Undangan telah disebar baik secara digital ataupun cetak. Sekarang semua orang menggenggam ponsel paling tidak 4-8 jam sehari, jadi kemungkinannya kecil kalau mereka tidak membaca pesan yang kami kirimkan.
Dan ternyata memang benar. Hanya dalam hitungan jam, orang yang aku kirimi undangan sudah mulai membalas, mengucapkan selamat, menyampaikan doa-doa mereka, dan beberapa yang dekat menanyakan mengapa aku tidak pernah membawa Bungah ke tempat biasanya kami nongkrong untuk dikenalkan pada mereka–sebab katanya mereka kaget menerima undangan pernikahanku, walau di saat yang sama ada juga yang bertanya kenapa aku memilih menikah nyentana, dan seperti biasa, karena aku malas menjelaskan panjang lebar, aku hanya menjawab sekenannya. Masa bodoh apakah mereka puas dengan jawabanku atau tidak.
Sore ini, aku akan melaksanakan upacara mepamit karena tidak lama lagi, prosesi pernikahan akan dilaksanakan.
Ketika aku baru saja keluar dari dapur membawa dupa dan bokor berisi bunga, bersamaan dengan itu Ibu juga baru selesai berpakaian dan mendampingiku ke merajan. Di sana sudah ada dua kakakku, kakak ipar beserta anak-anak mereka, keluarga besar yang lain, dan pendeta agama yang akan memimpin upacara tersebut.
Sejenak aku memandangi merajan keluargaku yang sejak kecil sudah terasa familiar. Setiap hari kami rajin membersihkannya tiga kali sehari: pagi, siang, dan sore.
Dulu ketika masih kecil, aku dan dua kakakku sering memungut bunga kamboja yang berjatuhan untuk kemudian dijemur. Namun ada kalanya, dua kakakku memanjat sampai dahan yang paling tinggi untuk memetik bunganya. Setelah kering, biasanya Bli Dirga akan menjualnya diam-diam ke pasar.
Ia biasa naik sepeda ke sana dan setelah dapat uang, ia membelikan cemilan untuk kami bertiga. Aku juga masih ingat bahwa dulu di merajan ini, kami diam-diam membakar belalang yang kami tangkap di halaman yang lain, kemudian memakannya setelah matang. Kalau ketahuan Ibu, biasanya kami kena marah karena tidak boleh main api.
Di sampingku, Ibu beberapa kali menghapus air matanya menggunakan tisu dan berusaha untuk menahannya selama upacara dilaksanakan.
Mantra-mantra mulai dilantunkan oleh kami dipimpin oleh pedanda. Kami mencakupkan tangan menggunakan bunga, kemudian diakhiri dengan pedanda yang meneteskan air tirta pada kami yang beraroma bunga, juga memberi bija–beras yang sudah didiamkan selama semalaman untuk dipakai di bagian dahi, dada, telinga, dan rambut.
Di seberang sana, beberapa kilometer dari rumahku, aku tahu bahwa Bungah sedang melaksanakan upacara Ngekeb. Ia dipingit selama sehari. Harapannya, para dewa di langit melindunginya dari segala macam bahaya yang mengintai, sebab esok ia sudah menikah, dan malam ini adalah malam terakhirku di rumah masa kecilku.
Barang-barangku sendiri sudah aku masukkan dengan rapih di koper-koper. Baju-baju dan beberapa buku–aku hanya membawa buku-buku yang belum sempat kubaca, sementara yang sudah selesai aku tinggalkan di kamarku.
Ibu sempat bilang bahwa aku harus menyisakan beberapa stel pakaian beserta parfum yang biasa aku pakai. Katanya, kalau ia kangen, ia bisa tidur di kamarku.
Aku ingin bilang padanya bahwa jarak rumahku dan Bungah tidaklah jauh. Kami berasal dari kabupaten yang sama, hanya saja beda desa. Mereka bisa datang ke griya baru kami kapan saja, tapi aku mengurungkan niat itu.
Kalau kau bertanya bagaimana perasaanku sekarang … jujur saja aku masih berat meninggalkan griya ini.
Apalagi, aku sudah punya ruang khusus yang terpisah dari rumah utama, yaitu studio pribadi yang biasa aku gunakan untuk menulis atau menggambar. Beberapa buku sudah aku hasilkan selama berdiam diri di sana dan hanya keluar ketika aku lapar, butuh jalan-jalan sebentar, atau ketika ingin buang air.
Setelah melaksanakan upacara mepamit, kami mengobrol sebentar dengan pedanda sebelum mengantarnya ke gerbang griya karena mobil yang menjemputnya sudah tiba.
Lalu kami masuk ke dalam rumah untuk makan malam bersama. Dua kakakku sebenarnya sudah dibuatkan rumah sendiri di samping rumah orang tuaku, tapi setiap makan malam, kami semua berkumpul di rumah orang tua. Bukan karena tidak bisa makan sendiri dengan keluarga inti, tapi karena Ibu yang lebih suka meja makan terasa ramai daripada hanya makan berdua saja dengan Aji.
“Barang-barangmu sudah dikemasi semua, Tu Gus?” Aji bertanya di sela-sela makan malam kami.
“Sudah, Aji.”
“Pastikan jangan ada yang tertinggal.” Ia menambahkan dan aku mengangguk, walaupun kalau ada yang tertinggal pun ia tidak akan marah dan tetap mengantarkannya.
Beberapa kali kulihat Ibu berusaha menghapus air matanya dimana Bli Ngurah mengangsurkan tisu dan Bli Dirga yang memeluknya. Aku hanya diam terpaku--tidak tahu harus berbuat apa.
Makan malam selesai begitu saja dan aku langsung ke kamar untuk bisa melanjutkan beberapa tulisan yang harus aku kirim ke media nasional malam ini sebab editor sudah menanyakannya.
Lagipula, aku juga harus bangun pagi-pagi sekali. Pukul tiga aku sudah harus sampai di griya Bungah. Walaupun aku tidak dirias, tapi aku datang lebih awal untuk menata barang bawaanku di sana. Sementara itu, Bungah bahkan harus bangun lebih pagi pagi, mungkin jam dua karena ia harus merias diri.
“Masuk,” kataku ketika pintu kamar diketuk pelan beberapa kali.
Ibu muncul membawakan buah semangka dan apel yang sudah dipotong kecil-kecil. Aku tersenyum kecil dan bilang terima kasih.
“Masih harus kerja?”
“Iya, Bu. Cuma tinggal menyelesaikan beberapa tulisan. Setelah itu aku tidur.”
Ibu mengangguk lalu duduk di tepian kasurku. Kami saling diam dan hanya terdengar suara keyboard laptopku yang memecah keheningan.
“Nanti jangan lupa kirimkan Ibu hasil foto pre-weddingmu sama Bungah. Mau Ibu cetak supaya bisa dipajang di kamarmu dan di ruang tamu.”