“Kamu kenapa bisa ada disini?” tanya perempuan itu.
Agy tersentak pelan sebelum menoleh ke kirinya.
Melihat perempuan berambut merah muda berdiri di belakangnya, meneguk minuman melalui sedotan sambil menatapnya bingung.
“L-lu siapa? Gw dimana?” tanya Agy dengan panik.
Perempuan terdiam menatapnya.
Cukup lama, sebelum akhirnya mengeluarkan sedotan di mulutnya.
“...Kamu yang harusnya siapa, kamu kenapa bisa masuk sini?”
“Lu yang siapa.”
“Kamu.”
Agy menunjuk ke arahnya. “Elu-ah udahlah. Terus cara balik lagi ke rumah gw gimana?”
Perempuan itu menggelengkan kepala.
“Ga bisa.”
Agy terdiam sejenak.
Kalimat tidak lengkap keluar dari mulutnya.
“... G-ga bisa? Lu ngomong apa?”
Perempuan itu kembali meneguk minumannya sampai habis, kemudian berjalan mendekati.
“Ya… Ga bisa, kamu bakal tau apa yang aku maksud kenapa ga bisa.”
Ia kemudian duduk di salah satu kursi di rumah itu.
“Kamu… Beneran bisa liat aku?”
Agy menjaga pandangan ke arahnya.
Menatapnya seperti manusia biasa.
“Iya? Kenapa emang?”
Perempuan itu terkekeh sekali.
“Gapapa, aku cuma mastiin aja kalo aku ga gila. Banyak orang disini yang mulai ilang akal soalnya.”
Ia membungkukkan sedikit tubuhnya, sambil tetap menatap Agy.
“Kenalin, aku…”
Ia menghentikan ucapannya sendiri, kemudian terkekeh sekali dengan cukup keras.
“Aku ga yakin bisa ngenalin diri, agak aneh sih.”
Agy menatapnya datar. “Tinggal bilang nama susah amat, halo nama gw Agy, gitu doang.”
“Itu namamu?” tanya perempuan itu balik.
Agy hanya mengangguk beberapa kali.
Perempuan itu langsung tersenyum kecil sambil menunjuknya. “Kena deh… Kamu kenalin diri dulu.”
Agy hanya menatapnya dengan mulut sedikit menganga.
“Macam tak betul je budak ni.”
“Duduk aja dulu, ngobrol dikit. Biasanya yang lain juga bakal muncul nanti,” ucap perempuan itu.
Ia menyandar tubuhnya. “Namaku Yume, suka warna ungu, umurku-”
Agy menyilangkan kedua tangannya.
“Udah-udah, jangan semua biodata lu kasih. Sekarang gw gimana ini, masa disini terus? “
Yume mengangkat kedua bahu sambil tersenyum tipis.
“Ya… Kenyataannya gitu, aku salah satunya.”
Agy tidak menjawab apapun.
Hanya menghela nafas sambil perlahan menyisir sekitaran lagi.
Saat dirinya tengah sibuk memperhatikan setiap detail dirumah ini.
Tiba-tiba dari arah lain perumahan ini, terdengar suara seperti kayu yang terinjak sangat keras. Bahkan menggetarkan sedikit perumahan itu.
Suara itu berasal dari bagian belakang rumah ini.
Mereka berdua langsung menoleh ke belakang, dan membeku seperti itu selama beberapa detik.
“Mei, cek mau gak?” tawar Agy.
“Mei?”
Agy menoleh ke samping sedikit. “Nama lu itu, mau lu cek gak?”