We Can Finally Call It Home

Ida Ayu Saraswati
Chapter #9

Chapter 9

Sepuluh menit sebelum jam tiga pagi, aku sudah sampai di griya Bungah.

Kebetulan ketika sampai di halaman, aku langsung bertemu dengan Ibunya. Ia menyapaku dengan ramah, kemudian mengajakku ke dapur. Di sana aku diberi kopi hitam panas dan sepiring penuh roti untuk mengganjal perut sekalipun di rumah tadi aku sudah sarapan (yang bahkan terlalu pagi untuk disebut sarapan).

Langit Bali masih gelap. Lima ekor anjing menggonggong di sekitar kakiku sambil mengendus-endus. Ibunya Bungah berusaha mengusir mereka supaya tidak mengganggu, sambil memanduku untuk menyimpan barang-barangku ke rumah yang baru. Rumah yang akan segera aku tempati bersama Bungah. Kami menyebutnya sebagai griya anyar.

Aku hanya membawa dua koper besar dan satu tas gunung milik Bli Ngurah yang sudah jarang dipakai karena ia mulai jarang naik gunung semenjak punya anak sebab harus membagi waktu untuk mengurusnya bersama kakak iparku.

"Nggak usah terlalu rapi menata barangnya, Nak. Bisa dirapikan nanti saja kalau acaranya sudah selesai. Nanti setelah sarapan langsung ke rumah Ibu ya supaya kamu bisa segera ganti pakaian."

"Terima kasih, Bu,” kataku. "Bungah... Di rumah Ibu juga?"

"Iya. Dia lagi mepayas. Kalau gitu, Ibu tinggal dulu ya."

Aku mengangguk dan mulai mengeluarkan baju-baju dari koper untuk kemudian menatanya dengan cepat di lemari yang satu karena lemari yang satunya sudah lebih dulu diisi dengan pakaian Bungah. Ukuran kamar ini dua kali lipat lebih besar daripada kamarku sendiri. Saking luasnya, aku merasa kalau ruang yang tersisa cukup mengganggu karena membuatku canggung walau tidak ada siapapun di sini.

Setelah menata pakaianku yang memang tidak banyak karena yang lama masih muat semua, aku langsung memindahkan buku-bukuku ke rak buku di pojok ruangan, yang mana di sana juga sudah ada beberapa koleksi buku bacaan Bungah.

Setelah selesai, aku menuju rumah orang tua Bungah yang letaknya memang berdekatan dengan rumah kami dan rumah adik perempuan Bungah yang sudah disiapkan kalau nanti ia menikah.

Ketika matahari sudah mulai terang, halaman griya mulai kelihatan hidup dengan keluarga Bungah yang berlalu lalang untuk mengecek sesajen dan keperluan pernikahan lainnya–memastikan tidak ada yang tertinggal. Di beberapa tiang bale, kain-kain prada emas digantung, sementara kain merah marun dan hitam dibiarkan menjuntai lembut di bagian belakang pelaminan yang berisi satu kursi panjang khusus yang sudah dihias. Di antara kain-kain itu terselip rangkaian bunga kamboja putih dan cempaka kuning, membuat seluruh tempat terlihat sakral sekaligus segar. Foto pre-wedding kami yang mengusung tema Bali zaman dulu dengan warna foto cenderung sephia, dipajang di gerbang masuk, beberapa sudut meja para tamu, dan di dekat pelaminan, berdampingan dengan bunga-bunga kertas yang sudah disemprot parfum aroma melati bercampur teh.

Aku berdiri di salah satu sisi halaman dengan pakaian pengantinku yang sudah lengkap. Kelihatan canggung, tapi untunglah beberapa orang berusaha mengurangi kegugupanku dengan mengajakku mengobrol. Tak lama, orang-orang yang nantinya akan memainkan gamelan dan menyanyikan kidung Bali sudah datang. Aku termasuk salah satu yang menyambut kedatangan mereka untuk kemudian diarahkan pada salah satu bale yang memang dikhususkan untuk mereka.

Ida Peranda kemudian datang beberapa menit setelah para penabuh tiba di griya, yang mana beliau masih satu keluarga dengan keluarganya Bungah. Anggota keluarga Bungah menyambutnya dengan ramah, beberapa membawakan perlengkapannya, dan mengarahkan beliau untuk duduk di bale yang ada di rumah adat untuk mulai bersiap.

Beskap hitam yang kupakai terasa jauh lebih pas dibandingkan saat fitting. Bahunya tegap, kancing emas kecilnya berkilau di dada. Di pinggangku terikat kamen songket hitam bermotif emas, dilapisi saput merah marun yang jatuh lurus sampai lutut. Selendang prada emas melingkar di pinggangku, simpulnya rapi.

Di tengah aroma dupa dan bunga yang bercampur dengan suara genta dari sulinggih, Elok menepuk bahuku, menyuruhku untuk berjaga di depan rumah orang tuanya Bungah karena ia sudah selesai dan aku harus membantunya turun mengingat kamen yang ia kenakan sangat ketat.

Ketika Bungah membuka pintu kayu yang menampakkan ukiran Bali yang rumit, pandangan para tamu yang sudah mulai berdatangan sambil membawa bokor, langsung terarah padanya.

Tanpa sadar, aku mulai menahan napas.

Dengan langkah yang pelan, Bungah perlahan muncul dengan riasan lengkap dan baju pengantin yang kelihatan sangat pas di tubuhnya.

Kemben songket merah marun membungkus tubuhnya yang semampai. Kemben itu dihiasi motif prada emas yang membentuk pola bunga dan sulur tradisional Bali. Apabila terkena cahaya matahari pagi, warna emas pada pola kembennya memantulkan kilau yang kelihatan indah.

Di bagian bawah, Bungah mengenakan kamen songket hitam, masih dengan motif emas yang membuat warnanya lebih menyala, dengan panjang yang nyaris menyentuh kaki. Sabuk prada emas juga terikat di pinggangnya, membuat siluet tubuhnya jadi lebih tegas.

Dan yang membedakan Bungah saat fitting baju kemarin dengan yang sekarang adalah riasan wajah dan riasan kepala. Ia mengenakan payas agung, dengan tusukan bunga emas yang dirangkai sedemikian rupa menyerupai mahkota besar–yang semakin ke atas semakin mengerucut. Kalau ia berbalik ke belakang, di belakangnya pun masih dihiasi dengan bunga-bunga cempaka dan kantil yang segar–perpaduan warna hijau dan kuning di antara gelungan rambutnya yang hitam legam--membuat warna bunga-bunga itu semakin keluar.

Ia mengenakan lebih banyak asesoris dibanding aku. Pada telinganya dipasang sepasang subeng emas yang berbentuk bundar dengan ukiran halus khas Bali, berwarna emas dan bertatahkan permata buatan berwarna merah marun di bagian tengahnya, sementara di bagian pinggiran subeng didominasi warna hijau zamrud yang kontras dengan warna emas sebagai warna dasar. Bedong emas–kalung lebar yang menutup sebagian dadanya melingkar di leher Bungah, juga beberapa lapis kalung emas panjang lainnya yang dibiarkan jatuh sampai di bagian atas kembennya. Gelang kana emas menghiasi pergelangan tangan dan juga lengannya–membuatnya tampak seperti dewi dari kerajaan Bali Kuno.

Beberapa orang saling bersahutan memuji betapa cantiknya ia hari ini, dan walaupun aku tidak mengatakannya secara langsung, tapi diam-diam aku setuju. Bungah memang cantik sekali hari ini. Pembawaannya juga tenang, walaupun mungkin saja ia berusaha menjadi tenang untuk menutupi kegugupannya.

Pandangan mata kami bertemu, dan Bungah mengalihkan pandangannya sambil menunduk, tapi bibirnya tidak bisa bohong kalau ia sedang menahan senyum. Mungkin ia sedang merasa geli karena yang mendampinginya di pelaminan adalah aku–orang yang belum lama dikenal, tapi langsung menyatakan siap untuk menikahinya. Aku tidak tahu apakah Bungah merasa lega menemukanku sebagai pendampingnya di pelaminan nanti atau tidak atau dia malah biasa saja.

Tanpa sadar aku jadi melamun, sehingga Elok harus menepuk pundakku agak keras supaya aku sadar dan mengulurkan tangan ke arah Bungah yang akan menuruni tangga rumahnya. Beberapa orang yang berdiri di sebelahku jadi sedikit bersorak karena aku sempat melamun mengamati kecantikan Bungah dalam balutan baju pengantinnya.

Dalam sekejap, suara kamera mereka terdengar bersahutan, bersamaan dengan sorakan orang-orang yang menyatakan bahwa kami berdua terlihat seperti sepasang pengantin yang serasi–seolah memang sudah ditakdirkan untuk menikah oleh para dewa.

Beberapa temanku yang sudah datang menepuk lenganku beberapa kali. Aku tidak mendengar apa yang mereka katakan karena sibuk dengan pikiranku sendiri, tapi untungnya aku masih mampu meresponnya dengan senyuman.

Sampai detik ini, ketika aku benar-benar menggandeng Bungah untuk melakukan ritual pernikahan, aku masih bertanya-tanya konsep mengenai jodoh.

Dulu saat masih kuliah, aku iseng bertanya pada salah satu guru agama Hindu. Sederhana saja pertanyaanku: gimana kita bisa tahu kalau seseorang adalah jodoh kita? Dan jawabannya masih aku ingat sampai sekarang.

“Sepasang kekasih diyakini sebagai jodoh ketika mereka berdua sudah siap melangkah ke pelaminan dan benar-benar mewujudkannya, dalam artian… mereka betulan menikah. Mereka juga disebut jodoh ketika bisa mempertahankan rumah tangga mereka, beserta kehidupan di dalamnya, untuk waktu yang lama. Itu namanya jodoh, Raka.”

Aku melirik Bungah yang tampak tersenyum malu-malu ke arah beberapa temannya yang mengarahkan kamera ponsel mereka ke arah kami, sementara ia masih mengamit lenganku erat, dan kami berjalan pelan-pelan menuju rumah adat.

Kalau definisi jodoh memang seperti itu, apakah perempuan di sebelahku adalah orang yang tepat? Atau … apakah aku orang yang tepat untuknya?

Sayangnya, kami baru bisa menemukan jawabannya setelah pernikahan ini berlangsung. Ketika kami mulai tinggal satu atap dan berumah tangga.

Bungah bilang, semoga saja pernikahan ini bisa jadi yang terakhir untuknya. Tapi aku belum punya harapan apa-apa untuk fase ini. Maksudku–kalau di tengah jalan nanti perpisahan adalah solusi terbaik untuk kami, maka aku akan melakukannya. Tapi kalau pernikahan ini berhasil melewati serangkaian ujian dan bertahan selama yang dimungkinkan, maka aku tidak keberatan untuk tetap ada di dalamnya.

Lihat selengkapnya