Setiap manusia pasti memiliki fase hidupnya masing-masing, termasuk aku. Kini, aku berada di fase hidup belajar menerima dan beradaptasi dengan kehilangan. Selama 2 tahun terakhir ini, aku selalu bersama Raline nyaris setiap hari. Pun saat kami tidak bersama secara fisik, kami masih bisa berkomunikasi melalui ponsel. Namun kini, kami benar-benar berpisah secara utuh. Sejak dia berpamitan untuk pindah ke Klaten, semua akses komunikasi kami benar-benar terputus. Raline juga menghilang dari dunia lukis.
“Candice, kamu mau duduk sama siapa?” Lamunanku buyar saat Clarice menyenggol lenganku disusul dengan isyaratnya. Aku mengerjap kemudian menatap sekitar. Oh, rupanya aku sedang ada di kelas baruku. Gedung dan ruangannya berbeda dari sebelumnya, untungnya teman sekelasnya masih sama. Dan masih ada Nabila di sini.
“Aku boleh enggak ganti temen sebangku?”
“Boleh dong! Kamu mau sama siapa?”
Aku menunjuk Hailee yang berdiri di samping Prameswara. Sejujurnya, aku ingin berganti suasana dan mencoba membuka diri dengan orang-orang baru. Mungkin aku akan bertemu dengan lebih banyak orang baik selain Prameswara, Pramadana, dan keluargaku.
Hailee berbicara dengan Clarice, warna suara keduanya adalah hijau muda. Kemudian, Hailee melompat-lompat kecil dengan riang lalu memelukku. Manik mataku tak sengaja menatap Nabila. Dia sendirian dan tersisih di kursinya yang ada di bangku paling belakang. Dan dia sendirian. Ada rasa kasihan ketika melihat hal itu.
Pramadana mencolek lenganku, aku lalu menatapnya. “Kenapa kamu ngelihatin Nabila sampai segitunya? Dia berulah lagi? Jika iya, biar aku beri dia pelajaran.”
Aku menggeleng seraya melepaskan pelukan Hailee, kemudian berisyarat, “Enggak, tapi aku kasihan sama dia. Kupikir-pikir, hidupnya Nabila itu enggak enak. Dia enggak pernah diinginkan sejak lahir. Dia enggak punya temen dan dia juga enggak dicintai oleh orang tuanya.”
“Jangan lupa, dia juga jahat,” imbuh Prameswara, “Kalau dia enggak jahat, mungkin akan ada banyak orang yang mau temenan sama dia terlepas dari status kelahiran dia. Sayangnya, dia sendiri yang membuat hidupnya semakin hancur.”
Clarice mengusap-usap pundakku, kemudian berisyarat, “Enggak semua orang pantes buat dikasihani. Dia udah paham mana yang baik dan mana yang buruk. Nabila sendiri yang milih buat jadi jahat. Jangan pernah kasihan padanya, karena dia juga enggak pernah kasihan padamu. Dia bahkan masih nyalahin kamu atas masalah yang dia buat kemarin.”
Clarice dan Prameswara benar, tapi masih saja ada setitik rasa kasihan padanya. Pramadana mengusap-usap pundakku seraya tersenyum diiringi anggukan. Gestur yang menunjukkan bahwa dia mengerti apa yang kurasakan.
***
Aku melewati sudut prestasi, sebuah tempat di dekat gerbang masuk sekolah yang berisi spanduk dan foto-foto para siswa berprestasi lima tahun ke belakang. Ada fotoku dan juga tiga saudaraku. Ah aku jadi ingat, selain kepergian Raline, hal lain yang berbeda adalah kedua kakak kembarku juga sudah lulus SMA dan sedang berkuliah di jurusan Impian mereka masing-masing. Kak Cedric mengambil jurusan manajemen sedangkan Kak Chandler mengambil jurusan pertanian.
“Tahun depan giliran kita yang nyusul Kak Chandler dan Kak Cedric! Kamu udah ada jurusan Impian?” Clarice tiba-tiba muncul di sampingku. Dia menatapku dengan senyum. “Aku pengin ambil jurusan manajemen kayak Kak Cedric, tapi aku juga enggak mau pisah sama kamu.”