Matahari baru saja naik setinggi pohon kelapa. Embun masih membasahi daun-daun pisang di pinggir jalan. Di kejauhan, suara motor mulai terdengar, para mahasiswa berangkat ke kampus, pedagang membuka lapak, dan buruh pabrik berjalan cepat menuju halte.
Di pinggir jalan, sebuah gerobak kopi sederhana berdiri dengan setia. Terpal biru tuanya masih menggantung, bangku plastiknya mulai terisi oleh para pelanggan pagi. Tiga di antaranya adalah anak kos yang sudah menjadi langganan tetap: Mang, Bung, dan Deng.
Mang menguap lebar sambil menggeser cangkir kopi yang baru diseduh. "Anjir, gue bangunin kalian dari jam 5, baru turun jam 6. Bego emang. Udah tau jam pertama ada kalkulus."
Bung yang masih setengah sadar, menyeruput kopinya pelan. "Santai, Mang. Dosen kalkulus aja suka telat 15 menit. Masa kita gak boleh telat 15 menit buat ngopi?"
"Lo itu filsafat, Bung. Lo kuliah jam 10. Gue dan Deng jam 7. Bedanya jauh." Mang menoleh ke Deng. "Deng, lo beneran mau bayarin gue gak? Tadi gue yang bayarin kopi semua."
Deng yang baru sadar kalau dompetnya ketinggalan di kos, hanya tersenyum malu. "Sabarlah, Mang. Nanti gue transfer. Gue lupa dompet."
"Lupa dompet? Udah tiga kali minggu ini, Deng. Lo itu anak matematika, masa lupa bawa variabel 'dompet'?" Mang menggeleng-geleng kepala.
Bung tergelak. "Matematika buat ngitung uang, bukan buat nyimpen uang. Lain variabel."
"Ya udah," Mang mengalah. "Tapi nanti kalian bayar. Total tiga gelas, 15 ribu. Gue catet di otak."
Deng menimpali, "Catet aja di kode lo, Mang. Bikin variabel utang_temen = 15000. Nanti kalo udah bayar, ubah jadi 0."
Mang tertawa. "Lo bener-bener anak matematika. Semua mau dijadikan fungsi."
"Ya iyalah," Deng nyengir. "Hidup itu fungsi. Input pagi: kopi. Output: semangat."
Bung menambahkan, "Input pagi: kopi. Output: ngantuk tapi gak bisa tidur karena dosen galak."
Mereka bertiga tertawa. Di belakang gerobak, abang penjual kopi ikut tersenyum mendengar candaan mereka.
Mang menatap jam di HP-nya. "Udah jam setengah 7. Kita harus buru-buru. Nanti ketinggalan absen."
Bung menghabiskan kopinya. "Absen? Yang bener aja. Lo pikir dosen kita peduli absen? Yang peduli cuma nilai tugas, nilai UTS, sama UAS."
"Tugas yang belum lo kerjain, Bung," Deng menyelip. "Gue lihat buku catatan lo kosong tadi."