We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #7

Chapter 7

Beberapa hari yang lalu, aku sudah datang ke pedanda untuk mencari hari baik pernikahan didampingi oleh pamannya Bungah, Bli Ngurah, dan Aji.

Sampai beberapa hari setelahnya, aku masih tidak menyangka bahwa ada orang yang bisa memahami penanggalan kuno–membuatku bertanya-tanya berapa lama mereka mempelajarinya dan bagaimana konsekuensinya kalau mereka melakukan kesalahan.

Keluarga pedanda yang aku datangi kemarin memang mewariskan ilmunya turun-temurun dari para tetua kepada generasi selanjutnya, sehingga wajar kalau anak-cucu yang melanjutkan sudah menguasai ilmunya, sebab boleh jadi mereka diajari sejak lama sekali.

Sementara itu, hari ini kami akan melaksanakan fitting baju untuk kedua kalinya. Supaya tidak membuang waktu, maka aku menjemput Bungah setelah ia selesai bekerja. Dan tampaknya sebagai pemilik wedding organizer, dia sudah terbiasa pulang paling akhir.

Sore hari ini pukul setengah enam ketika matahari mengeluarkan cahaya oranye keemasan, jalanan Ubud masih ramai.

Udara sore hari memiliki aroma yang lebih beragam–antara dupa, bunga, makanan yang dimasak di rumah-rumah makan pinggir jalan, asap kendaraan, sesajen, dan aroma lembab dari tebing-tebing berlumut sehabis hujan.

Sepanjang jalan, kita bisa lihat sendiri bahwa Bali memang telah berubah.

Dulu sekali ketika kakek buyutku masih hidup, aku yakin ia tidak pernah membayangkan bahwa akan ada orang yang mampu mendirikan bangunan di atas tebing yang tinggi, tapi sekarang, tebing-tebing di Bali bisa disulap menjadi kafe, jalanan, bahkan villa dan hotel mewah. Air yang dulu dipakai mengairi subak, sekarang harus dibagi-bagi untuk dialirkan ke toilet dan kolam renang di villa dan hotel-hotel.

Sampai sekarang aku masih bertanya, apa yang membuat turis-turis ini datang ke Bali? Narasi slow living? Itu hanya berlaku kalau kau turis asing yang banyak uang, sementara untuk warga lokal Bali, tidak ada istilah itu sebab hidup kami berputar pada bekerja dan ngayah untuk upacara-upacara suci--mencoba menikmatinya walau kadang lelahnya tidak terbayangkan.

“Hari ini aku nyaris bertengkar dengan Ibu salah satu klien,” ujar Bungah di sela-sela perjalanan kami menuju salah satu rumah penjahit yang sudah dipercayainya untuk membuatkan baju pernikahan kami.

“Kenapa?”

“Klienku ini anak tunggal, otomatis dia harus cari sentana. Awalnya, pacarnya setuju. Tapi setelah uang masuk semua ke tempatku karena dia mau pakai jasa kami, dia datang dan bilang kalau pernikahannya batal karena pacarnya mendadak nggak mau nyentana. Dia ngomong baik-baik, dan kami juga cuma bisa mengembalikan setengah uangnya karena setengahnya lagi udah masuk ke katering, make up, dekorasi, fotografi, penyewaan baju, banten, uang gedung, sampai uang untuk jasa bridesmaidnya. Anak ini sebenarnya nggak masalah karena uangnya balik setengah, tapi Ibunya yang nggak bisa terima."

Bungah membuang napas kasar kemudian menoleh sekilas ke arahku.

“Makanya tadi Ibunya datang sendiri ke kantor kami karena nggak terima dan menuduh kami menipu. Dia marah-marah, padahal kami sudah berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan baik-baik, tapi tetap aja dia nggak terima. Padahal di dokumen transaksi udah jelas kalau acaranya batal setelah uangnya masuk, kami cuma bisa mengembalikan setengah. Untungnya, suaminya langsung datang menenangkan si Ibu. Sayangnya, ada beberapa barang di kantor yang dibanting sama dia. Walaupun cuma beberapa vas dan guci, tapi tetap aja sih. Tapi udah selesai urusannya. Suaminya yang nanggung uang ganti rugi tanpa kami minta."

Lihat selengkapnya