Sesuatu yang awalnya asing, akan kembali menjadi asing seperti saat dia datang jika masanya telah habis. Hal itu juga terjadi pada Clarice dan Nabila. Setelah kejadian itu dan mereka sempat menghilang, Nabila dan Raline kembali ke sekolah. Namun, semuanya tidak sama lagi seperti dulu. Keduanya kini mendapatkan gunjingan dari teman-teman di sekolah dan di sosial media.
“Cla, kamu enggak merasa aneh?” Aku berisyarat pada Clarice saat kami sedang menunggu guru Bahasa Indonesia masuk ke kelas.
Clarice menatapku heran seraya berisyarat, “Aneh soal apa?”
Aku tahu ini terlihat munafik, tapi aku memang merasa aneh. Kalian boleh memanggilku munafik, naif, dan tidak tahu diri karena marah pada keluargaku soal mereka yang diam saja saat aku dikucilkan, tapi aku merasa ada sesuatu yang hampa pada perasaanku saat Raline menjauh dariku. Padahal, Raline telah melukaiku sangat dalam. “Aku ngerasa hampa karena Raline jauhin aku. Aku ngerti bahwa aku enggak seharusnya begini. Tapi aku tetep ngerasa aneh.”
Clarice tersenyum kecil melihat isyaratku. Dia mengusap pundakku sebentar, kemudian berisyarat, “Wajar kamu merasa aneh. Karena selama ini kalian deket banget. Tapi yang harus kamu tahu, kami enggak ada hak buat maksa kamu untuk jauhin dia ataupun nemenin dia. Jika kamu memilih kembali jadi temennya, maka kamu harus siap dengan segala konsekuensinya. Termasuk kemungkinan jika kamu kembali dimanfaatin sama dia di masa depan.”
“Iya sih, aku paham. Tapi rasanya aneh karena selama ini kami dekat. Ada rasa sayang walaupun dikit ke dia.” Aku mengakui hal itu karena memang itulah yang terjadi. Raline selama bertahun-tahun menjadi salah satu teman baikku, sehingga sedikit banyak aku merasa kehilangan dia.
Clarice tersenyum seraya memelukku dengan hangat. Dia tak lagi berisyarat untuk mengungkapkan pendapatnya, tapi pelukan ini mengandung banyak makna. Perlindungan, pengertian, rasa aman tak terbatas dan kasih sayang yang tulus. Clarice melepas pelukannya padaku saat dia menyadari bahwa guru Bahasa Indonesia kami serta Bu Jessica masuk ke dalam kelas. Aku sempat melihat kedua guruku itu tengah tersenyum padaku.
***
Aku ingin sekali menjambak rambut Nabila sekarang juga! Saat aku tengah berjalan menuju gerbang depan, dia tiba-tiba menghadangku dengan ekspresi yang dibuat semenyedihkan mungkin. Setidaknya itulah yang tampak di mataku sekarang. ‘Mau apalagi dia?’ batinku jengkel.
Dia tiba-tiba menunjukkan ponselnya padaku. Terdapat tulisan di aplikasi catatan ponselnya. ‘Candice, bisa bicara sebentar? Berdua aja.’
Aku menatapnya dengan raut kesal yang tidak kututupi. Kemudian, aku mengambil ponselku lalu mengetik sesuatu pada aplikasi catatan. Lalu, aku menunjukkannya pada Nabila. ‘Kamu mau apalagi? Mau minta aku buat perbaikin nama baik kamu? Emang ada hak apa kamu ngajak aku ngobrol? Oh ya, aku kan enggak bisa bicara. Jadi percuma kamu ngajak aku bicara.’
Nabila menghela nafas berat. Kentara sekali ada perasaan kesal yang tercetak di wajahnya walaupun sekilas. Namun, aku tidak peduli dan melanjutkan jalanku. Sayangnya, dia tetap nekat menyusulku dan kini mencekal pergelangan tanganku dengan erat.
‘Sial banget aku hari ini! Apalagi sekarang sekolah lagi sepi dan enggak ada satupun anak ekskul beladiri di lapangan! Aku juga enggak bisa teriak,’ batinku gusar sambil meronta dari Nabila. Namun, cengkeraman kedua tangannya sangat kuat. Aku berusaha menendangnya, namun hal itu membuatnya marah dan kini berusaha menyeretku untuk mengikuti kemauannya.
Tiba-tiba, seseorang menarik rambut Nabila dari belakang dengan keras disusul dengan gelombang suara berwarna merah. Rupanya, pelaku penarikan rambut Nabila adalah Prameswara yang datang bersama Hailee. Hailee spontan berdiri di depanku, menjadi tameng yang melindungiku dari Nabila dan Prameswara yang tengah beradu mulut.
Keributan di samping lapangan sekolah itu tentu saja menarik perhatian banyak orang. Banyak siswa yang mengerumuni kami. Tak lama kemudian, Pramadana, Clarice, serta kedua kakakku datang. Mereka sudah mengenakan baju latihan taekwondo mereka. Kak Cedric tersenyum padaku seraya menuntunku menjauh dari keributan.
“Kak, tadi Nabila mencegat aku. Dia bilang dia mau bicara sama aku,” isyaratku sambil berjalan pada Kak Cedric. Kami sudah berada jauh dari tempat keributan walaupun gelombang suara merah pekat itu masih dalam jangkauan pandanganku.