We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #5

Chapter 5

Pertemuan keluargaku dan keluarga Bungah sempat tertunda. Harusnya kemarin, tapi baru sekarang kami berkunjung karena Ajinya Bungah bersikeras untuk bertemu secara langsung di griya, tidak dengan menerima kami di rumah sakit. Sebab katanya momen yang sakral dan membahagiakan ini harus dibicarakan di tempat yang pantas.

Maka, untuk pertama kalinya aku masuk ke griya Bungah. Yang tinggal di sana ada empat KK, tapi aku belum tahu siapa saja mereka. Kakiang dan Niang–atau ibu dan ayah dari Ajinya Bungah sudah lama meninggal, sehingga yang tersisa hanyalah anak-anak, cucu, dan beberapa cicit saja. Kata Bungah, beberapa ada yang tinggal di luar Bali, tapi ada juga yang tinggal di kabupaten yang berbeda. Keluarganya baru akan kumpul dalam jumlah lengkap ketika ada acara-acara penting, seperti Odalan dan menyambut Hari Raya Galungan, Kuningan, Nyepi, dan sebagainya.

Sebelum datang ke sini, keluarga besar Ajiku juga sudah tahu tentang rencana pernikahanku dengan Bungah. Respon mereka cenderung mendukung walau tetap ada yang bertanya apakah aku sudah memikirkan keputusan itu dengan matang dan apakah aku sudah siap dengan segala konsekuensinya. Dan ketika aku menjawab: siap, reaksi mereka terbagi dua. Ada yang puas dengan jawabanku, ada juga yang tidak langsung percaya, tapi walaupun begitu, mereka tetap menyerahkan semua keputusan di tanganku.

Bungah duduk di seberangku bersama keluarga besarnya, sementara aku duduk didampingi keluargaku. Dan ternyata, menjelaskan keadaanku yang sebenarnya kepada keluarga besar Bungah lebih sulit daripada yang aku bayangkan. Aku sudah melatihnya beberapa kali di cermin, tapi tetap saja rasa gugup itu tidak bisa sirna ketika aku dihadapkan langsung pada kenyataan.

Tidak ada yang kututupi di hadapan keluarga besar Bungah. Walaupun tubuhku sedikit gemetar, tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Aku bahkan menceritakan tentang kakek buyutku yang juga terlahir dengan kelamin ganda–yang bisa kubayangkan bagaimana kesulitannya saat itu sebab kedokteran modern belum berkembang sebaik sekarang.

Mimik wajah mereka beragam. Rata-rata mengernyitkan dahi dalam-dalam, kemudian saling tatap dengan orang di sebelahnya, kemudian berbisik entah apa yang dibicarakan. Setelah berbisik, kadang mereka mengangguk ataupun menggeleng–entah apa maksudnya.

Ekspresi mereka mencapai puncaknya ketika akhirnya aku bilang bahwa aku tidak bisa menjamin keturunan untuk Bungah sebab produksi spermaku sedikit, sehingga akan sulit memiliki anak secara alami tanpa bantuan dokter. Tapi aku juga menyampaikan solusi itu dan solusi kedua, yaitu adopsi. Aku juga mempertegas walaupun aku bekerja dari rumah sebagai penulis, tapi aku sanggup membiayai kehidupan kami berdua, dan juga anak kami nantinya.

Ketika ekspresi wajah mereka berubah-ubah selama mendengar penjelasanku, Bungah adalah salah satu yang tidak berekspresi apa-apa selain mengangguk–menandakan bahwa ia mendengarku.

Tatapan matanya lurus padaku, dan kadang ia mengangguk saat aku berusaha menemukan kata-kata yang pas dan sopan–seolah berusaha meyakinkanku bahwa kalau aku tidak menemukan kata yang lebih sopan, maka aku boleh mengatakan yang sebenarnya. Dan apa yang dilakukan Bungah sedikit banyak mampu mengurangi kegugupanku.

Setelah aku bicara, giliran Ajinya Bungah yang angkat suara. Baru kuketahui beberapa jam yang lalu dari Bungah bahwa Ajinya adalah pensiunan dosen biologi yang aktif melakukan berbagai macam penelitian, sehingga besar kemungkinan ia memahami kondisi biologisku, dan tidak bisa dipungkiri, ini terasa seperti angin segar.

“Saya pensiunan dosen biologi. Selain mengajar, saya juga peneliti,” kata Ajinya Bungah membuka suara. “Dan saya paham bagaimana kondisi biologisnya Tu Gus Raka. Itu semua adalah variasi dari normal sebab tidak ada yang tidak normal dalam biologi. Pohon yang akarnya serabut dan akar tunjang, mana yang normal? Keduanya normal. begitu pula ketika seseorang lahir dengan kelamin ganda, sebab gender manusia itu abu-abu, tidak hitam dan putih saja.”

Kami mendengarkan dengan seksama, walaupun bisa kulihat jelas ekspresi siapa saja yang tampak bisa menerima fakta itu dan yang belum bisa menerimanya.

“Lagipula, Tu Gus Raka sudah menjalani operasi dan tanda-tanda biologisnya jelas–bahwa ia adalah laki-laki. Ia juga sudah melakukan upacara suci dan mengumumkan statusnya sebagai purusa pada orang-orang di banjar, jadi, menurut saya, tidak ada yang perlu dipermasalahkan terkait kondisinya,” Ajinya Bungah tersenyum kecil walaupun wajahnya kelihatan pucat dan pipinya tampak lebih tirus daripada yang aku lihat di foto.

“Apa yang sudah terjadi, biarlah berlalu. Pernikahan itu menyatukan dua keluarga, jadi saya harap pernikahan ini juga bisa saling melindungi. Apa yang kita dengar, kita rasakan, dan kita saksikan di griya ini, biarlah tetap di sini, jangan dibawa ke luar. Karena kalau sudah terdengar orang luar, mereka bisa menambahkan atau mengurangi cerita yang sebenarnya. Dan memang sudah sewajarnya kita saling jaga dan menghormati wilayah privat orang lain.”

Di sampingku, Aji dan Ibu kelihatan mengangguk-angguk. Wajah mereka berdua tersenyum bangga dengan penerimaan yang dilakukan oleh Ajinya Bungah terhadap kondisiku. Walaupun ia anak terakhir, tapi kulihat kakak-kakak lelakinya tampak mendengarkan pendapatnya, tidak menyela di tengah jalan.

Sejenak, aku merasa bahwa penerimaan tidak terasa asing lagi.

“Dan soal keturunan, biarlah mereka berdua berusaha sebaik mungkin. Kita minta bantuan dokter sambil menunggu ada anak dari sanak saudara yang bisa mereka adopsi seperti anak sendiri.” Ajinya Bungah kembali melanjutkan. “Nak Raka, umur saya mungkin tidak lama lagi.”

Kami sontak memberikan atensi penuh pada apa yang dikatakan oleh Ajinya Bungah. Kulihat Ibunya Bungah mulai menangis, adiknya juga, sementara Bungah berusaha menahan diri.

“Kalau nanti saya sudah sampai pada waktunya dan tidak sempat menemani kalian lebih lama, tolong jaga Bungah baik-baik. Kalau nanti kamu tidak mencintainya lagi, tidak apa-apa. Kembalikan saja Bungah kepada kami dengan baik-baik. Paman-pamannya di sini akan menjaganya.”

Aku sudah sering mendengar kalimat ini diucapkan oleh seorang ayah pada calon suami anak perempuannya. Semula kuanggap klise belaka, sampai aku mendengarnya langsung. Kata-katanya bukanlah kata-kata baru, tapi tetap saja, mendengarnya secara langsung membuatku kesulitan menelan ludah sendiri.

Aku mengangguk sebagai jawaban, dengan mata kami yang tetap saling tatap.

“Saya restui pernikahan kalian, Nak.”

Aku mengangguk lagi. Beberapa dari kami sudah mengusap air mata, tapi Bungah tetap bertahan di posisinya. Sesekali ia berdehem untuk mengenyahkan keinginan untuk menangis. Aku pun mendadak seperti merasakan sesak di dada.

Lihat selengkapnya