Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #22

Bab 22: Kebenaran Yang Terkuak

Pramadana dan Prameswara menatapku dengan tatapan penuh tanya. Sejak pagi, mereka memang sudah menatapku dengan aneh namun mereka tidak mengatakan apa-apa. Dan kini, mereka melakukannya lagi saat jam pelajaran olahraga. Jengah karena mereka terus menatapku seperti itu, akhirnya aku yang membuka percakapan lebih dahulu. “Kalian kenapa sih? Kalau ada yang ganjel, kalian bisa sampein ke aku.”

“Kamu enggak apa-apa?” isyarat yang mengandung kekhawatiran diungkapkan oleh Prameswara dan diangguki oleh Pramadana membuatku kini paham bahwa mereka kemungkinan besar sudah tahu apa yang terjadi pada pameran kemarin. Mungkin Clarice atau kedua kakakku yang menceritakan hal ini pada mereka.

“Kalian tahu soal ini dari siapa? Kalau dibilang aku enggak apa-apa, bohong banget sih. Aku ngerasa sakit hati dan disudutin sama Mamanya Raline. Padahal, masalah ini enggak akan terjadi kalau Papanya Raline enggak aneh-aneh. Tapi sekarang malah aku yang disalahin dan diancem.” Ada rasa sesak yang mengerikan saat aku terpaksa mengingat kembali kejadian kemarin.

Pramadana berisyarat, “Mamamu menghubungi Mama kami. Jadi, Mama kami ceritain soal ancaman itu ke kami dan Papa. Ternyata, Papa kenal sama Mamanya Raline. Papa bilang bahwa orang tua Raline memang sejak awal ada masalah dan Mamanya Raline enggak mau nama baik mereka jadi rusak.”

“Oh ya, Papa juga bilang bahwa Mama kamu tahu yang sebenarnya terjadi. Aku rasa, lebih baik kamu tanya Mamamu soal Nabila dan keluarganya daripada kamu terus menduga-duga soal dia,” imbuh Prameswara.

“Candice, kalau kamu mau unggah masalah ini ke internet enggak apa-apa kok. Kamu bisa tetep ngebongkar kejahatan Nabila tanpa perlu mengaitkannya sama Raline. Karena selama ini, Nabila jahatin kamu ke orang banyak via sosmed juga,” kata Prameswara, “Untuk masalah ini, kamu boleh menjadi egois!”

Tunggu sebentar, Nabila menjahati aku melalui internet? Masak sih? “Nabila jahatin aku lewat internet? Jangan-jangan yang nyebar komen-komen jelek di sosmed soal aku adalah Nabila?”

“Iya. Kamu tanya ke Clarice gimana buktinya, karena katanya yang nemuin buktinya adalah kenalannya Kak Kevin yang kerja di bidang IT. Kamu enggak perlu mikirin nama baik keluarga mereka, karena mereka bahkan enggak pernah mikirin perasaan kamu selama ini,” isyarat Prameswara.

Pramadana menambahkan, “Mereka tahu bahwa Nabila jahat sama kamu selama ini, tapi mereka memilih buat enggak peduli karena bukan urusan mereka. Padahal, Nabila jahat sama kamu karena mereka. Jadi, kamu harus bertindak egois juga karena mereka udah lakuin hal yang sama.”

Warna suara merah pekat yang sangat tajam tiba-tiba muncul dan membuatku kaget. Di saat yang bersamaan, Pramadana dan Prameswara berlari menuju satu tempat secara tiba-tiba. Aku mengikuti mereka dan tercengang melihat Kak Chandler menampar Nabila sangat kencang hingga anak itu tersungkur ke tanah lapangan. Keadaan semakin kacau karena Clarice kini menjambak Nabila disertai warna suara merah pekat.

Tidak ada seorang pun yang memisahkan ketiganya, bahkan Kak Cedric yang sedari tadi berdiri bersama Kak Chandler menahanku agar tidak memisahkan ketiganya. Aku menatapnya seraya berisyarat, “Apa yang terjadi?”

“Teman sekelas kami barusan lihat Nabila ngelakuin tindakan mencurigakan setelah dari toilet perempuan. Mereka ketemu di toilet. Mereka sempat lihat surat beramplop kuning bergambar beruang jatuh dari saku roknya. Cewek yang lihat itu adalah teman dekat Chandler dan dia tahu soal kamu serta teror surat itu. Dia lalu ngikutin Nabila sambil diam-diam ngevideoin dan ternyata memang surat itu ditaruh Nabila di bangkumu.” Penjelasan Kak Cedric membuatku pening seketika dan aku nyaris terjatuh jika tidak ditahan oleh Kak Cedric.

Keadaan semakin ricuh ketika Nabila menangis dan terlihat menjerit-jerit ditambah lagi dengan kedatangan tiga guru BK yang salah satunya adalah guru BK kelasku. Bu Nana lalu menggiring Clarice, aku serta dua kakakku, Prameswara, Pramadana, dan Nabila ke ruang konseling.

***

Lihat selengkapnya