Pagi ini, aku datang ke griya Bungah untuk membantu persiapan pernikahan.
Begitu sampai di sana, sudah ada banyak orang yang datang lebih dulu daripada aku, dan mereka tampak sudah tahu apa yang harus dilakukan. Mereka tidak tampak canggung, sebaliknya kelihatan mudah sekali berbaur.
Suara pisau yang sedang memotong janur terdengar bersahutan. Aroma daun kelapa muda, bunga, dan dupa menyatu dengan udara pagi khas Ubud yang sejuk.
Perhatianku langsung tertuju pada bale dangin yang sudah penuh oleh para ibu dan perempuan muda yang duduk melingkar membuat banten. Sambil bicara, makan cemilan, dan sesekali menyesap kopi hitam, tangan mereka dengan terampil bergerak cepat–melipat janur dan menyusun bunga-bunga. Dari tangan mereka, daun kelapa itu berubah menjadi berbagai macam bentuk sesajen yang cantik.
Salah satu pamannya Bungah datang menghampiriku yang baru saja keluar dari dapur. Aku mengucapkan salam dan ia pun membalasnya dengan ramah.
“Raka,” katanya, “kamu kuat angkat bambu?”
Aku langsung mengangguk.
Ia lalu mengajakku mengangkat bambu panjang untuk mendirikan penjor di jalanan depan rumah sebagai tanda bahwa ada acara penting di griya ini. Untungnya, aku sudah mengantongi sarung tangan yang cukup tebal dari rumah, sehingga saat mengangkat bambu-bambu itu, tanganku tidak gatal terkena serat-serat halusnya.
Aku menahan ujung bambu dengan canggung, tapi penuh konsenterasi karena aku tidak mau melakukan kesalahan, sementara paman Bungah yang satu mulai mengikat janur.
“Lebih tinggi sedikit,” katanya, dan aku pun mengangkat bambu itu sedikit lebih tinggi.
Walaupun sudah sering membantu kegiatan di banjar dan ngayah ketika ada upacara-upacara suci, tetap saja aku bukan orang yang langsung bisa berbaur dan akrab. Orang-orang di desaku bahkan sudah hapal bahwa aku hanya datang untuk membantu apa saja sampai selesai tanpa banyak bicara. Beberapa dari mereka pernah berkata padaku bahwa aku terlalu serius saat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu–padahal seharusnya aku bisa sedikit lebih santai dan berbaur supaya pekerjaannya tidak terasa terlalu berat, tapi walaupun sudah dibilangi begitu beberapa kali, aku tetap melakukan hal yang sama, seolah itu adalah kebiasaanku. Karena menurutku, pekerjaan akan lebih cepat selesai kalau aku tidak banyak bicara dan hanya fokus pada apa yang harus aku kerjakan.
Penjor-penjor itu sudah berdiri tegak di depan griya. Ujung janurnya melengkung dan tampak menari-nari ketika diterpa oleh angin pagi. Aku mundur dua langkah untuk melihatnya. Penjor di Bali tidak pernah gagal membuatku terpana karena mereka memang bagus.
Beberapa bule lewat di depan griya bersama anjing mereka. Ada yang berhenti untuk mengambil foto penjor itu, bercakap-cakap sebentar dengan salah seorang dari kami--menanyakan apa yang sedang kami pasang dan apa gunanya. Aku segera masuk setelah memastikan bahwa penjor-penjor itu sudah berdiri kokoh.
Ketika masuk kembali ke halaman, Bungah datang dari bale membawa nampan berisi bunga. “Kamu sudah dari tadi? Kenapa aku nggak tahu ya?”
Aku mengangguk. “Ada lagi yang bisa aku bantu?”
Ia tidak langsung menjawab, melainkan menatapku sebentar. Tatapannya seolah menyiratkan bahwa ia agak tidak percaya dengan pertanyaanku, tapi di saat yang bersamaan juga memberi tatapan lega. Memangnya kenapa? Menurutku ini hal yang normal dilakukan. Toh, griya ini juga akan menjadi rumah baruku, sudah kewajibanku membantu segala sesuatu yang akan dilaksanakan di sini.
“Masih banyak,” katanya. “Memangnya nggak papa?”
“Bungah, aku datang ke sini untuk bantu-bantu. Kalau aku diam aja malah nggak enak. Nggak usah sungkan.”
Ketika Bungah mulai memanduku terkait apa saja yang harus kukerjakan, sejak itulah aku tidak berhenti bergerak.
Setelah pekerjaan yang satu selesai, pekerjaan lainnya telah menanti. Aku membantu memotong bambu, mengangkat kursi dari bale satu ke bale lainnya, mengambil air untuk para perempuan yang membuat banten, membuatkan kopi dan mengantarkan cemilan untuk mereka yang sudah membantu, mengantar nampan banten dari dapur ke halaman, membantu paman Bungah di dapur yang sedang memasak lawar dan sayur ares berikut dengan nasinya untuk menjamu mereka, lalu keluar sebentar untuk membeli beberapa dus air mineral dalam kemasan bersama dengan salah satu sepupu lelaki Bungah yang bernama Wisnu.
Badanku sudah mulai terasa pegal-pegal dari tangan sampai kaki, tapi aku tetap diam. Sesekali minum kopi hitam panas dan duduk sebentar untuk makan cemilan, sebelum bertanya pada mereka apakah butuh bantuanku.
“Calon suamimu itu memang nggak banyak bicara ya Tu Gek,” kata salah seorang Ibu kepada Bungah. Kebetulan aku ada di dekat mereka, jadi masih bisa mendengarnya.
“Begitulah, Bu. Tapi dia keren kan? Pekerja keras.”