Aku menatap langit-langit kamarku di rumah keluarga Kak Karina sambil berpikir. Aku baru saja mengaktifkan kembali ponselku dan kali ini jauh lebih lama dari kemarin. Aku membuka sosial media keluargaku satu per satu. Terkesan seperti penguntit memang, tapi entah kenapa aku merasa perlu melakukan ini. Ada banyak momenku yang terekam di sosial media mereka. Aku baru saja menyadari sesuatu bahwa foto-fotoku di sosial media keluargaku jauh lebih banyak daripada foto-fotoku di sosial mediaku sendiri. Keluargaku terkesan memamerkanku ke seluruh dunia dan tidak ada kesan malu sedikitpun.
‘Kenapa gini? Mereka bahkan udah lakuin ini secara bertahun-tahun. Tapi kalau diinget-inget lagi, aku memang enggak pernah ditinggalin dalam hal apapun sama keluargaku. Mereka selalu beli dua barang yang sama buat aku dan Clarice. Clarice juga gitu, dia selalu beliin aku barang dan makanan tiap dia keluar,’ batinku.
Aku lalu beralih ke sosial media ketiga temanku. Dan aku juga menemukan banyak fotoku di sana. Beberapa bahkan aku tidak tahu kapan mereka mengambilnya. Mereka juga membuat keterangan di foto itu dengan kalimat-kalimat indah. Apakah benar mereka peduli padaku? Aku kini membuka salah satu kolom komentar pada fotoku yang ada di akun Raline. Ada satu komentar yang menarik perhatianku.
‘Lebih baik dia daripada Setiawan yang terbuang. Setidaknya, dia berbakat walaupun didera kesunyian,’ tulis akun itu.
‘Ya iyalah! Dia berasal dari keluarga baik-baik dan terpandang. Dia juga pinter secara akademik, enggak hanya pinter ngelukis. Jelas lebih pantes dibanggain daripada Setiawan gadungan itu,’ balas Raline pada akun itu.
Aku mengernyit saat membaca komentar-komentar itu. Setiawan gadungan? Siapa dia? Isyarat-isyarat Pramadana, ketiga saudaraku, dan Kak Kevin kembali berputar di kepalaku. Aku lalu mengirim pesan teks pada Raline. Dua menit kemudian, panggilan video masuk ke ponselku dan aku langsung mengangkatnya.
“CANDICE, KAMU KE MANA AJA SELAMA DUA MINGGU INI?! ASTAGA?!”
Aku belum menjawab isyarat Raline karena sedang sibuk mencari tripod untuk ponselku di laci meja belajar. Kemudian, aku memasang ponselku pada benda itu dan kuletakkan benda itu di atas kasur. Lalu, aku membalas isyarat Raline, “Aku ada di rumah salah satu saudaraku. Aku baik-baik aja kok! Oh iya, aku menghubungi kamu karena mau nanya sesuatu. Kamu keberatan enggak?”
“Oh syukurlah kamu baik-baik aja! Aku enggak keberatan kok. Mau nanya apa?”
“Yakin?”
Ada ekspresi khawatir yang terlintas di wajah Raline saat aku mencoba memastikannya lagi. Dia mengangguk seraya berisyarat, “Iya, yakin kok. Mau nanya soal apa?”
“Ada hubungan apa antara kamu dan Nabila? Dia bagian dari keluarga Setiawan juga?”
Ada raut getir saat Raline melihat isyaratku, namun manik matanya tidak menampakkan tanda-tanda tangisan akan tumpah. Raline menghela napas panjang kemudian berisyarat, “Candice, aku minta maaf ya. Aku minta maaf mewakili diriku sendiri serta orang tua dan kakak-kakakku. Maaf karena perilaku bejat Papaku, kamu harus terseret masalah ini.”