Aku menatap Mama dan Ayah yang tiba-tiba saja duduk di kanan dan kiriku saat aku sedang membaca di ruang keluarga. Aku tahu hari ini memang Hari Sabtu, namun tindakan mereka ini cukup aneh. Mama dan Ayah tidak pernah ada waktu untukku saat Hari Sabtu pagi. Ayah selalu keluar dengan kedua kakak laki-lakiku, sedangkan Mama biasanya menghabiskan waktu bersama Clarice berdua saja di dapur.
‘Apa yang mereka inginkan?’ batinku curiga.
“Kamu baca apa, Sayang? Seru?” isyarat Mama yang aku sangat paham dengan jelas bahwa itu hanyalah basa-basi busuk. Mama dan Ayah sedang merencanakan sesuatu, aku yakin itu.
Aku meletakkan novel yang kubaca ke pangkuanku, kemudian berisyarat, “Mama dan Ayah mau apa? Kalian biasanya enggak pernah bersamaku saat Sabtu pagi. Apa yang kalian rencanain?”
“Kami enggak merencanakan apa-apa kok, kamu jangan berpikiran buruk dulu! Kami hanya ingin menghabiskan waktu dengan putri bungsu kami. Memangnya enggak boleh?” Ayah yang menjawab isyaratku.
Aku menatap Ayah dengan penuh curiga. Lalu, aku berisyarat, “Oh ya? Aku enggak percaya tuh! Soalnya, kalian biasanya sibuk dengan urusan masing-masing. Kenapa? Kalian melakukan apalagi? Pasti kalian melakukan sesuatu yang merugikan aku, terus minta aku buat ngertiin kalian.”
“Kami enggak pernah begitu! Jangan kamu limpahkan semua hal buruk yang terjadi pada kami! Mama dan Ayah sudah berusaha semaksimal mungkin menjadi orang tua!”
Pembelaan yang diisyaratkan oleh Mama membuatku tertawa sinis. Aku lalu membalas isyarat Mama, “Tapi kalian selalu berkontribusi memperkeruh suasana dan membuatku semakin enggak dihargai oleh orang lain. Oh ya, jelas saja kalian enggak merasa begitu, karena itu udah jadi kebiasaan kalian. Jadi kalian anggap hal itu biasa saja.”
“Enggak begitu! Kami….”
“Kolega kalian banyak yang bilang aku aib, aku menyusahkan, dan enggak seharusnya hidup. Tapi kalian biarin mereka dan masih berhubungan baik dengan mereka. Kalian justru menyuruh aku memaafkan mereka karena kalian enggak mau memutuskan hubungan dengan mereka. Alasannya adalah para karyawan masih butuh uang.” Aku tidak membiarkan Ayah menyelesaikan isyarat pembelaannya karena aku sudah sangat muak dengan perilaku orang-orang di sekitarku.
“Candice, maafkan kami ya? Maaf karena telah gagal menjadi orang tua buatmu. Maaf karena selama ini kami membiarkanmu menanggung semua ini sendirian. Maaf karena kami tidak memperhatikanmu dengan baik selama ini.” Mama berisyarat seraya menatapku dengan sendu.
Aku menatap Mama dengan rasa tidak percaya yang sangat tinggi. “Sepanjang hidupku, Mama dan Ayah udah jutaan kali meminta maaf padaku. Tapi enggak ada hal yang berubah di hidupku. Aku selalu saja dilukai oleh orang-orang, kalian udah tahu bahwa aku dilukai tapi kalian malah nyuruh aku buat maafin orang-orang itu, terus kalian biarin orang-orang itu melukai aku lagi. Selalu seperti itu selama ini. Jadi permintaan maaf kalian buat apa? Biar bikin hati kalian lega?”