We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #2

Chapter 2

Malam itu aku pulang agak terlambat karena baru saja menghadiri acara pernikahan salah satu teman. Sebenarnya, aku bisa saja pulang tengah malam karena masih ada acara lanjutan sampai menjelang dini hari, tapi aku sudah lelah bukan main.

Kupikir juga tidak ada gunanya menghabiskan terlalu banyak waktu hanya untuk mengobrol tidak jelas arahnya, sebab waktu itu bisa aku gunakan untuk menulis atau membaca.

Walaupun tadi sempat ditahan oleh beberapa teman yang sudah dalam keadaan setengah mabuk karena kebanyakan minum arak dan bir, untungnya aku bisa keluar dan mencapai mobilku dengan selamat–dalam artian tidak sampai dicekoki minuman alkohol. Bukannya aku anti minuman seperti itu, aku memang minum beberapa kali ketika ingin, tapi aku sesuaikan dengan dosis manfaat, sehingga aku tidak pernah sampai mabuk. Sederhananya, aku hanya peminum, bukan pemabuk.

Dan malam ini aku tidak minum alkohol sama sekali karena sadar diri harus menyetir sendiri, tapi ketika sampai rumah, aku menemukan orang tuaku sedang mengobrol hangat dengan seorang perempuan di depan teras rumah kami, yang setelah aku melangkah lebih dekat, perempuan itu adalah Bungah.

Aku mendengus pelan dan sudah akan berlalu ke ruanganku sendiri–aku memang punya ruang khusus yang terpisah dari rumah utama orang tuaku. Ruangan itu dikhususkan untuk tempatku bekerja. Tapi aku lebih banyak tidur di sana daripada di kamar sendiri, apalagi kalau sudah pulang larut begini.

Belum sempat aku meraih kenop pintunya, suara Aji membuat gerakan itu terhenti, “Tu Gus, kamu temani dulu Bungah. Dia sudah nunggu dari dua jam yang lalu. Kasihan kalau nggak kamu temui.”

“Saya nggak pernah nyuruh dia datang ke sini.”

Aji tidak menjawab, tapi dalam diamnya aku tahu ia sedang menatap Ibu. Dan itulah kenapa sekarang Ibu menyeretku pelan untuk menemui Bungah sejenak, duduk di hadapannya. Ibu kembali menyediakan teh dan cemilan, kemudian masuk bersama Aji ke rumah utama–meninggalkanku hanya berdua dengan perempuan ini.

“Jangan bilang kamu udah bicara ke orang tua saya soal itu.”

Dia terkekeh pelan. “Tenang aja, saya belum bilang kok. Gimana pun, saya harus dapat persetujuanmu dulu. Kalau nanti saya bilang tanpa persetujuanmu, terus orang tuamu setuju dan kamu langsung dipaksa nikah sama saya, gimana? Bukannya akan kelihatan memalukan kalau di acara besar nanti kamu kelihatan seperti pengantin yang ogah-ogahan nikah?”

“Keputusan saya nggak akan berubah,” kataku final, kemudian bangkit dari posisi duduk. “Sekarang kamu pulang. Saya mau istirahat. Dan jangan datang ke sini lagi.” Setelah bilang begitu, aku langsung melangkah ke tempat yang aku sebut sebagai studio pribadi.

Pintu sudah terbuka dan aku segera masuk, tapi saat akan menutup kembali pintunya, kaki Bungah menahannya. Saat aku mendongak, ia tersenyum kecil kemudian memasukkan dirinya sendiri ke studio ini–yang tidak luas, tapi tidak sempit juga. Lebih mirip satu kamar kos tanpa kamar mandi dalam. Ia lalu mengunci pintunya dari dalam kemudian kembali menatapku. Jarak kami cukup dekat, sehingga hal itu membuatku tidak nyaman. Untungnya, Bungah langsung duduk di tepi kasur–memberiku ruang yang cukup untuk kembali bernapas.

“Saya nggak akan seperti ini kalau saya punya uang milyaran,” katanya. “Kalau saya nggak nikah, kedudukan saya di griya bisa jadi lemah. Keluarga saya saya punya tiga rumah. Satu rumah untuk Aji dan Ibu, satu rumah untuk saya, dan yang terakhir untuk adik saya. Bayangin kalau rumah itu kosong dalam waktu yang lama, sementara kata dokter, umur Aji saya nggak lama lagi. Kalau Ibu saya orang Bali dan seorang Ida Ayu, saya nggak akan buru-buru begini. Masalahnya, Ibu saya bukan orang Bali. Mereka memang nggak menampakkan secara gamblang kalau rumah itu akan jadi bahan rebutan, tapi dari gerak-geriknya pun saya sudah paham. Aji saya itu anak bungsu dari enam bersaudara dan warisannya yang paling sedikit.”

Aku tetap berdiri mematung di posisiku yang menyamping darinya, tapi tetap mendengarkan.

Lihat selengkapnya