari tempat ini!’ batinku. Aku lalu turun dari kasur, menerjang orang-orang yang ada di sana, kemudian menyambar tasku yang ada di lantai samping ranjang UKS tempatku berbaring tadi. Lalu, aku berlari kencang keluar dari sekolah. Aku lalu memesan ojek daring saat berada agak jauh dari sekolah. Ojek itu datang 5 menit kemudian. Untuk kali ini, biarkan aku pergi untuk sementara.
***
Aku turun dari bus yang membawaku ke sini. Tadi, aku memasukkan Terminal Gayatri sebagai tujuanku. Aku lalu menaiki bus jurusan Surabaya untuk sampai ke tempat ini. Kemudian, aku berjalan kaki menuju sebuah gerbang berwarna hitam yang dikelilingi oleh tembok tinggi. Rumah yang kudatangi berada persis di depan jalan raya. Aku lalu menekan bel yang ada di tembok pagar bagian luar. Tak lama kemudian, pintu gerbang terbuka. Aku lalu masuk sambil tersenyum pada asisten rumah tangga di rumah itu.
Rumah tiga lantai ini tampak sepi, tentu saja sepi karena para penghuninya masih bekerja di kantor masing-masing. Aku lalu naik ke lantai tiga menuju sebuah kamar dengan pintu berwarna coklat muda dengan gantungan boneka awan berwarna putih pada pintunya. Kemudian, aku membuka pintu tersebut.
Isinya masih sama, begitu juga dengan aromanya. Aku tersenyum kecil saat ketenangan yang familiar mendekapku. Kamar ini dan rumah ini selalu menjadi pelarianku ketika aku terjepit. Aku berjalan ke kamar mandi yang ada di dalam kamar ini untuk membersihkan diri sekaligus berganti pakaian. Kemudian, aku merebahkan diri di kasur usai berbenah.
***
“Mau makan apa?”