We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #1

Chapter 1

Suatu sore, aku dihubungi oleh salah seorang teman. Katanya, ada sepupunya yang ingin berkenalan denganku sebab dia sedang cari laki-laki yang siap jadi sentana karena dia nggak punya saudara kandung lelaki.

Sejenak aku tidak langsung setuju, aku bahkan bertanya apakah itu penipuan atau bukan, lalu temanku tertawa dan ia kembali serius: situasinya genting sekali, katanya. Dia harus nikah tahun ini. Ketemuan besok di kafe yang udah aku kasih alamatnya jam 7 malam. Jangan sampai terlambat, kata Elok temanku sekaligus sepupu dari perempuan bernama Bungah yang akan berkenalan denganku.

Kemudian ia mengirimkan foto seorang perempuan yang aku tebak adalah sepupunya.

Wajahnya khas Bali, tampak seperti perempuan Bali kebanyakan. Kulitnya kuning langsat dengan wajah oval, tulang pipi tidak terlalu menonjol, hidungnya mancung dan bulat di bagian ujung, bibirnya terkesan merah alami dan penuh, rambutnya tebal dan hitam--sepertinya sejak kecil dia akrab dengan minyak orang-aring atau minyak kelapa yang biasa dipakai oleh Niangku untuk merawat rambut. Tubuhnya ramping semampai--bukan tipe perempuan kurus seperti model papan atas, tapi berisi bagian-bagian yang pas. Menjadikannya tidak terlalu kurus atau tidak terlalu gemuk--ideal. Dan yang paling berkesan adalah matanya yang besar dan tajam. Seolah di dalam tatapannya tersimpan misteri menarik yang mungkin saja membuat orang lain tertarik mengungkapnya.

Cantik. Perempuan yang akrab disapa Bungah itu cantik. Walau aku belum tahu bagaimana perangainya.

Aku tidak pernah pacaran sebab keadaanku yang tidak seperti lelaki kebanyakan. Oleh beberapa anggota keluargaku yang berusaha membuatku tetap optimis bahwa suatu hari nanti aku pasti akan dapat pasangan, selalu bilang kalau perempuan-perempuan itu segan dan sungkan dekat denganku. Sebab katanya tatapan mataku yang sayu terlalu mengintimidasi, aku tidak banyak bicara sehingga terkesan susah didekati, dan mereka sungkan karena status sosialku di masyarakat sebagai kalangan brahmana, yang mana menurutku, semua tentang ini adalah omong kosong belaka.

Sekarang aku 35 tahun dan tidak ada rencana untuk menikah. Aku tidak peduli kalau nanti aku jadi perjaka tua. Sebab aku memahami keadaanku sendiri dan bagaimana lingkunganku memandang keadaanku dari sudut pandang mereka masing-masing.

Aku tidak punya banyak energi untuk menjelaskan bahwa secara sains kondisi biologis yang aku alami ini tidaklah aneh. Ini adalah variasi dari normal.

Jadi, sudah lama sekali aku biarkan mereka berasumsi tentang apa saja mengenaiku. Aku tak membantah rumor yang mereka buat, aku tak bereaksi apapun. Sebab menurutku itu tidaklah perlu.

Itulah kenapa aku cukup kaget ada perempuan dari kalangan brahmana yang mau bertemu denganku untuk berkenalan, walau aku yakin dia tidak akan bertahan lebih dari tiga hari setelah tahu keadaanku yang sebenarnya.

Malam ini setelah aku merenung berjam-jam, kuputuskan tetap berangkat ke kafe sesuai alamat yang Elok berikan.

Orang tua, kedua kakak lelakiku beserta istrinya menatapku heran ketika aku bilang pada mereka aku akan keluar sebentar. Mungkin karena kebetulan malam ini adalah malam Minggu, dan pakaianku lebih rapi daripada hari biasa, jadi mereka berasumsi aku ada kencan buta, sebab aku tak pernah terkesan dengan narasi Malam Minggu bagi muda-mudi. Semua malam sama saja.

Bungah ini hanya penasaran, dan setelah dia tahu kondisiku yang sebenarnya, dia akan pergi sama seperti yang lain, kataku dalam hati.

Aku sampai di kafe itu sepuluh menit sebelum jam 7, dan lima menit kemudian saat waiters mengantarkan pesananku, seorang perempuan datang lalu duduk di hadapanku tanpa ragu. Tangannya kemudian terulur, "Saya Bungah." katanya.

Aku menjabat tangannya dan bilang, "Raka."

Entah fotoku yang mana yang dicomot Elok di instagramku sehingga perempuan ini cepat menemukanku di antara pengunjung yang lain.

Ia tersenyum kemudian memesan sesuatu, sementara aku memperhatikan penampilannya.

Sederhana saja. Ia hanya mengenakan dress berwarna peach dengan kerah berbentuk V. Asesorisnya hanya mengenakan arloji kecil di pergelangan tangan kiri, sementara pergelangan tangan kanan dipakaikan gelang-gelang Tri Datu, Panca Datu, hingga Sapta Datu--yang biasanya didapat dari pura ketika odalan dilaksanakan. Anting-antingnya membuat Bungah tampak manis. Rambutnya diurai dan hanya dikucir sedikit di bagian belakang dengan bagian bawah dibuat agak bergelombang.

Sama saja. Dia sama-sama cantik saat ada di foto maupun saat berhadapan langsung.

"Kamu kerja di mana Raka?" tanyanya, setelah pesanannya sampai di meja.

"Penulis." jawabku singkat. "Kerjanya dari rumah aja."

Aku menunggunya menyampaikan kalimat klasik yang biasa aku dengar: memangnya bisa kamu menghidupi diri sendiri dari menulis aja? Tapi dia tidak mengatakannya.

"Berarti sekarang full time jadi penulis ya?"

Aku mengangguk.

"Saya pernah baca berita tentang kamu di beberapa koran. Kamu sudah nulis puluhan buku, dan semuanya best seller. Waktu itu bukumu juga dapat penghargaan SEA Writers Award, kan? Beberapa karyamu juga pernah masuk Kusala Sastra Khatulistiwa."

Lihat selengkapnya