We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #3

Chapter 3

Hanya kakek dan Ajiku yang tidak terlahir dengan kondisi seperti itu. Mereka menduga kondisi itu sudah tidak akan diturunkan pada keturunan selanjutnya, walaupun tetap ada kekhawatiran kalau kedua kakakku boleh jadi terlahir dengan kondisi seperti itu lagi. Tapi kemudian mereka lega karena kedua kakakku selamat, sementara aku tidak.

Ibuku bahkan sembahyang ke banyak pura supaya aku cepat sembuh dan kembali normal. Ajiku yang pendiam semakin diam. Di meja makan, ia hanya berbicara dengan kedua kakakku dan Ibu, sementara aku hanya sesekali diajaknya bicara. Cuma Ibu yang berani mendekat–mungkin karena dia yang mengandung dan melahirkan.

Bahkan setelah aku menjalani operasi kelamin dan sudah menjadi laki-laki tulen, apa yang pernah melekat pada aku dan buyutku, tidak pernah benar-benar sirnah.

Orang-orang masih membicarakan diam-diam, beberapa berbisik, dan beberapa lainnya menatap dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan, sebab tatapannya munafik. Beberapa dari mereka menatapku dengan segan, mungkin karena status sosialku, tapi di saat yang sama menyiratkan keheranan dan kebingungan dan perasaan lain yang tidak bisa aku deskripsikan.

Ketika aku tidak lagi menganggapnya sebagai aib, bukan berarti orang lain melupakannya.

Dan aku tahu bahwa label ini akan terus menempel padaku sampai mati–seperti tanda lahir yang bisa dilihat oleh semua orang.

Sebelum Bungah, sudah ada seorang gadis yang pernah bilang suka padaku secara terang-terangan. Tapi kemudian teman-teman sekelasku yang lain bilang kalau gadis itu cuma main-main, dan ada hari dimana gadis itu menghampiriku, mengajakku bicara berdua saja. Dan dalam percakapan yang singkat itu, dia selalu bilang kalau perasaannya tidak pernah bohong. Dia sungguh-sungguh menyukaiku, tapi aku memilih bersikap dingin dan menganggapnya tidak ada. Berharap dia akan menyerah dan cari orang lain saja yang lebih pantas disukai.

Tapi perasaannya bertahan sampai kami kuliah. Walaupun kami tidak satu jurusan, dia selalu cari cara untuk bisa bertemu denganku. Sekadar menyapa, mengobrol singkat, dan mengajakku makan bersama, walaupun seringnya aku yang menolak ajakannya.

Sampai suatu hari, dia tidak pernah muncul untuk mencariku lagi. Ketika tidak sengaja bertemu di banjar karena kami berasal dari desa yang sama, dia tidak menyapaku. Dia menganggapku seperti tidak ada di sana. Seperti hantu yang tidak bisa dia lihat. Dan aku tidak menawarkan diri untuk memperbaiki pertemanan kami, karena aku juga langsung menjauh.

Ketika seseorang memilih mundur satu langkah dariku, maka aku akan mengambil sepuluh langkah mundur dari dunia mereka. Dan aku sudah melakukannya selama bertahun-tahun.

Aku tidak tahu apakah dia adalah salah satu penyesalan terbesarku atau tidak, karena aku tidak pernah meluangkan waktu untuk merenungkan perasaan-perasaan semacam itu.

Aku terlalu sadar posisi dan kondisi. Jadi aku mulai membangun gelembung imajiner sebagai benteng pertahanan supaya tidak ada orang yang masuk untuk mengusikku.

Aku seolah sanggup menghadapi seribu penolakan, daripada menghadapi satu orang yang terang-terangan merobek gelembung itu dan masuk ke duniaku--menawarkan penerimaan.

Kupikir aku tidak akan bertemu dengan orang yang seperti itu lagi. Selama ini, duniaku sudah cukup tenang walaupun terasa sangat dingin dan sepi–dengan orang-orang tetap berada di luar gelembung dan garis batas yang kubuat sendiri, dengan tetap pada posisinya dan tidak melewati batas.

Sampai akhirnya Bungah datang seenaknya. Kalimatnya kemarin bahkan bersarang di kepalaku selama dua minggu. Yang mana ini rekor terlama dari kalimat-kalimat orang lain yang mengomentari segala hal dariku.

Aku bisa dengan mudah melupakan kalimat-kalimat mereka seperti angin lalu yang hanya lewat sebentar, sebab kalimat mereka sama semua–hanya kemunafikan yang dibungkus dengan bahasa yang sopan dan nada bicara yang halus.

Sementara Bungah datang dengan kalimatnya yang tegas dan tajam seperti pisau. Jujur, apa adanya, dan tidak terdengar munafik. Justru kalimat seperti inilah yang terdengar seperti ancaman bagiku–yang sanggup membuatku menggigil ketika mengingatnya tanpa sadar, sebab kalimat seperti itu tidak familiar bagiku.

Suatu sore, sepulang dari mengisi acara bedah buku dan kelas kepenulisan, aku menemukan seorang perempuan lain yang sedang berbicara dengan Ibuku di teras rumah.

Lama aku menatapnya, sampai akhirnya aku sadar bahwa dia adalah Elok–teman satu jurusanku saat kuliah dulu.

“Tu Gus, ini ada teman kuliahmu. Masih ingat nggak?” tanya Ibu.

Aku mengangguk kecil. “Elok, kan?”

Dia tersenyum dan mengangguk. Ibu kemudian pamit karena harus menyiapkan sesajen dan makan malam, maka kami hanya ditinggal berdua saja.

“Apa kabar, Lok?” tanyaku sambil menjabat tangan.

“Biasa saja,” balasnya. “Aku sudah pernah bilang belum kalau aku punya sepupu perempuan?”

Aku mengernyitkan dahi, berpikir dan mencoba mengingat apakah ia pernah mengatakannya. “Mungkin pernah, tapi aku yang sudah lupa.”

“Namanya Bungah.”

Mendengar nama itu seketika membuatku kesulitan menelan ludah sendiri. Tidak mungkin Bungah yang dimaksud adalah Bungah yang itu–perempuan keras kepala yang aku yakini punya kekuatan 10 kuda. Mungkin di kehidupan sebelumnya, dia adalah seorang ksatria laki-laki yang gagah perkasa, maka ketika terlahir ke kehidupan yang sekarang sebagai perempuan, energi ksatrianya masih terbawa.

Lihat selengkapnya