Warung Epistemik Pagi 06.00 Wib

Jumadil Awal
Chapter #2

Kosan "Epistemik" Ruang Tamu, Malam, 20.15

Ruang tamu kosan mereka sempit. Cuma ada karpet tipis berwarna coklat usang, satu meja plastik, dan tiga kursi yang kakinya tidak sama panjang. Di atas meja, serbet kertas yang tadi siang sudah dipindahkan ke buku catatan Deng.

Malam itu, setelah seharian berkuliah dan merenungkan ide gila mereka, mereka bertiga duduk melingkar di ruang tamu. Lampu neon berkedip-kedip, seolah ikut lelah. Deng membuka buku catatannya, Mang membawa laptop, Bung membawa secangkir teh yang sudah dingin.

Deng mulai bicara, "Oke, gue udah bikin simulasi sederhana. Modal awal 6 juta. Kita alokasikan 2 juta buat material bangunan, 1,5 juta buat perlengkapan dapur, 1 juta buat stok awal, dan 1,5 juta cadangan."

Mang melihat catatan Deng. "Material bangunan 2 juta? Cukup gak buat bikin warung?"

"Kita pake bambu, kayu bekas, sama genteng murah," Deng menjelaskan. "Gue udah survei ke tukang loak Madura di dekat kampus. Dia jual kursi bekas sama meja kayu dengan harga miring. Kita bisa dapetin 4 kursi + 2 meja cuma 500 ribu."

Bung yang sedang minum teh di sudut ruangan, nyela. "Terus kalo kita gagal, berapa kerugian maksimum?"

Deng menunjuk angka di bukunya. "Kerugian maksimum = 6 juta. Tapi secara matematis, kita bisa mengurangi risiko dengan strategi. Misalnya, kita mulai dengan menu terbatas dulu. Kopi hitam, kopi susu, sama kopi jahe. Itu modal kecil."

Mang menimpali, "Gue juga bisa bikin program kasir sederhana. Jadi kita gak perlu beli mesin kasir mahal. Cukup pake laptop butut gue."

Bung menghela napas. "Oke, gue setuju dengan hitungan lo, Deng. Tapi yang jadi masalah bukan hitungannya. Yang jadi masalah adalah orangtua kita. Gimana kalo mereka tahu?"

Mang dan Deng saling pandang. Akhirnya Mang bicara, "Kita gak bilang dulu. Kita tunggu sampe usaha ini berhasil. Kalo udah berhasil, kita datengin mereka dan bilang jujur."

Lihat selengkapnya