Aku baru saja selesai mengirimkan tugas sekolahku ke surel guru-guru saat sebuah surel baru masuk. Alamat surel tersebut merupakan alamat resmi surel tempat lomba melukis tempatku mengirimkan karya beberapa waktu lalu. Aku membuka surel tersebut dan mendapati bahwa aku mendapatkan peringkat pertama dari ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Namun, aku tidak merasakan euforia seperti orang-orang yang mendapatkan peringkat pertama. Karena perasaanku sedang tidak baik-baik saja.
Aku kemudian berjalan menuju dapur meninggalkan kamarku untuk mengambil minum. Di dapur, aku melihat Kak Karina dan Kak Kevin sedang bercanda bersama. Mereka sedang memasak entah apa. Keduanya baru saja sama-sama pulang dari tempat kerja mereka sore ini. Melihat interaksi mereka yang akrab membuatku merindukan rumah. Biasanya jika Kak Cedric tidak sibuk, dia akan mengajakku memasak bersama di dapur. Biasanya jika Kak Chandler tidak sibuk, dia akan mengikutiku ke mana-mana. Dan biasanya jika Clarice tidak sibuk, dia akan menemaniku bahkan tidur bersamaku di kamarku. Sejujurnya, ada banyak hal baik yang sudah terjadi di hidupku.
“Candice, kamu ngapain bengong di situ?” isyarat Kak Kevin saat dia menyadari keberadaanku di belakangnya. “Sini makan bareng! Kami lagi bikin seblak nih! Karin tiba-tiba pengin itu.”
“Oke,” isyaratku seraya mengangguk. Kak Kevin dan Kak Karina memperlakukanku dengan sangat baik. Kak Karina mengambilkan mangkuk dan menuangkan seblak untukku. Kak Kevin juga mengajakku berkomunikasi. Suasana makan juga seru karena mereka memperhatikanku dengan baik.
‘Kenapa aku jadi inget saudara-saudaraku? Kenapa rasanya aku jadi kangen mereka? Aku tahu kok ada banyak hal baik yang mereka kasih ke aku, tapi aku juga mendapat banyak hal pahit karena mereka,’ batinku. Namun, aku masih enggan membuka komunikasi dengan mereka. Aku masih menonaktifkan ponselku.
***
“Candice, kamu sibuk?” Kak Kevin tersenyum seraya berisyarat sambil berjalan menjajariku. Kami baru selesai makan dan sedang menuju ke kamarku. Kak Karina melewati kami sambil mencubit pipiku seraya tersenyum.
“Kak Karin mau ke mana?” isyaratku menyadari pakaian yang dia kenakan dan tas ransel yang dia sampirkan di pundaknya. Kak Kevin dan Kak Karina memang masih mengenakan pakaian kerja mereka ketika kami makan bersama barusan.
Kak Karina berisyarat seraya tersenyum kecil, “Aku harus balik ke kantor. Soalnya, aku harus persiapin fashion show buat baju-bajuku. Apalagi runway yang mau dipake lumayan megah dan tamu-tamunya juga banyak.”
“Semangat, Kak! Kalau Kak Karina butuh bantuan, Kakak bisa kasih tahu aku!”
Kak Karina tersenyum kecil seraya mengusap pipiku. Dia kemudian mencium pipi Kak Kevin, lalu keluar dari rumah. Rata-rata, anggota keluargaku yang berjenis kelamin perempuan bekerja di bidang seni dan berbakat di bidang seni kecuali Clarice. Aku menoleh ke Kak Kevin saat aku merasakan dia menyentuh bahuku. “Kenapa, Kak?”
“Mau ngobrol bareng aku? Udah lama kita enggak ngobrol.”
“Gimana mau ngobrol? Kak Kevin kan sibuk banget. Tapi boleh deh.” Kami kemudian berjalan bersama menuju kamarku yang ada di rumah ini.
***