We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #4

Chapter 4

Tadinya aku ingin bilang soal pernikahanku dan Bungah ketika kami makan malam bersama, tapi aku merasa itu bukan momen yang tepat mengingat dua kakak iparku dan anak-anaknya pasti hadir di tengah-tengah kami–membuat kami tidak bisa membicarakan hal yang serius di depan anak kecil, jadi aku memberi jarak sekitar satu jam setelah makan malam untuk mempersiapkan diri. Aku sempat masuk kamar dan berlatih bicara di depan cermin, bergumam pelan. Kemudian menebak-nebak apa respons yang akan diberikan oleh Bli Dirga dan Bli Ngurah, juga Ibu dan Aji.

Aku membayangkan pertanyaan yang mungkin akan mereka tanyakan, dan melatih diri untuk menjawabnya dengan mantap.

Sudah sejak lama aku bilang pada orang tuaku bahwa aku tidak mau dijodohkan. Bahkan aku sudah bilang kalau kemungkinan besar aku tidak akan menikah karena kondisiku. Walaupun sudah melakukan operasi kelamin dan menjalani upacara suci Prayascita serta mengumumkan identitasku sebagai purusa (laki-laki) dalam keluarga ini di hadapan orang-orang banjar–sehingga aku sudah dapat pengakuan adat kalau aku adalah laki-laki tulen, tetap saja pernikahan adalah sesuatu yang terasa jauh bahkan untuk sekadar aku bayangkan.

Sebab aku merasa tidak ada perempuan yang akan menerima masa laluku. Untuk sebagian orang, masa lalu tidaklah penting, tapi untuk sebagian orang yang lain, masa lalu adalah hal krusial. Sebaik apapun kau di masa sekarang, tapi kalau di masa lalu kau pernah buruk, maka kau yang sekarang boleh jadi tidak bernilai apapun di mata mereka.

Kondisiku memang disimpan rapat-rapat dan hanya diketahui oleh orang-orang penting di banjar. Sampai sekarang, orang di luar griya tidak tahu tentang keadaanku–entah mereka betulan tidak tahu atau sedang pura-pura.

Saat berkata aku tidak akan menikah, aku masih ingat ekspresi orang tuaku. Di balik sikapnya yang diam, Aji menyimpan kekecewaan yang bisa terlihat dari sorot matanya yang kelihatan hilang harapan dan meredup, bahkan saat itu bahunya yang biasanya tegas jadi mengendur. Sementara Ibu tidak bisa menahan air matanya. Ia menangis sambil memelukku, walau tidak mengatakan apapun.

Jadi, mungkin saja berita yang akan aku sampaikan malam ini mengejutkan mereka. Perasaan mereka mungkin campur aduk–senang, tidak percaya, sekaligus takut.

“Aji, Ibu, Bli Dirga, Bli Ngurah, saya mau bicara sesuatu.” kataku pada mereka yang sedang berkumpul di ruang tengah bersama istri dan anak-anak mereka.

Merasa kalau apa yang kami bicarakan akan sangat personal, kedua kakak iparku–istri dari Bli Dirga dan juga Bli Ngurah, seolah tahu situasi. Maka mereka memilih membawa anak-anak mereka ke kamar belakang–dimana di sana juga tersedia ruangan untuk anak-anak mereka bermain, sehingga sekarang di ruang tengah hanya ada kami berlima. Televisi dimatikan dan aku merasa sunyinya rumah ini membuat tangan dan kakiku agak gemetar.

“Saya mau menikah.”

Akhirnya setelah sekian detik cuma bisa diam, aku mengatakannya juga. Dengan nada yang mantap dan hanya dalam satu tarikan napas.

Ibu langsung terkesiap kaget seolah tidak percaya dengan apa yang kukatakan barusan. Aji masih diam, walau ia juga kelihatan kaget. Sementara kedua kakakku saling tatap, mereka berkomunikasi tanpa suara–bertanya apakah mereka salah dengar.

“Ibu mendukung keputusan Tu Gus Raka kalau memang sudah menemukan calon yang terbaik. Siapa dia, Nak? Dari keluarga mana?” Ibu langsung berpindah posisi duduk di sebelahku. Ia memelukku sekilas kemudian mengelus-elus lengan dan juga punggungku.

“Bukan orang jaba,” kataku. “Ida Ayu Bungah Rakadewi namanya. Rumahnya di Ubud juga.”

Kemudian aku memberikan foto Bungah yang seorang diri maupun dengan keluarga intinya–Aji, Ibu, dan adik perempuannya yang sedang berfoto berlatar bagian dalam Pura Besakih dengan kebaya putih. Kata Bungah, foto itu diambil saat Ajinya masih dalam keadaan sehat.

Ibu yang melihat foto itu pertama kali, kemudian kedua kakakku, dan yang terakhir adalah Aji. Ia mengerutkan dahi saat melihat foto itu, lalu membetulkan letak kacamatanya yang agak melorot. “Wira.” gumamnya, membuat kami menoleh serempak. “Yang laki-laki ini teman Aji saat kuliah dulu.” Ia tersenyum kecil kemudian menyerahkan ponsel itu kembali padaku.

“Aji sudah lama tidak berkabar dengannya. Kabar terakhir yang Aji tahu, dia menikah dengan seorang perempuan Jawa. Aji pikir ia tidak tinggal di Bali. Kami dulu berteman baik walau beda jurusan. Aji kami juga berteman, jadi kami sering main ke rumah satu sama lain.” Aji mengenang masa-masa mudanya. Aku agak kaget karena baru tahu fakta ini. Mungkin Bungah juga sama kagetnya sebab ia tidak membahas kalau Aji kami adalah teman baik. “Bagaimana kabarnya sekarang?”

Lihat selengkapnya