Fla turun dari motor Haikal di pelataran parkir mal. Haikal mengulurkan tangannya untuk membuka kunci tali helm Fla sambil tersenyum. Fla mengeluh karena ketika Haikal menarik helm lepas dari kepalanya, rambutnya jadi kusut. Haikal tertawa sambil menyimpan semua helm di atas motor.
"Duuuh, lain kali aku harus pake mobil apa, ya?" Haikal mengusap-usap kepala Fla sambil berjalan menuju pintu masuk. Yang diusap-usap berusaha tenang padahal perutnya langsung mulas. Harusnya dia ikut saja sama Cita dan Wia naik angkot.
"Duuh, sok-sokan banget mau bawa mobil ke sekolah." Fla mengejek.
"Nanti kamu rambutnya kusut, nanti kehujanan, kepanasan, kalau sakit gimana?" Haikal balas mengejek.
"Ya ke dokter, ke rumah sakit, tidur, istirahat, makan enak..."
"Trus aku gimana?"
"Apa? Kamu ikutan sakit? Gak akan! Kamu kan udah kebal sama angin!" Fla cekikikan sambil melangkah masuk ke dalam lift yang pintunya terbuka. Mereka memasuki kotak baja itu yang isinya hanya mereka dan dua wanita spg.
"Bukaan! Kalau kamu sakit, ya gimana dong aku kalau kangen, gak bisa ketemu." Haikal tertawa ringan, mengatakannya seakan itu kalimat biasa yang lazim dikatakan oleh dua orang teman.
Fla melirik dua wanita spg yang tiba-tiba menutup mulut mereka dengan dompet yang tadi mereka tenteng di sisi tubuh sambil memutar wajah mereka ke sudut di mana Fla dan Haikal tidak bisa melihat.
"Yaaa… bawain aku makanan enak, lah! Jenguk." Fla memalingkan wajahnya dari para spg itu dan mengabaikan mereka. Dia tertawa menatap wajah Haikal langsung. Lalu tiba-tiba Haikal menyentuh pipinya dan mengusapnya dengan lembut.
"Pasti, dong..."
TING!
Pintu lift terbuka pada saat yang tepat. Kedua wanita spg itu segera kabur dari lift, sementara di luar pintu teman-teman Fla terpaku melihat pemandangan di dalam lift. Haikal segera menarik tangannya dan mereka berdua melangkah ke luar. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa, Fla menyapa teman-temannya.