Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #21

Bab 21: Perlindungan Yang Aman

Banyak orang mengatakan padaku bahwa aku beruntung terlahir sebagai Candice Raveena Wirawan. Walaupun aku tuli total, tetapi duniaku tidak benar-benar tuli. Rasanya apa yang dibilang oleh orang-orang itu benar, namun aku terlalu buta untuk melihatnya. Aku menatap Kak Cedric yang tampak senang sekali hari ini. Sejak semalam, dia sudah heboh mempersiapkan segala hal dengan baik. Ini Hari Sabtu dan hari masih pagi bahkan matahari baru saja terbit saat kami berdua berkendara menuju Kota Malang. Kemarin pagi, aku membuka surelku setelah beberapa hari tidak pernah kubuka. Aku menemukan surel undangan dari Henry Setiawan bahwa lukisan-lukisanku menjadi beberapa lukisan dari ratusan lukisan yang dipamerkan dan dijual pada pamerannya kali ini. Awalnya, aku berniat tidak datang. Tapi entah kenapa, sebuah ide tiba-tiba melintas begitu saja. Dan di sinilah aku berada sekarang.

Tujuanku datang adalah untuk memanas-manasi Nabila. Aku tahu salah satu alasan dia tidak menyukaiku adalah karena kedekatanku dengan Henry dan keluarganya. Jadi, aku akan berfoto bersama mereka dan mengunggahnya di sosial media. Karena aku yakin, Nabila pasti melihatnya.

Kami berhenti sejenak di salah satu rumah makan prasmanan di Blitar. Sejak semalam, Kak Cedric tampak sangat gembira entah kenapa. “Kak, dari kemarin kok kelihatan seneng banget?”

Kak Cedric meletakkan sendok dan garpu yang dia pegang, kemudian berisyarat, “Iya dong! Aku seneng banget karena jalan-jalan berdua aja sama kamu! Udah lama kita enggak keluar berdua doang!”

“Emang Kak Cedric enggak malu jalan sama aku?”

Senyuman lembut disertai tatapan lembut Kak Cedric ditujukan padaku. Tatapan dan senyuman itu tulus sehingga membuatku merasa aman bersamanya. “Enggak dong! Aku enggak pernah merasa malu dengan kondisimu. Aku menerima kamu tanpa syarat, Candice.”

“Kenapa?”

“Memangnya perlu alasan apa untuk menyayangi saudara sedarah serahimku sendiri?”

 Isyarat Kak Cedric membuatku terdiam. Yang dia katakan memang benar. Dan itu juga berlaku untukku. Cinta adalah sesuatu tanpa pamrih, membuat seseorang merasa aman dan nyaman, serta berlaku dua arah. Jadi, kenapa aku masih terus bertanya-tanya mengapa keluargaku menyayangiku? Kemudian, kami melanjutkan perjalanan kami karena kami sudah selesai sarapan.

***

Raline adalah orang pertama yang menyambut kami di lobi hotel ketika kami tiba. Dia sudah sampai lebih dulu. Pagi ini, Raline tampak cantik dengan balutan terusan selutut berwarna hijau muda dengan motif bunga. “Gimana perjalanan kalian?”

“Untungnya berjalan lancar. Kamu nginep di sini ya sejak semalam?”

Raline mengangguk seraya berisyarat, “Iya, pulang sekolah kemarin aku langsung ke sini. Udah sarapan?”

“Udah tadi.” Aku beralih menatap Kak Cedric yang kini menatapku, kemudian aku kembali menatap Raline. “Ra, aku udah boleh nempatin kamarnya kan? Enggak usah harus nunggu waktu check in kan?”

“Iya, Papaku udah urus soal itu juga. Kamu dan Kak Cedric sekamar. Kasurnya dua kok. Mau istirahat sekarang?”

“Iya. Aku agak capek.”

Raline mengangguk mengerti. Dia lalu mengantar kami ke meja resepsionis, kemudian mendampingi kami ke kamar. Rupanya, kamar kami bersebelahan dengan kamar Raline dan keluarganya. Sesampainya di kamar, aku memutuskan untuk tidur sejenak.

***

Aku baru saja terbangun saat warna hijau muda dari gelombang suara Kak Cedric memenuhi ruangan. Sayup-sayup, aku melihatnya tengah menelepon seseorang dengan posisi memunggungiku. Dia berbaring miring di kasur samping kasurku. Aku penasaran dengan siapa dia mengobrol, namun aku tidak berhak untuk tahu bukan? Karena Kak Cedric tentu saja punya privasi yang tidak boleh kumasuki.

Kak Cedric kini mengganti posisinya menjadi berbaring ke arahku seraya mematikan ponselnya. Dia terkejut sesaat, kemudian meletakkan ponselnya ke meja nakas di sisi kanan kasurnya. Kak Cedric lalu menghampiri kasurku, kemudian duduk di tepi kiri kasurku seraya berisyarat, “Gimana kondisi kamu? Ada yang sakit?”

“Enggak ada. Aku baik-baik aja kok.”

Lihat selengkapnya