Kosan "Epistemik" Kamar Mang, Malam, 23.00
Kamar Mang tidak lebih dari 3x4 meter. Lantai keramik kotak-kotak putih abu-abu, dingin meskipun malam. Dindingnya bercat putih kusam yang mulai mengelupas. Di atas meja belajar, laptop bututnya masih menyala, menampilkan baris-baris kode yang belum selesai tugas pemrograman yang ia kerjakan sejak sore, tapi tidak kunjung selesai.
Mang duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding. Telepon genggamnya tergeletak di sampingnya, layar menampilkan percakapan terakhir dengan ibunya.
Ibu: "Nak, uang SPP sudah kami transfer ya. Jangan lupa bayar tepat waktu. Kamu harus lulus tepat waktu."
Mang menatap layar. Jarinya bergetar saat hendak membalas. Tapi ia tidak bisa menulis apa-apa. Bagaimana cara bilang ke ibunya bahwa uang itu akan dipakai untuk sesuatu yang lain?
Di luar, suara jangkrik terdengar jelas. Sesekali, motor melintas di depan kosan, meninggalkan suara yang hilang di kejauhan.
Pintu kamar terbuka pelan. Bung masuk tanpa mengetuk, membawa dua cangkir kopi instan. "Lo masih bangun?"
Mang mengangguk. Bung duduk di lantai di hadapannya. Mereka berdua diam sejenak.
Bung bicara pelan, "Gue juga gak bisa tidur. Kepikiran terus. Nyokap gue tadi nelpon. Bilang, 'Nak, jangan lupa bayar SPP ya. Kami udah ngumpulin dari tabungan.' Gue cuma bilang, 'Iya, Bu.' Padahal..."
Mang memotong, "Padahal kita udah mutusin buat pake uang itu. Kita udah gaskeun."
"Iya," Bung menyesap kopinya. "Tapi kenapa rasanya berat banget, Mang?"
"Karena kita tahu ini salah. Tapi kita juga tahu ini satu-satunya cara buat kita coba hal yang berbeda." Mang menatap Bung. "Gue gak mau jadi anak yang cuma numpang hidup di rumah orangtua sampe tua. Gue mau buktiin kalo gue bisa mandiri."