Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #23

Bab 23: Tabir Yang Terkuak

Aku menatap miris pada dua bangku kosong yang ada di kelas ini. Mereka pergi begitu saja tanpa mengucapkan permintaan maaf padaku. Sudah satu minggu sejak insiden itu terjadi. Pemberitaan di media semakin melebar bahkan menyentuh ranah pribadi mereka. Keluarga Setiawan mengklarifikasi bahwa Nabila bukan bagian dari mereka. Tapi, Nabila sendiri akhirnya mengeluarkan bukti bahwa dia adalah anak dari hasil perselingkuhan Henry Setiawan. Satu hal yang pasti, mereka adalah sekumpulan pengecut yang bahkan tidak berani meminta maaf padaku.

Aku menoleh ke kiri saat aroma parfum yang biasa dipakai Prameswara tercium. Aku menatap Prameswara yang juga sedang menatapku. “Kok mereka tega ya lakuin ini semua? Setelah merugikanku, mereka pergi gitu aja.”

“Mereka pengecut. Sedari awal, kalau mereka beneran ada itikad baik, harusnya mereka hentikan Nabila. Tapi mereka diem aja kan? Bahkan mereka udah tahu bahwa Nabila gangguin kamu. Sanksi sosial sedang berjalan buat mereka, Candice.”

“Aku tahu kebaikan Raline selama ini aneh, dia terlalu baik sama aku. Ternyata, kebaikannya selama ini menyimpan sesuatu yang merugikanku.”

“Candice, aku enggak bermaksud ngomporin kamu ya. Tapi, Raline memang udah tahu sejak awal bahwa Nabila gangguin kamu. Dia tahu lebih dulu soal komentar jelek di sosmed itu daripada keluargamu. Dia diem aja karena dia tahu jika masalahnya kebongkar, dia yang akan rugi.”

Fakta ini membuatku terkejut setengah mati. Kebaikan Raline padaku selama ini memang tampak sangat tidak masuk akal. Aku memang tidak pernah percaya sepenuhnya pada Raline, namun tetap saja fakta ini menggangguku. Aku berisyarat dengan perasaan tak percaya pada Prameswara, “Kamu tahu dari siapa?”

“Kak Chandler cerita ke Pramadana bahwa Raline sempat nemuin dia dua hari setelah kejadian itu dan dia cerita semuanya. Kamu bisa tanya Kak Chandler pulang sekolah nanti.”

Apakah yang diisyaratkan oleh Prameswara itu benar? Aku akan menanyakannya langsung pada Kak Chandler pulang sekolah nanti. Aku kemudian duduk di bangkuku karena melihat Bu Jessica dan Bu Irma memasuki kelas untuk memulai pelajaran di jam pertama hari ini.

***

Aku menghadang Kak Chandler yang akan masuk ke kamarnya setelah dia pulang dari latihan taekwondo. Kak Chandler tersenyum padaku seraya berisyarat, “Ada apa?”

“Kakak udah ketemu sama Raline ya?”

“Masuk dulu yuk! Kakak jelasin di dalem.”

Kak Chandler lalu menuntunku masuk ke dalam kamarnya. Aku duduk di tepi kasurnya sedangkan dia langsung membersihkan diri. Butuh waktu 15 menit untuk menunggu Kak Chandler selesai membersihkan diri. Dia berjalan ke arahku seraya mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk. Kak Chandler duduk berhadapan denganku, kemudian menyampirkan handuk itu ke pundaknya. “Jadi, apa yang mau kamu tahu?”

Lihat selengkapnya