Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #27

Bab 27: Membuat Kenangan Baru

Aku menatap Clarice yang sedari tadi sibuk mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Dia tampak sangat senang saat semalam aku memberitahunya bahwa aku ingin mengajaknya ke pameran lukisan yang ada di Semarang. Lukisan-lukisanku berkesempatan untuk dipamerkan bersama Aurora Gallery. Biasanya, aku pergi bersama Raline dan tidak pernah melibatkan Clarice dalam aktivitas melukisku. Namun sekarang, aku berubah pikiran.

“Kamu hanya dateng ke pameran lukisan, Clarice. Kamu pakai baju kasual juga enggak apa-apa, kan acaranya juga bukan acara formal. Tapi kenapa kamu bawa baju banyak banget? Kita di sana hanya bentar loh,” isyaratku pada Clarice yang kini sedang menatapku yang tengah berbaring di atas kasurnya.

Clarice tersenyum lebar. “Aku harus pakai baju terbaikku dong! Kan ini acara spesialmu! Walaupun baju kasual, aku tetep bawa baju kasual terbaikku!”

“Kamu hanya akan lihat lukisan, bukan mau ketemu raja.”

“Lukisan-lukisan itu sesuatu yang berharga untukmu, jadi lukisan-lukisan itu juga sesuatu yang berharga untukku! Aku harus tampil prima untuk acara ini. Lukisan-lukisan itu kan kamu lukis dengan perjuangan yang enggak sedikit. Ada banyak air mata, rasa sakit, dan juga keringat yang tertuang dibaliknya.”

Clarice kembali disibukkan dengan baju-bajunya, sedangkan aku terdiam melihat isyaratnya. Clarice menganggap lukisanku berharga. Dia selalu peduli padaku, tapi aku tidak suka dia masuk ke dalam duniaku yang itu. Karena bagiku, Clarice hanyalah pengganggu yang membuatku semakin tampak kecil. Tapi ternyata dia peduli.

‘Ternyata, aku juga jahat banget sama Clarice,’ batinku miris. ‘Dan aku juga jadi luka buat orang lain. Namun, orang yang kulukai masih tetap menyayangi dan mempedulikanku.’

Mama memasuki kamar Clarice secara tiba-tiba. Keduanya tampak berbicara entah apa, tapi aku tahu bahwa mereka sedang senang karena warna suara mereka adalah hijau muda. Mama lalu beralih menatapku seraya berisyarat, “Kita berangkat nanti sore ya. Candice udah siapin barang-barangmu?”

“Udah, Ma. Aku udah berkemas sejak kemarin.”

“Sekarang kamu istirahat ya? Bobok dulu, biar nanti enggak terlalu capek pas perjalanan.”

Aku mengangguk, kemudian aku memilih memejamkan mataku di kamar Clarice. Sedangkan si pemilik kamar kembali melanjutkan aktivitasnya mengemas barang.

***

Kak Cedric menatapku yang tengah bersandar pada bantal yang kusandarkan pada pinggiran jendela mobil dengan senyum kecil. “Kamu pusing? Ada yang sakit?”

“Enggak. Aku enggak kenapa-napa kok. Aku gabut karena enggak bisa ngapa-ngapain.”

“Mau permen? Atau jajan? Atau kamu pengin ke toilet?”

“Enggak mau. Aku kenyang, kan kita barusan makan juga.”

Lihat selengkapnya