Way Back To You

Al Szi Anszi
Chapter #9

BAB VIII

"Flaaaa!"

Haikal menghampiri gadis mungil yang sedang duduk di depan kelas IPS 4 dengan riang. Gadis yang merasa terpanggil itu menoleh dan tersenyum sambil melambaikan tangan, membalas sapaannya. Ketika Haikal sudah berdiri di sebelahnya, pemuda itu menggandeng lengannya, siap menyeret Fla ke kantin.

"Eh, eh! Apa ini?" Fla tertawa sambil berjalan mengikuti langkah Haikal.

"Makan, ke kantin." Haikal menyeret gadis itu tanpa peduli pada lingkungan di sekitarnya. Fla dengan panik melirik ke arah kelas Andah. Pembicaraan dengan Cita dan Wia memang masuk akal. Dia tidak merebut Haikal. Juga, mereka bukan sahabat dekat. Well, dulu dekat.

"Kal, nanti Andah liat, lho!" Fla berusaha menghentikan Haikal.

"Ah! Emang kenapa, sih? Dia kan yang mutusin aku!" Haikal tertawa dan menghentikan langkahnya. "Lagian, emang salah makan siang sama temen?"

Fla menatap Haikal yang melepaskan tangannya dan berdiri di hadapannya dengan kepala miring dan alis terangkat. Kata-kata Cita dan Wia kembali membayangi Fla, namun akhirnya ia tersenyum sambil meninju pelan lengan Haikal. Pemuda itu tersenyum lebar dan menarik Fla untuk melanjutkan berjalan ke kantin sambil mengobrol dan tertawa membicarakan film romantis yang akhirnya mereka tonton.

Fla dan Haikal tidak peduli bahwa orang-orang di sekitar mereka, yang mengenal mereka, menatap mereka diam-diam dan merasa heran; sejak kapan Flarisia dan Haikal berteman sedekat itu dan makan siang bersama di kantin pula? Seakan-akan itu adalah ritual setiap hari mereka.

Hari berganti dan mereka tetap selalu terlihat bersama. Terkadang ketika jam kosong kelas mereka kebetulan sama, mereka akan duduk-duduk di bawah pohon kersen di depan kelas Fla sambil ngemil dan mengobrol. Kali ini Cita dan Wia sering ikut nongkrong. Mereka berdua menerima Haikal dengan baik, dan Haikal, yang pada dasarnya selalu baik pada semua orang, pun dengan mudah menjadi akrab dengan mereka.

Fla dan Haikal terlalu asyik dengan dunia mereka sehingga melupakan mata-mata yang memerhatikan mereka setiap mereka bersama. Mata-mata itu menatap keduanya heran karena mereka adalah pasangan yang tidak biasa. Bukan karena mereka beda kasta di sekolah, hanya saja mereka tidak pernah kenalan secara khusus, tidak pernah melihat mereka mengobrol basa-basi. Tiba-tiba mereka berdua seperti sejoli tak terpisahkan. Mata-mata itu termasuk mata Dinita.

Lihat selengkapnya