Aku memasuki kelasku dengan tenang. Hari ini aku memutuskan untuk kembali masuk sekolah. Budhe dan Pakdhe serta kedua kakak sepupuku langsung mengantarku ke sekolah saat tadi malam aku bilang ingin kembali sekolah. Aku menatap Nabila yang kini menatapku dengan penuh kebencian. “Pengecut!” isyaratku padanya sambil tersenyum. Dia mengernyit saat melihat isyaratku. Namun, aku tak ambil pusing dengan itu. Kemudian, aku membuka buku pelajaranku dan mulai membaca.
Teman-temanku tidak ada yang membahas tentang kepergianku beberapa hari ini. Mereka tampak biasa saja. Raline masih tertawa riang seolah-olah tak terjadi apa-apa. Padahal, dia baru saja menjatuhkan kabar yang sangat mengejutkan 3 hari lalu. “Kawan akrabmu ngeliatin kamu tuh,” isyaratku pada Clarice yang tengah menatapku. Namun, aku menatap ke belakangnya tepat ke arah Nabila yang juga sedang menatapku.
“Kawan akrabku? Siapa?”
“Nabila Setiawan.”
“Ih Candice! Amit-amit!”
“Loh kalian kan akrab! Deket banget malah! Lagian, kamu harusnya seneng dong deket sama anaknya Henry Setiawan, walaupun Nabila enggak bisa ngelukis.”
Clarice menatapku dengan terkejut. “KAMU TAHU?! TAHU DARI SIAPA?”
Aku menatapnya sambil tersenyum. “Kalian sendiri yang kasih petunjuk ke aku. Jadi, daripada aku menduga-duga, jadi aku nanya langsung ke Raline. Dia jelasin semuanya ke aku.”
“Maafin aku.” Ada raut sesal dan sedih yang sangat kentara di wajah Clarice. Tapi, kenapa dia menyesal dan sedih? Dia tidak dekat dengan Raline, dan hubungannya dengan Nabila juga dingin. Lantas, apa yang dia sesali dan sedihkan?
“Maaf buat apa?”
“Maaf karena aku enggak bisa kasih tahu kamu secara langsung. Maaf karena aku telat tahunya dan udah terlanjur kenal sama Nabila. Kalau aku tahu dari awal, aku enggak akan mau kenal sama dia.”
“Justru kalau kamu kasih tahu aku soal ini, aku bakalan marah banget sama kamu. Karena orang yang lebih berhak ngasih tahu aku soal ini adalah Raline sendiri, selaku orang yang paling dirugikan atas kehadiran Nabila. Kalaupun Raline enggak mau kasih tahu aku soal ini, aku enggak bakalan marah karena itu adalah hak dan privasi dia.”
“Aku beneran minta maaf karena udah kasih ruang buat Nabila masuk di hidup kamu. Maafin aku.”
“Tapi, kamu tahu dari mana perkara Nabila anaknya Papa Raline?”
“Mama yang kasih tahu waktu kita SMP. Mama bilang bahwa Nabila itu anak haramnya Papa Raline, temen kamu. Mama bilang bahwa Mama kenal Mamanya Nabila serta Papanya Raline. Jadi, Mama tahu kasusnya walaupun enggak semuanya.”
“Oh gitu. Bu Jessica masuk!”