Kak Chandler membantuku mengemas lukisan-lukisanku ke dalam peti kayu. Lukisan-lukisan ini akan dikirimkan ke para pembeli. Kak Chandler menatapku dengan senyum lebar seraya berisyarat, “Nanti kalau aku libur kuliah, aku bakalan sering-sering bantuin kamu. Ayo kita dirikan galerimu sendiri di masa depan!”
“Kakak pasti bakalan sibuk banget waktu kuliah. Kuliah kan beda sama SMA.”
“Aku bakalan sempatin waktu buat pulang. Keluarga masih jadi prioritas pertamaku.”
Aku memeluk Kak Chandler dengan erat yang juga dibalas olehnya dengan pelukan yang sama eratnya. Aku lalu melepaskan pelukan itu, begitu juga Kak Chandler. Lalu, aku berisyarat, “Setelah ini, Kak Chandler harus hidup dengan baik. Hiduplah dengan bahagia, bertemu perempuan baik, mendapatkan pekerjaan yang layak, lalu menikah, kemudian membangun keluarga kecil yang bahagia.”
“Emangnya kamu enggak marah kalau Kakak punya istri? Setelah nikah nanti, istriku pasti bakalan lebih sering sama aku ketimbang kalian.”
Aku tersenyum melihat isyaratnya itu. “Aku justru sedih banget kalau Kak Chandler enggak memprioritaskan istri Kak Chandler. Aku tahu bahwa kita enggak akan bisa hidup sama-sama sampai tua. Ada saatnya kita jadi dewasa dan ketemu hanya seperlunya. Kita akan memiliki dunia yang baru dengan orang-orang baru. Akan ada lebih banyak orang dengan lebih banyak warna di masa depan.”
“Candice, Kakak harap kamu selalu bahagia. Sedihnya cukup sampai sini aja. Kakak akan selalu ada di belakangmu walaupun nanti enggak bisa selalu nemenin kamu.”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Kemudian, aku mengajak Kak Chandler ke luar dari ruang lukisku. Di masa depan nanti, aku harap akan ada lebih banyak hal baik yang terjadi untukku dan keluargaku.
***
Kak Cedric dan Clarice tengah bermain catur di ruang keluarga saat kami melewati ruang keluarga. Kak Chandler mendekati Kak Cedric dan berbicara sesuatu padanya. Warna suara Kak Chandler berwarna hijau muda sedangkan warna suara Kak Cedric adalah merah. Entah apa yang dikatakan oleh Kak Chandler, yang pasti hal itu mampu membuat Kak Cedric marah dan membuat Kak Chandler senang.
Aku lalu masuk ke kamarku, kemudian kembali ke ruang keluarga sambil membawa buku sketsa dan pensil. Aku mengabadikan interaksi kami ke dalam sebuah gambar yang akan ku tuangkan ke dalam lukisan. Entah mengapa, aku merasakan keinginan yang sangat kuat untuk melukiskan potret ini agar kelak anak-anak kami bisa melihatnya.
Sesuatu menyenggol kakiku sehingga membuat fokusku terpecah. Aku melihat pion catur berwarna hitam ada di samping kaki kananku, kemudian aku beralih menatap saudara-saudariku yang kini tersenyum menatapku.
Kak Cedric berisyarat padaku, “Kamu ngapain di situ? Sini main bareng.”