Malam pertama kami berlangsung canggung.
Aku membiarkan Bungah berganti pakaian dan menghapus riasannya di kamar kami dibantu dengan adik dan Elok–salah satu sepupunya yang kebetulan belum tidur. Sementara itu, aku mengganti pakaian di kamar mandi yang ada di luar dekat dapur, sekaligus mandi.
Setelah mandi, aku tidak langsung kembali ke kamar, melainkan duduk-duduk di teras sambil memperhatikan halaman griya yang sudah sepi. Pemandangan halaman griya ini berbeda dengan griya lamaku.
Di sini lebih banyak bunga-bunga, pohon mangga, dan bahkan rambutan ditanam di halaman tanpa ragu–memberikan kesan rimbun dan hijau. Sementara di rumah lamaku, lebih banyak kolam ikan, air mancur, bonsai, dan kandang-kandang besar untuk burung-burung peliharaan.
Rumahku di pinggir jalan besar, jadi ketika ada kendaraan yang lalu lalang, lantai rumah kami selalu bergetar. Dulu, saat masih kecil, aku sering terbangun karena mengira ada gempa, tapi setelah terbiasa, aku malah tidak bisa membedakan mana yang gempa kecil atau getaran karena kendaraan besar sedang melintas. Dan saat malam pangrupukan setelah orang-orang mengarak dan membakar ogoh-ogoh, jalanan besar di depan rumahku sepi total. Hanya satu-dua kendaraan yang melintas. Aku dan saudara yang lain bahkan sampai bisa tiduran di jalanan besar itu sambil makan kacang dan menyalakan petasan.
Tapi, griya Bungah terletak di dalam gang seperti perumahan dengan jajaran rumah tradisional Bali saling berhadapan sehingga suasananya sangat sepi. Di sini aku tidak akan merasakan lantai kamar yang bergetar karena kendaraan besar melintas, tidak juga mendengar suara kodok-kodok yang menyeberangi jalanan di depan rumahku dilindas oleh truk-truk besar sehingga menghasilkan bunyi seperti sebuah biji padat berisi daging pecah saling bersahutan. Aku juga tidak akan menemukan bangkai tikus, ular, atau kodok ketika menyapu halaman dekat gerbang rumahku. Di sini aku hanya akan menemukan parit yang di atasnya berlapis rumput teki dan bertatahkan bunga kamboja yang berjatuhan dengan kelopak yang besar-besar karena tidak ditanam di pot.
Entah sudah berapa lama aku melamun, tapi yang jelas, aku mendengar langkah seseorang keluar dari rumah. Kupikir itu adalah Elok, rupanya Bungah yang membawa perlengkapan mandi. Wajahnya kelihatan segar, walaupun jelas sekali ia lelah. Dan Bungah yang tanpa riasan kelihatan jauh lebih polos.
“Udah mandi?” tanyanya.
“Udah, tadi. Mau dibuatkan air hangat?”
“Nggak usah, aku nggak biasa mandi air hangat kalau malam. Lebih segar air dingin.”
Ia kemudian menghilang di balik pintu bilik kamar mandi yang kedua. Tak lama setelah itu, Elok keluar dan kembali ke rumahnya. Aku sempat ragu apakah harus menunggu di sini sampai Bungah selesai mandi atau tidak, barangkali dia butuh sesuatu, tapi bisa jadi dia tambah canggung ketika tahu aku masih menunggunya mandi. Dan setelah berpikir lumayan keras, aku putuskan untuk menunggu di kamar saja.
Ketika pintunya aku dorong, tampaklah tumpukan kado pernikahan kami yang diletakkan dalam dua bak kontainer ukuran besar. Aku agak kaget sebab ini kali pertama melihat tumpukan kado sebanyak ini. Merasa tidak enak kalau harus membuka kado-kado itu tanpa Bungah, aku memilih merebahkan tubuh di kasur. Ketika punggungku yang pegal dan kaku bertemu empuknya kasur, otot-ototku terasa dimanjakan.
Ketika aku setengah tertidur, aku mendengar seseorang masuk. Mataku langsung terbuka dan Bungah sudah duduk di meja riasnya sambil mengeringkan rambut panjangnya menggunakan pengering rambut. Ia mengenakan celana training abu-abu dan kaos polos warna putih yang pas di tubuhnya yang ramping. Pandangan kami tidak sengaja bertemu, dan aku langsung mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
Untungnya menjelang acara usai tadi kami sempat makan, jadi malam ini bisa langsung istirahat.
Salah satu tamu tadi ada yang bercanda, ia bilang kalau kami sengaja makan lebih awal karena malam ini adalah malam pertama kami. Supaya kami tidak lapar saat melakukannya. Saat itu, aku dan Bungah hanya saling pandang dan entah kenapa jadi sama-sama menahan tawa sebab Ibu itu heboh sendiri dengan beberapa temannya akibat leluconnya sendiri.
Sial. Siapa pula yang pertama kali mencetuskan bahwa malam pertama pernikahan identik dengan hubungan badan? Bagaimana orang zaman dulu melalui malam pertama mereka sebagai pengantin ketika mereka menikah bukan karena cinta?
Lamunanku buyar ketika Bungah mematikan lampu dan naik ke sisi sebelah tempat tidur. Cahaya yang menyinari kamar kami hanya berasal dari cahaya lampu rumah sebelah.
Dalam keadaan yang agak gelap itu, tangan kami tidak sengaja bersentuhan dan kami langsung bereaksi berlebihan. Bungah tercekat kaget dan refleks minta maaf, sementara aku hanya berdehem dan mengubah posisiku sedikit menjauh supaya memberinya ruang yang cukup.
Kami hanya menatap langit-langit kamar yang terbuat dari kayu jati--yang sebenarnya tidak kelihatan apa-apa karena cahayanya remang. Kantuk yang seharusnya datang lebih cepat, entah kenapa malam ini enggan menghampiri kami. Padahal tadi di pelaminan, mata kami rasanya sangat berat.
"Ternyata kalau lampunya dimatikan gini lebih nyaman," ujar Bungah yang dari nadanya, aku bisa mendengar bahwa ia sedang tersenyum canggung. "Karena kita nggak bisa lihat muka masing-masing secara jelas, jadi nggak terlalu... Apa ya? Intimidatif? Kita jadi bisa lebih... Rileks." Aku merasakan ia menoleh sekilas ke arahku, sebelum membuang pandangan ke arah lain.
Aku tidak tahu apakah Bungah juga merasakan hal yang sama, tapi sejak tadi ketika ruangan ini hanya diisi aku dan dia, dadaku bergemuruh cepat seolah di dalam sana ada ribuan pasukan tentara yang sedang menginjak-injak dadaku di saat yang sama.
"... Memang lebih baik lampunya dimatikan,” kataku, dan beberapa detik kemudian, aku menyadari kebodohan dalam kata-kataku. Kalimat macam apa itu? Aku saja geli ketika sadar baru saja mengatakannya pada Bungah. Di saat yang seperti ini, aku tidak boleh salah kata atau aku akan meninju wajahku sendiri.
Padahal tadi Bungah banyak bicara dan aku lebih banyak mendengarkan walau sesekali menanggapinya dengan pertanyaan--memancing Bungah bercerita lebih banyak. Tapi sekarang, ketika di ruangan ini hanya ada kami, ia kehabisan topik pembicaraan. Aku pun sama.
Padahal di dalam kepalaku ada banyak pertanyaan untuk Bungah selama fase penerimaan dan pengenalan ini, tapi mau sebanyak apapun pertanyaan itu bercokol di otakku, tak ada satu pun yang bisa aku utarakan.