Way Back To You

Al Szi Anszi
Chapter #11

BAB X

Fla tidak tertarik pada Haikal. Sama sekali. Tapi itu hanya pada awalnya. Dia mengakui Haikal adalah cowok tampan, hanya sekadar itu. Memuji bukan untuk mencintai. Dia ingat betapa tatapan orang-orang yang melihat Haikal, yang berjalan di sampingnya, mengikuti langkah Haikal. Tapi setiap hari dia mendatangi Fla, membawakannya makanan, mengajaknya ngobrol macam-macam tanpa jeda. Dia jadi sadar kalau Haikal itu memang cerdas dan manis. Dua kombinasi itu membuatnya semakin hari merasa nyaman bersamanya. Mereka bisa membicarakan apa saja yang mereka suka, tanpa batas. Dan mengungkapkan apa yang ada di kepala tanpa takut dihakimi. Fla suka berada di dekat Haikal.

Tapi apakah itu cinta?

Ketika Fla sekali lagi menceritakan kisah Haikal dan Andah, tiba-tiba ia merasa sedih. Mungkin saja dia akan menjadi Nuri kedua kalau perasaannya naik pangkat dari suka menjadi cinta. Jadi, mungkin lebih baik ia terus menganggap Haikal tidak punya maksud apa-apa selain pertemanan. Chat-chat Haikal setiap hari—sejak sepulang sekolah sampai bangun di pagi hari, di sekolah, di kelas, janjian ke kantin, janjian pulang bareng—sebaiknya hanya dianggap sebagai kebaikan Haikal. Seperti yang dulu pernah dia katakan pada Nuri. Dia hanya berbaik hati. Mungkin ini cara Haikal membalas budi karena Fla sudah menjadi tempatnya curhat tentang Andah.

Tapi jelas saja apa yang direncanakan tidak semudah kenyataan. Setiap Haikal menjemputnya untuk makan siang di kantin atau setiap Haikal memintanya menunggunya sebentar kalau kelasnya terlambat bubar, Fla tidak bisa menahan dadanya yang berdegup kencang, atau gejolak perutnya yang mendadak mulas karena merasa ada kupu-kupu berusaha keluar dari perutnya.

"Aku harus jauhin Haikal kali, ya?" Fla menopang wajahnya dengan tangan kiri sambil menatap kartu di tangan kanan. Siang itu, jam pelajaran kosong menjelang pulang sekolah, Fla, Cita, dan Wia bermain kartu UNO. Siang itu saat yang tepat untuk sesi cuhat karena teman-teman sekelas mereka menyambut jam kosong secara brutal. Bahkan anak-anak perempuan geng Dinita mulai menggelar monopoli di depan kelas.

"Kenapa?" tanya Wia sambil mengeluarkan kartu, yang membuat Cita mendecak kesal.

"Fla nakser Haikal, Wia." Cita menyenggol siku Fla buat jalan karena dia pas. "Kagak liat kemaren-kemaren ampe nangis di perpus. Haha!"

"Maksudnya teh, ngapain jauhin? Biarin ajalah! Orang mah seneng deket sama kecengan! Teu jiga urang (gak kaya aku), duh Aliiippp! Mau kenalan aja, bingung gimana caranya biar gak norak!" Wia merapikan kartunya sambil manyun. Sudah beberapa bulan ini dia ngeceng anak kelas sebelah dan tidak ada koneksi yang bisa menghubungkan mereka sama sekali.

"Tapi kalau aku doang yang suka dianya enggak kan nyesek juga." Fla melirik ponselnya di atas meja. Menjelang bel pulang, biasanya Haikal mengirim pesan untuk pulang bareng. "Ini kan pertama kalinya sejak Reyhan."

Mereka terdiam. Siapa yang tidak tahu ceritanya dengan Reyhan? Mereka pikir kisah cinta Flarisia-Reyhan akan menjadi kisah cinta legendaris. Naksir-naksiran semenjak mereka masih memakai seragam putih-merah, berpisah ketika mereka masuk SMP, tapi beberapa bulan kemudian bertemu lagi karena kejadian yang paling aneh. Reyhan hanya sekali itu mengantar temannya yang janjian dengan teman Fla dari klub Baseball-Softball di Lodaya. Lalu tiba-tiba mereka bertemu kembali. Tanpa pikir panjang segera berpacaran, dan bertahan sampai 5 tahun lamanya walau mereka tetap beda sekolah.

Hanya Reyhan yang pernah singgah dalam hidupnya. Fla sampai lupa bagaimana rasanya naksir cowok. Dengan Reyhan segalanya mudah, karena laki-laki itu jelas sangat mencintainya. Tidak usah menebak-nebak, Fla tahu perasaannya pasti berbalas. Sampai beberapa bulan yang lalu, ternyata Reyhan telah berubah dan Fla menyadari; telah lama perasaannya tidak berbalas.

"HEUP! Jangan bandingin-bandingin Reyhan lagi." Cita membuyarkan kesunyian sejenak sambil menepuk kartu di atas meja. "Mulai hidup baru, Fla. Reyhan udah gak ada lagi. Bahkan untuk bertemen aja dia gak mau, kan?"

"Bukan gak mau, Cit. Gak bisa. Kalau aku masih suka sama dia, dia gak bisa temenan sama aku." Fla mengoreksi.

"PEDE AMAT!" Wia ikut-ikutan. "Apa hubungannya?"

Lihat selengkapnya