Way Back To You

Al Szi Anszi
Chapter #7

BAB VI

"Yakin dia bukan ngajak ngedate?" Suara Cita terdengar ragu-ragu dari layar laptop Fla.

Malam itu, Fla, Cita dan Wia mengadakan konferensi video call guna mendiskusikan tugas sekolah yang dikarang-karang, cuma biar bisa memakai jatah laptopnya lebih lama. Padahal sesungguhnya Fla cuma mau curhat karena Haikal mengajaknya nonton besok, hari Sabtu, sekalian ke kafe.

"Palingan mau curhat tentang Andah, kan?" tanya Fla, menatap Cita dan Wia, seakan-akan meyakinkan kedua sahabatnya, padahal dia hanya ingin dirinya sendiri yakin bahwa jalan-jalan besok bukan apa-apa.

"Menurut aku mah, ya, mau dia curhat atau enggak gak masalah." Wia akhirnya menyahut setelah mereka melarikan bola mata ke kiri dan ke kanan, berusaha berpikir. "Secara teknis kan mereka putus, kan?"

"I... ya, sih! Haikal cerita mereka udah putus. Tapi kan Haikal mau berusaha balik lagi sama dia?" Fla menopangkan dagunya di atas lutut.

"Tapi kan mereka sekarang gak ada hubungan apa-apa. Dan kamu sama Andah udah gak sedeket dulu. Ketemu papasan aja cuma senyum doang!" Cita mendukung teori Wia. "Enggak ada kode etik pertemanan yang dilanggar kalau kalian gak sedeket itu, kan?"

Mereka bertiga manggut-manggut. Fla dalam hati mengiyakan teori tersebut. Tapi tetap saja, dia merasa masih teman Andah. Mereka jarang bicara cuma karena beda kelas, beda ekskul, beda jurusan. Tapi waktu mereka dulu mengisi acara bersama saat perpisahan kakak kelas, mereka bisa dibilang sangat dekat.

"Udah, Fla! Gak usah overthinking! Sekarang, sih, masalahnya ada di kamu. Kamu mau gak pergi sama Haikal, dengan atau tanpa alasan terselubung?" Wia melambaikan tangan di depan kamera untuk menyadarkan Fla yang melamun.

"Ha? Maksudnya?" Fla membelalakan matanya.

"Kalau dia ada maksud deketin kamu, kamu mau gak pergi sama dia? Yang artinya kamu mau dideketin sama dia. Atau kalaupun dia engga ada maksud deketin kamu, kamu mau pergi sama dia? Yang artinya mungkin dia cuma pingin aja temenan deket sama kamu." Jabar Wia.

Fla menghela napas dan berpikir lumayan lama.

"Aku suka temenan sama dia. Anaknya baik, sih. Gak aneh-aneh. Dan aku perhatiin juga dia baiknya enggak pilih-pilih, semua orang diramahin." Fla mengangkat bahu.

Lihat selengkapnya