Warung Epistemik Pagi 06.00 Wib

Jumadil Awal
Chapter #5

BERBURU KURSI BEKAS

Pinggiran Depok — Lapak Loak Madura, Siang, 11.00

Lapak loak Madura itu terletak di pinggir jalan, di bawah pohon rindang yang sudah tua. Di depannya, berjajar kursi-kursi plastik dan kayu bekas, warnanya kusam karena panas dan hujan. Ada yang kakinya pendek sebelah, ada yang sandarannya miring, ada yang sudah terlihat renggang. Tapi bagi Mang, Bung, dan Deng, ini adalah "gudang material impian" mereka.

Pak Madura duduk di kursi plastik sambil mengupas kelapa. Dia tersenyum melihat kedatangan tiga anak muda yang matanya berbinar-binar melihat kursi bekas. "Mau cari kursi, Nak?"

Mang mengangguk cepat. "Iya, Pak. Kami mau buka warung kopi. Butuh kursi sama meja yang murah."

Pak Madura tertawa. "Kalau murah, di sini tempatnya. Kursi plastik 20 ribu. Kursi kayu 25 ribu. Meja kayu 100 ribu. Ambil semua, saya kasih harga kawan."

Bung yang biasa negosiasi, langsung maju. "Pak, kalau kami ambil 4 kursi kayu sama 2 meja, bisa 300 ribu semua?"

"Ah, anak muda. Naik 50 ribu lagi lah. 350 ribu, saya antar ke tempat kalian."

Deng mengeluarkan buku catatannya. "Pak, kalau kami ambil 6 kursi dan 3 meja, total 450 ribu. Tapi nanti kami juga beli material bambu. Kira-kira Pak punya kenalan supplier bambu?"

Pak Madura mengerutkan dahi. "Bambu? Di ujung jalan sana, ada gudang bambu. Milik Haji Salim. Cari aja, bilang saya yang kirim."

Lihat selengkapnya