Warna Sunyi

Rany Raisa Palupi
Chapter #28

Bab 28: Perlahan Sembuh

Ada perasaan senang dan bahagia ketika melihat ketiga saudaraku terlihat antusias dengan lukisan. Aku tahu mereka sebenarnya ingin masuk ke duniaku sejak lama, tapi dulu aku merasa sangat berat mengizinkan mereka untuk masuk ke dunia ini. “Lukisan ini tentang apa?” Kak Chandler berisyarat seraya menatapku dengan bingung.

Aku menatap lukisan yang dia maksud dan sedikit kaget saat menemukan lukisan yang kulukis saat aku masih sekolah dasar ada di sini. Lukisan ini tampak jelek menurutku. Warnanya terlalu kontras satu sama lain, garisnya tidak konsisten, serta pewarnaannya tidak terlalu rapi. “Lukisan jelek ini ya? Ini tentang seorang anak kecil yang mencoba mengeksplorasi dunia. Lukisan ini termasuk gagal, tapi kenapa bisa ada di sini ya?”

“Kamu enggak boleh bicara begitu. Enggak baik menghina karya orang,” isyarat Kak Chandler menegur.

Aku tersenyum lebar. “Aku sangat tahu siapa pelukisnya, karena ini adalah lukisanku waktu SD. Bentar, aku mau menemui kuratornya dulu.” Aku mencari Kak Luna yang merupakan kurator pameran ini di tengah ratusan orang yang memadati area pameran. Aku menepuk lengannya saat menemukan dia sedang sibuk dengan ponselnya. Dia menoleh menatapku dengan senyum. Aku lalu mengeluarkan ponselku dan mengetik di aplikasi pesan, kemudian mengirimkannya pada Kak Luna.

‘Kak, kok lukisanku waktu SD bisa ada di sini?’

Kak Luna menatapku sekilas, kemudian mengetik di ponselnya. ‘Mamamu yang kasih lukisan itu. Beliau mengirimkan banyak sekali lukisanmu padaku, termasuk lukisan itu. Dan buatku, lukisanmu yang itu cukup menarik.’

Aku menatap Kak Luna dengan raut kesal. ‘Bagian mananya yang menarik dari lukisan gagal itu? Warna dan tekniknya bahkan sangat berantakan.’

Kak Luna membungkuk agar mata kami sejajar. Dia tersenyum kecil sambil mengusap rambutku lembut. Kemudian, mengetik di ponselnya. ‘Kamu tahu kan bahwa seni memiliki banyak sudut pandang tergantung orang yang melihat? Menurutku, justru ketidaksempurnaan itulah kelebihan lukisanmu yang itu. Orang-orang bisa melihat bagaimana Candice Raveena bertumbuh menjadi seorang pelukis dari waktu ke waktu. Dengan memasukkan lukisanmu saat kamu SD dan menjajarkannya dengan lukisanmu sekarang, orang-orang bisa melihat bahwa kamu memang melukis sendiri dan bertumbuh dengan baik.’

Aku terdiam membaca pesan Kak Luna di ponselku. Apa yang dikatakannya benar, menjajarkan lukisan awal dan lukisan saat ini memang bisa menunjukkan perkembangan sang pelukis. Goresan dan warna pada lukisan itu telah menjelaskan segalanya, bahkan penjelasan itu lebih gamblang dari penjelasan para kurator yang ada di pameran. Aku kemudian membalas pesan itu, ‘Tapi tetep aja malu, Kak!’

‘Kamu enggak lagi bikin bangunan, jadi enggak perlu palu.’ Setelah mengetik kalimat itu, Kak Luna justru tertawa riang dengan tulus. Aku tahu dia benar-benar senang karena suaranya berwarna hijau muda. Aku lalu kembali pada keluargaku setelah berpamitan padanya yang masih tertawa riang.

***

Aku menatap pemandangan lampu-lampu yang menerangi jalanan Kota Semarang. Lampu-lampu serta keramaian warga dan letak bangunan-bangunan kota ini memberikan kesan yang tenang. Ketenangan yang kuat dan tangguh di segala situasi. Mobil yang kutumpangi berhenti di salah satu tempat wisata kuliner malam yang terkenal di Semarang. Aku mengikuti keluargaku memasuki warung makan itu.

“Ma, boleh enggak habis ini kita muter-muter dulu? Jangan langsung balik ke hotel.”

“Boleh dong! Kamu mau ke mana?”

Lihat selengkapnya