Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #26

Bab 26: Menutup Lembaran

Hari ini adalah hari kenaikan kelas yang juga merupakan hari kelulusan untuk para siswa kelas 12, termasuk kakak kembarku, dan sekolahku mengadakan upacara penghargaan untuk para murid berprestasi selama satu tahun ini. Aku duduk di bangku paling depan dan di depan sana ada kepala sekolah yang tengah berbicara di depan mikrofon. Warna suara kepala sekolah adalah hijau muda. Di kananku ada Clarice dan di kiriku ada Prameswara. Para guru duduk berjajar di belakang kepala sekolah di atas panggung di aula ini.

Para siswa maju dan menaiki panggung. Aku menatap Clarice. Clarice yang sadar dengan tatapanku lalu berisyarat seraya tersenyum, “Kepala sekolah memanggil satu per satu siswa berprestasi. Yang barusan dipanggil adalah peraih medali emas olimpiade fisika nasional.”

Aku mengangguk-angguk paham. Tak lama kemudian, Clarice berdiri, lalu maju ke panggung. Disusul oleh Prameswara, Kak Cedric, dan Kak Chandler serta Pramadana. Aku tersenyum menatap ketiga saudaraku berdiri di sana. Aku tak tahu apa yang dibicarakan kepala sekolah selanjutnya, tapi tiba-tiba beliau menghampiriku dengan senyum kemudian menuntunku ke panggung. Aku melihat orang-orang di panggung bertepuk tangan, dan beberapa orang bertepuk tangan menggunakan bahasa isyarat.

Aku baru paham maksud kepala sekolah saat beliau memberikan sertifikat dan piala bertuliskan namaku yang berasal dari Aurora Gallery. Kepala sekolah mengarahkanku ke kamera, kemudian kami berfoto bersama. Aku lalu kembali ke barisan para murid berprestasi, kemudian kami berfoto bersama.

Setelah upacara selesai, aku dan saudara-saudaraku berfoto bersama dengan bantuan Pramadana yang memotretkan kami dengan ponsel Kak Chandler. Kemudian, aku berfoto bersama Prameswara. Saat berfoto, aku melihat Raline melewati kami. Dia hanya menatapku sebentar, kemudian berlalu begitu saja. ‘Emang apa yang aku harapin dari Raline? Tapi, kenapa rasanya aku kesel ya dia cuekin aku gitu aja?’ batinku kesal.

Clarice merangkul bahuku dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggenggam sertifikat. Aku lalu memberikan sertifikat dan pialaku pada Kak Cedric. Aku lalu berisyarat pada Clarice, “Aku masih enggak terima dia hidup santai gitu aja tanpa maaf. Kalau dia mau menanggung semuanya, kenapa enggak pergi aja sekalian?”

Clarice mengempit sertifikatnya di bawah ketiak dengan lengan kirinya. Dia lalu berisyarat, “Dia enggak sebaik itu, Candice. Dia enggak mau nurunin egonya untuk minta maaf sama kamu. Kalau dia pergi, dia bakalan semakin dihujat orang-orang. Sedangkan kalau dia menetap, dia bisa meminimalisir hujatan yang dia terima.”

Aku terdiam mendengar isyarat Clarice. Kemudian, aku berlari menyusul Raline. Aku merasa harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga. Aku tidak ingin terus terbelenggu masalah ini.

***

Aku berhasil mencekal lengan Raline di koridor depan kelas kami. Dia tampak terkejut sesaat, kemudian menatapku dengan pandangan datar. Aku menatapnya tajam seraya berisyarat, “Kamu ngapain masih di sini? Kamu harusnya pergi yang jauh, Raline.”

“Aku juga maunya begitu, Candice! Tapi keluargamu bikin semuanya jadi rumit! Bisnis orang tuaku kacau, bahkan bangkrut. Aku enggak bisa ke mana-mana lagi! Andai aja kamu mau berbaik hati dikit aja, aku pasti bakalan pergi jauh kok!”

Lihat selengkapnya